Utsman Dzun Nurain

BUMI Tha`if -yang subur- menjadi saksi bisu kelahirannya. Dirinya berasal dari klan terhormat dan kaya: Bani Umayyah. Ayahnya meninggal saat usianya masih belia, sehingga ia mewarisi banyak harta (Abbas al-‘Aqqad, `Abqariyyatu Utsman, 52). Pada masa jahiliah ia dikenal dengan sebutan  “Abu Laila” karena kelembutan dan keindahan perangainya (Mushthafa Murad, al-Khulafā al-Rāsyidūn, 393).

Sebelum Islam, sosok pemuda ini menjadi penyembah berhala. Meski begitu, ia dikenal memiliki keluhuran budi sejak kecil. Kedermawanan dan kelembutan hatinya tidak ada yang memungkiri. Ia juga dikenal pemalu, penyabar dan toleran. Wajahnya pun, tergolong rupawan pada zamannya.

Pada saat fajar Islam mulai menyingsing, Abu Bakar –sebagai sahabat- menawarkan Islam kepadanya. Tanpa membutuhkan waktu lama, akhirnya ia  jatuh hati saat itu juga. Menjadi manusia baru. Terbebas dari ‘kubangan hitam’ jahiliah yang menenggelamkan nurani. Meminjam istilah Qa’qa’ bin ‘Amir, pemuda ini telah terbebas dari tirani penyembahan berhala, menuju peribadatan kepada Allah subhanahu wata’ala semata.

Pasca keislaman, sahabat yang kaya ini menjadi semakin dermawan: ketika berinfak, ia tak segan mengeluarkan semua hartanya (seperti: pada perang Tabuk); saat umat Islam di Madinah dilanda kesulitan air, ia membeli sumur Roma. Beliau menjadi orang ketiga yang paling dicintai nabi. Kedua anak Rasul pun dinikahkan dengan dirinya (karenanya ia dijuluki: Dzun Nurain, pemilik dua cahaya). Dialah Utsman bin `Affan radhiyallahu `anhu.

Di antara sikap hidupnya yang sangat khas dan patut diteladani ialah: lembut, tidak memilih jalan kekerasan dalam menyelesaikan masalah, toleransi yang tiada tanding, memiliki kepedulian sosial yang tinggi, lebih menjunjung tinggi kepentingan umat dari pada kepentingan pribadi, dan totalitas dalam memperjuangkan idealisme Islam.

Sepeninggal Umar, beliau mengemban amanah berat menjadi khalifah. Mandat ini dilaksanakan  dengan sa
ngat baik. Di antara prestasinya ialah: pengumpul (pengkodifikasi) al-Qur`an menjadi satu rasam mushaf, pendiri angkatan laut, meluluskan perang Cyprus, melakukan banyak futūhāt (gerakan pembebasan) yang besar.

Di akhir kekhilafaannya (35 H) terjadi pemberontakan besar. Ia dituduh melakukan tindakan tidak baik, seperti: nepotisme dan lain sebagainya. Ia sudah berusaha mengklarifikasi, serta mematahkan tuduhan-tuduhan miring yang disematkan pada dirinya. Namun kondisi semakin parah dan tak terkendali.

Pada akhirnya ia menjadi syahid. Ia lebih memilih mengorbankan diri, daripada pertumpahan darah umat. Jemari tangan Na`ilah sampai putus karena menghalau pedang yang ditebaskan para pemberontak pada suaminya. Ia meninggal dalam kondisi berpuasa dan membaca al-Qur`an.

Ia mendapatkan syahid sejati. Syahid, yang mampu memadukan iman, dan amal shalih. Bukan sekadar kata menawan yang penuh pamrih.            Mengenai syahidnya Utsman, nabi memberi kesaksian, ketika beliau shallallahu `alaihi wasallam bersama beberapa sahabatnya berada di gua Hira.  Tiba-tiba, batu yang dipijak berguncang. Rasul pun berujar, “Tenangkan dirimu (wahai gunung)! Karena di atasmu ada nabi, Abu Bakar As-Shiddiq, serta orang syahid” (HR. Muslim). Gunung itu pun berhenti seketika. Syahid di sini adalah Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu.

Membaca larik demi larik sejarahnya, tidak berlebihan jika Utsman mendapatkan penghargaan luar biasa. Nabi Muhammad shallallahu `alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya Utsman menjadi teman dekatku di surga” (Hr. Hakim). Demikianlah, gambaran mengagumkan dari seorang Dzun Nurain.

Sebarkan Kebaikan!