Urgensi Sabar dan Adab Bagi Penuntut Ilmu

TADABBUR kali ini, membahas tentang pentingnya kesabaran dan adab bagi penuntut ilmu. Kisah dalam al-Qur`an yang menggambarkan interaksi Nabi Musa ‘alahis salam saat menuntut ilmu kepada Khidir, terkait erat dengan masalah ini.

Ayat Tadabbur        : QS. Al-Kahfi [18] : 69

Teks Ayat                  :

قَالَ سَتَجِدُنِي إِن شَاء اللَّهُ صَابِراً وَلَا أَعْصِي لَكَ أَمْراً

Arti                             :

“Musa berkata: “Insya Allah kamu akan mendapati aku sebagai orang yang sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam sesuatu urusan pun.”

Tadabbur                 :

“Di antara hal yang sangat dibutuhkan bagi penuntut ilmu bersama gurunya adalah: kesabaran dalam menuntut ilmu dan adab yang luhur terhadap gurunya. Allah ta’ala telah menggabungkan keduanya dalam pernyataan Musa ‘alaihissalam kepada Khidir, “Insya Allah kamu akan mendapati aku sebagai orang yang sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam sesuatu urusan pun.” (Dr. Muhammad al-Rabi’ah dalam buku: Liyaddabbaruu Aayaatih, VII/53).

Pelajaran                  :

  1. Kesabaran merupakan bagian penting yang harus dimiliki bagi penuntut ilmu
  2. Penuntut ilmu harus menjaga adab terhadap gurunya

Catatan                      :

Bagi para penuntut ilmu, kesabaran dan adab mutlak dimiliki jika ingin mendapatkan ilmu bermanfaat dan berkah. Kesabaran adalah nafas panjang yang membuatnya bertahan di tengah ujian penuntut ilmu. Sedangkan adab adalah etika luhur yang seharusnya diterapkan saat menuntut ilmu baik kepada diri sendiri maupun guru.

            Berbicara masalah dua hal ini, mengingatkan kita pada ungkapan Imam Syafi’i yang populer terkait adab bagi penuntut ilmu:

أَخِيْ لَنْ تَنَالَ الْعِلْمَ إِلَّا بِسِتَّةٍ سَأُنَبِّيْكَ عَنْ تَفْصِيْلِهَا بِبَيَانٍ

ذَكَاءٍ وَحِرْصٍ وَاجْتِهَادٍ وَبُلْغَةٍ وَصُحْبَةِ أُسْتَاذٍ وَطُوْلِ زَمَانٍ

“Saudaraku, ilmu tidak akan engkau raih, melainkan dengan enam perkara. Akan aku jelaskan rinciannya secara jelas: Pertama, kecerdasan. Kedua, keantusiasan. Ketiga, kesungguhan. Keempat, bekal. Kelima, bimbingan guru. Keenam, waktu yang lama.” (Muhammad Nazzar al-Qitsyah, al-Itqaan fī Ta’liimi Ahkaami al-Qur`aan, 2).

Kata “bimbingan guru” dan “waktu yang lama” secara implisit menekankan pentingnya adab kepada guru dan kesabaran dalam menuntut ilmu. Tanpa keduanya, mustahil akan mendapat ilmu yang berkah dan bermanfaat.

*Amoe Hirata

Sebarkan Kebaikan!