Artikel

Urin Unta, Najis atau Tidak?

Pada akhir-akhir terjadi pro dan kontra terkait dengan hukum meminum urin unta. Bagaimanakah pendapat para ulama terkait masalah tersebut, apakah halal atau haram?

Sebelum membahas hukum mengkonsumsi air kencing unta untuk obat, perlu dijelaskan terlebih dahulu tentang status air kencing unta, apakah suci atau najis ?

Masalah Pertama : Hukum Air Kencing Unta dan Binatang-binatang lainnya yang halal dimakan dagingnya

Berikut pendapat para ulama terkait masalah tersebut :

Pendapat pertama : Air kencing unta dan Binatang-binatang lainnya yang halal dimakan dagingnya adalah suci. Ini adalah pendapat Muhammad bin Hasan sahabat Abu Hanifah, pendapat ulama’ madzhab Maliki, Ibnu Khuzaimah dan ar-Rauyani dari kalangan ulama madzhab Syafi’i, dan juga ulama’ madzhab Hanbali.
Dalil-dalilnya adalah sebagai berikut :

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَدِمَ أُنَاسٌ مِنْ عُكْلٍ أَوْ عُرَيْنَةَ فَاجْتَوَوْا الْمَدِينَةَ فَأَمَرَهُمْ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِلِقَاحٍ وَأَنْ يَشْرَبُوا مِنْ أَبْوَالِهَا وَأَلْبَانِهَا فَانْطَلَقُوا فَلَمَّا صَحُّوا قَتَلُوا رَاعِيَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَاسْتَاقُوا النَّعَمَ فَجَاءَ الْخَبَرُ فِي أَوَّلِ النَّهَارِ فَبَعَثَ فِي آثَارِهِمْ فَلَمَّا ارْتَفَعَ النَّهَارُ جِيءَ بِهِمْ فَأَمَرَ فَقَطَعَ أَيْدِيَهُمْ وَأَرْجُلَهُمْ وَسُمِرَتْ أَعْيُنُهُمْ وَأُلْقُوا فِي الْحَرَّةِ يَسْتَسْقُونَ فَلَا يُسْقَوْنَ

Dari Anas bin Malik berkata, “Beberapa orang dari ‘Ukl atau ‘Urainah datang ke Madinah, namun mereka tidak tahan dengan iklim Madinah hingga mereka pun sakit. Beliau lalu memerintahkan mereka untuk mendatangi unta dan meminum air kencing dan susunya. Maka mereka pun berangkat menuju kandang unta (zakat), ketika telah sembuh, mereka membunuh pengembala unta Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan membawa unta-untanya. Kemudian berita itu pun sampai kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelang siang. Maka beliau mengutus rombongan untuk mengikuti jejak mereka, ketika matahari telah tinggi, utusan beliau datang dengan membawa mereka. Beliau lalu memerintahkan agar mereka dihukum, maka tangan dan kaki mereka dipotong, mata mereka dicongkel, lalu mereka dibuang ke pada pasir yang panas. Mereka minta minum namun tidak diberi.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadist di atas menunjukan bahwa air kencing unta tidak najis, karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan ‘Urayinin yang terkena sakit untuk berobat dengan meminum air susu dan air kencing unta. Jika air kencing unta najis, maka nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak akan merekomendasikannya. Dalam shahih Bukhari disebutkan bahwa Ibnu Mas’ud berkata,

Sesungguhnya Allah tidak menjadikan kesembuhan kalian dari sesuatu yang diharamkan kepada kalian.”

Beliau tidak akan menyuruh untuk meminum sesuatu yang najis. Adapun air kencing hewan-hewan lain yang boleh dimakan juga tidak najis dengan mengqiyaskan kepada air kencing unta.

عَنْ أَنَسٍ قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي قَبْلَ أَنْ يُبْنَى الْمَسْجِدُ فِي مَرَابِضِ الْغَنَمِ

Dari Anas berkata, “Sebelum masjid dibangun, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat di kandang kambing.” (HR. Bukhari) 

Dibolehkan sholat di dalam kandang kambing menunjukkan bahwa kencing kambing tidak najis, karena kemungkinan besar kandang kambing sudah terkontaminasi dengan kencing kambing dan kotorannya.

Pendapat kedua : Air kencing unta dan Binatang-binatang lainnya yang halal dimakan dagingnya adalah najis. Ini adalah pendapat Abu Hanifah dan Abu Yusuf, dan pendapat ulama madzhab Syafi’i.
Dalil-dalilnya adalah sebagai berikut :
Firman Allah subhanahu wa ta’ala :

(وَإِنَّ لَكُمْ فِي الأَنْعَامِ لَعِبْرَةً نُسْقِيكُمْ مِمَّا فِي بُطُونِهِ مِنْ بَيْنِ فَرْثٍ وَدَمٍ لَبَنًا خَالِصًا سَائِغًا لِلشَّارِبِينَ( [النحل: 66]

Dan sesungguhnya pada binatang ternak itu benar-benar terdapat pelajaran bagi kamu. Kami memberimu minum dari pada apa yang berada dalam perutnya (berupa) susu yang bersih antara tahi dan darah, yang mudah ditelan bagi orang-orang yang meminumnya. (an-Nahl : 66)

Ayat di atas menunjukkan bahwa Allah subhanahu wa ta’ala memberikan karunia kepada kita dengan mengeluarkan susu di antara kotoran dan darah. Dan faedah dari karunia tersebut adalah keluarnya sesuatu yang suci dari dua hal yang najis.

