Ustadz Jasir: Umat Islam Benteng NKRI

JOGJAKARTA (AQLNEWS) – Persiden Soekarno pernah berkata, “Jangan sekali-kali lupakan sejarah”. Demikian kata pembuka yang disampaikan Ketua Dewan Syura Masjid Jogokariyan, Ustadz Muhammad Jasir pada acara Tabligh Akbar Kampoeng Ramadhan di Jogokariyan, Jogjakarta, baru-baru ini.

Ribuan jamaah tampak hadir membanjiri Masjid Jogokariyan pagi itu, Ahad (28/5/17). Duduk sebagai pembicara bersama Ustadz Jasir, Pimpinan AQL Islamic Center KH Bachtiar Nasir dan Wakil Ketua DPR RI Fahri Hamzah. Sebelum acara dimulai, panitia mengumumkan bahwa acara itu tidak disiarkan lewat live streaming sebagai kesepakatan panitia dan aparat keamanan. Namun, Fahri Hamzah menentang imbauan itu dan meminta agar peserta menyiarkannya lewat akun media sosial masing-masing. Fahri beralasan, apa yang disampaikan oleh Ustadz Jasir sangat penting bagi bangsa ini dalam pelurusan sejarah. Bahkan, dia menilai pemerintah perlu mendengarkan paparan Ustadz Jasir mengenai keterkaitan Islam dan NKRI itu.
Seperti apa paparan sejarah yang diungkapkan Ustadz Jasir ini? Berikut ini petikannya, selamat menyimak.

Napas kemerdekaan mulai diembuskan pada tahun 1903 ketika deni auclair melaksanakan kongres di Lampah. Dalam kongres itu dihadirkan utusan dari khalifah Ustmani, Muhammad Amin Ubaid. Dari kongres di Lampah itu muncul satu kesepakatan “Kaum muslimin haram tunduk pada penguasa kafir”. Percikan api kemerdekaan mulai bergulir sehingga pemerintahan Hindia Belanda mengeluarkan sabrag nomor 26 tahun 1903, pertama, melarang kedatangan orang-orang Arab ke Indonesia karena dianggap memprovokasi. Kedua, melarang para Sultan dan raja-raja Islam pergi berhaji. Ketiga, orang yang pulang dari ibadah haji harus mencantumkan gelar haji di depan namanya supaya bisa diawasi. Inilah caratan sejarah kenapa orang Indonesia mencantumkan gelar haji di depan namanya.

Setelah keluarnya peraturan itu, muncullah gerakan perlawanan. Mulai dari Solo, Samanhudi mendirikan Serikat Dagang Islam, Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah, Ahmad Surkati mendirikan Al-Irsyad Al-Islamiyyah, Abdul Halim Majalengka mendirikan Persatuan Umat Islam, kemudian NU didirikan di Surabaya. Akan tetapi, identitas negara ini dirumuskan dalam Emciko yang dilaksanakan oleh serikat Islam pada tahun 1913 ditetapkan bahwa, identitas bangsa dan Negara ke depan adalah Indonesia dan Islam.
Identitas ini sudah dikenal oleh dunia dan Indonesia masuk organisasi negara-negara Islam. Identitas Indonesia adalah berpenduduk muslim.

Pada tanggal 9 Ramadan 1364 H atau 17 Agustus 1945 M, kemerdekaan Indonesia diproklamirkan. Bung Karno ketika ditanya oleh Sindedns, “Kenapa tuan memilih tanggal 17” Bung Karno menjawab, “17 adalah angka ramah karena al-Qur’an turun pada tanggal 17 Ramadhan dan kami shalat sehari semalam 17 rakaat. Aku pilih hari jum’at karena itu adalah hari yang paling mulia dan lebih menjanjikan kemanusiaan”.

Maka jelas bahwa umat Islam yang mendirikan negara ini. Umat Islam yang mendirikan dan umat Islam yang mempertahankan, maka kita yang harus merawat dan menjaga NKRI ini untuk sampai pada tujuannya, melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut menjaga ketertiban dunia berdasarkan program yang abadi dan keadilan sosial. Tujuan negara ini menjadi tanggung jawab umat Islam untuk mengawalnya.

Tetapi, proklamasi baru pernyataan kemederkaan maka Bung Hatta mengingatkan pada tahun 1931, untuk apa kita merdeka kalau merdeka itu hanya mengganti pejabat-pejabat asing dengan pejabat bumi putra. Orang-orang kecil masih sengsara. Kemerdekaan bukan hanya mengganti pejabat asing dengan bumi putra tetapi kemerdekaan adalah agar kita menjadi tuan di negeri kita sendiri.

Apakah hari ini orang kecil masih hidup susah? Masihkan menjadi budak di negeri sendiri? Berarti kita belum merdeka menurut Bung Hatta. Kita masih berdiri di depan pintu kemerdekaan. Perjuangan pergerakan bangsa Indonesialah yang mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan. Sekarang tidak hanya menjadi budak di negeri sendiri tapi ada juga rakyat Indonesia yang menjadi budak di negara lain, karena kemiskinan di negeri sendiri. Berarti kita belum merdeka. Kemerdekaan yang sesungguhnya itu hanya bisa diraih melalui masjid. Karena merdeka yang sesungguhnya kalau mesjid sudah makmur. Allah SWT berfirman:

إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلَّا اللَّهَ ۖ فَعَسَىٰ أُولَٰئِكَ أَنْ يَكُونُوا مِنَ الْمُهْتَدِينَ

“Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. at-at-Taubah: 18)

Kemerdekaan itu ketika rasa takut sudah tidak ada lagi di tengah masyarakat dan umat, dan itu hanya bisa terjadi jika masjid makmur. Maka hanya orang mesjidlah yang bisa merdeka dan memerdekakan.

Sebanyak 900 ribu masjid di Indonesia, menurut data Kementerian Agama, tersebar di 17.480 dan tersebar di 74.524 desa. Jika ingin merubah Indonesia maka harus dimulai dari masjid. Jika 15 masjid yang ada di satu desa memilih kepala desa yang bertakwa, maka Insya Allah, Indonesia bisa berubah. Kira-kira 2 ribu masjid menyiapkan wali kota yang bertakwa maka kabupaten/ kota sudah berubah. Jika sekitar 7 ribu masjid menyiapkan seorang gubernur maka provinsi sudah berubah, dan 900 ribu masjid menyiapkan seorang presiden, maka negara ini akan berubah. *muhajir

Sebarkan Kebaikan!