Keumuman hadits berikut :

عن أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَامَ أَعْرَابِيٌّ فَبَالَ فِي الْمَسْجِدِ فَتَنَاوَلَهُ النَّاسُ فَقَالَ لَهُمْ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَعُوهُ وَهَرِيقُوا عَلَى بَوْلِهِ سَجْلًا مِنْ مَاءٍ أَوْ ذَنُوبًا مِنْ مَاءٍ فَإِنَّمَا بُعِثْتُمْ مُيَسِّرِينَ وَلَمْ تُبْعَثُوا مُعَسِّرِينَ

Abu Hurairah berkata, “Seorang Arab badui berdiri dan kencing di Masjid, lalu orang-orang ingin mengusirnya. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pun bersabda kepada mereka: “Biarkanlah dia dan siramlah bekas kencingnya dengan setimba air, atau dengan seember air, sesungguhnya kalian diutus untuk memberi kemudahan dan tidak diutus untuk membuat kesulitan.” (HR. Bukhari)

Hadits di atas menunjukkan kenajisan dari air kencing manusia, dan air kencing binatang dianalogikan dengannya. Adapun hadits yang menjelaskan tentang anjuran Nabi meminum air kencing unta tidak bisa dijadikan hujjah karena itu dalam kondisi membutuhkan.
Firman Allah subhanahu wa ta’ala :

(وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبَائِثَ( [الأعراف : 157]

dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk (al-A’raf : 157)

Imam Nawawi menjelaskan di dalam al-Majmu’ bahwa orang Arab menganggap buruk air kencing binatang. Dan kenajisan air kencing binatang yang bisa dimakan adalah berdasarkan kemutlakan hadits di atas dan juga berdasarkan qiyas dengan darah binatang yang bisa dimakan yang hukumnya adalah najis. Sedangkan hadits yang menjelaskan tentang dibolehkannya sholat di kandang kambing adalah bukan karena masalah najis, tapi karena kambing lebih tenang dari pada unta.

Kesimpulan : masalah tentang suci atau tidaknya air kencing binatang yang bisa dimakan merupakan masalah khilafiyyah yang masing-masing pendapat memilki dalil yang bisa dipertanggung jawabkan. Namun yang kuat dalam masalah ini menurut penulis adalah kesucian air kencing binatang yang bisa dimakan dengan alasan-alasan sebagai berikut :

Ibnu Quddamah berkata, “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan uraniyyin untuk meminum air kencing unta, dan sesuatu yang najis tidak boleh diminum. Seandainya itu hanya dalam keadaan darurat, maka tentunya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam akan memerintahkan mereka untuk membasuh bekas-bekas air kencing tersebut ketika hendak shalat.”

Diperbolehkannya shalat di kandang kambing. Ibnu Quddamah berkata, “Para sahabat Nabi ketika shalat langsung di atas tanah. Dan tentunya di kandang kambing kemungkinan besar terkontaminasi oleh kotoran dan air kencingnya.”

________________
Sumber:

1. Al-Mabsuth, as-Sarakhsy,Darul Ma’rifah, Beirut, cet 1993, juz 1 hal 55, al-Binayah Syarhul Hidayah, al-‘Ainy, Darul Kutub al-Ilmiyyah, cet 2000, juz 1 hal 441, al-Muhiith al-Burhany, Abul Ma’aly al-Bukhari, Darul Kutub al-Ilmiyyah, cet 2004, juz 1 hal 187

2. At-Tahzhiib fikhtisharil Mudawwanah, al-Baradza’i, Darul Buhuts lid diraasaat al-Islamiyyah wa Ihyait turats, cet 2002, juz 1 hal 189, al-Bayaan wat-Tahshiil, Ibnu Rusyd, Darul gharb al-Islamy, cet 2, 1988, juz 1 hal 377, at-Taaj Wal Ikliil li Mukhtasharil Khalil, Darul Kutub Ilmiyyah, 1994, juz 4 hal 345.

3. al-Majmu’ Syarh Muhadzdzab, an-Nawawi, Darul Fikr, juz 2 hal 549.

4.  Al-Mughni, Abu Muhammad Ibnu Quddamah al-Maqdisy, Maktabah Qahirah, cet 1968, juz 2 hal 65-66, asy-Syarh al-Kabir, abul Faraj Ibnu Quddamah al-Maqdisy, Darul kitab al-Arabiy, juz 1 hal 307, ar-Raudh al-Murbi’ Syarh Zaadul Mustaqni’,al-Bahuty, Muassah ar-Risalah, hal 52, al-Mumti’ fi Syarhil Muqni’, al-Munajja at-Tanukhi, Maktabah al-Asady, cet 2003, juz 1 hal 226.

5.  Al-Mabsuth, juz 1 hal 55, al-Binayah Syarhul Hidayah, juz 1 hal 441, al-Muhiith al-Burhany, juz 1 hal 187

6.  Al-Haawi al-Kabir fi fiqhi madzhabil imam asy-Syafi’i, al-Mawardi, Darul Kutub ilmiyyah, cet 1999, juz 2 hal 248-249, al-Wasith fil madzhab, al-Ghazali,  Darus Salam, cet 1417, juz 1 hal 155, al-Majmu’ Syarh Muhadzdzab, an-Nawawi, Darul Fikr, juz 2 hal 548-549.

Sebarkan Kebaikan!

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close