Urgensi Mempelajari Asmaul Husna

MEMPELAJARI  ilmu asmaul husna adalah mempelajari ilmu yang paling tinggi dan mulia. Apa dasarnya, kenapa bukan mempelajari ilmu kedokteran padahal pembayarannya paling mahal?

Kenapa bukan ilmu IT padahal ilmu itu yang paling banyak mempengaruhi dunia? Ketinggian dan kemuliaan sebuah ilmu diukur dari objek atau sasaran yang dipelajari, dalam ilmu asmaul husna yang menjadi objek kajian adalah Allah. Apakah yang lebih penting dan mulia untuk dikenal dan difahami agar mendatangkan banyak manfaat dari semua ilmu?

Tujuan seseorang mempelajari sebuah ilmu adalah, agar mendapatkan banyak manfaat dari objek ilmu yang sedang dipelajari. Misalnya, ilmu halal dan haram. Mempelajari ilmu halal dan haram jika kaitannya dengan Allah maka pasti bagus, tapi jika seseorang bekerja dan tidak perhatian dengan halal dan haram maka dia akan berjalan sesuai dengan kata akalnya dan mengukur keberhasilan dari penghasilan.

Ilmu asmaul husna atau mengenal Allah seindah nama-Nya membawa orang yang mempelajarinya untuk mengesakan Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Sebagaimana yang dicontohkan oleh Nabi Ya’kub AS dalam mendidik anak-anaknya, ia terlebih dahulu menanamkan tauhid kepada mereka agar tidak terjebak dalam lingkaran dunia yang fana. Sangat ironi jika kualitas hidup selalu diukur dengan materi. Semua orang tua itu ingin agar anaknya menjadi shalih dan shaliah, tapi bagaimana jika itu hanya harapan yang tidak ditindak lanjuti dengan tindakan?

Lihatlah bagaimana Nabi Ya’kub SAW dalam mendidik anak seperti digambarkan dalam al-Qur’an surat al-Baqarah ayat 133,

أَمْ كُنْتُمْ شُهَدَاءَ إِذْ حَضَرَ يَعْقُوبَ الْمَوْتُ إِذْ قَالَ لِبَنِيهِ مَا تَعْبُدُونَ مِنْ بَعْدِي قَالُوا نَعْبُدُ إِلَٰهَكَ وَإِلَٰهَ آبَائِكَ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ إِلَٰهًا وَاحِدًا وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ

“Adakah kamu menyaksikan ketika Ya’qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: “Apa yang kamu sembah sepeninggalku?” Mereka menjawab: “Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya”. (QS. Al-Baqarah: 133)

Nabi Ya’kub AS dalam mendidik anak mengedapankan tauhid daripada materi atau ilmu-ilmu dunia. Kebanyakan anak yang terjebak dalam kenakalan remaja itu disebabkan karena orang tua salah ilmu dalam mendidik. Ketika anak tidak dikenalkan pada Allah maka dia akan lebih mengenal dunia dan menjadi manusia dunia oriented. Ketika anak tidak dikenalkan pada kitabullah (al-Qur’an) maka dia akan lebih mencintai ilmu dunia. Ketika anak tidak dididik untuk mencintai Rasulullah maka ia akan melupakan panutannya dan lebih mencintai teman-temanya. Dan ironi, hal ini sudah marak dan mayoritas melanda di negeri ini.

Ketika menjelang kematian Nabi Ya’kub AS, dia mengecek apakah ia telah benar mendidik anaknya dengan benar atau belum. Sebagai ujian terakhir dia bertanya tentang apa yang akan disembah anak keturunannya setelah ia meninggal. Anak keturunan Ya’kub yang memang mendapatkan pendidikan benar tentu mereka mampu tegas menjawab, “kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Nabi Ibrahim, Nabi Ishak, dan Nabi Ismail yaitu Tuhan yang Maha Esa”.  Setelah mendengar pernyataan itu ia merasa bahagia melepas ruhnya, namun berbeda dengan ayah yang gagal dalam mendidik anak dia akan tersiksa di akhir hayatnya apalagi ketika berada di pengadilan mahsyar kelak.

Salah satu goals dari ilmu mengenal Allah seindah asma-Nya adalah bisa dengan jelas mengenal Allah, hidup dan mati hanya untuk-Nya, dedikasi hanya di jalan-Nya, dan hidup untuk menegakkan agama-Nya. Bukan hanya beriman kepada Allah tapi juga tidak berlaku syirik kepada-Nya dan menyerahkan segenap jiwa dan raga untuk agama Islam. Cara mendidik keturunan bisa mencontoh kepada Nabi Ibrahim, Nabi Ishak, Nabi Ismail, dan Nabi Ya’kub, bagaimana mereka mampu menanamkan tauhid ke dalam hati anak keturunannya sehingga tidak berpaling untuk menjilat dunia yang fana.

Al-Baqarah ayat 133 juga menjadi ukuran keberhasilah seorang ayah dalam mendidik anak. Keberhasilan mendidik bukan ketika anak mampu menjadi sarjana, ahli IT, ahli farmasi, dan ahli-ahli lainnya, tapi ketika anak hanya menyembah kepada Allah dan mendedikasikan hidupnya hanya untuk Dia.

Di Indonesia hampir tidak ada lagi ketuhanan yang maha Esa. Maha Esa seringkali dikaitkan dengan monotoisme padahal Monoteisme (berasal dari kata Yunani μόνος (monos) yang berarti tunggal dan θεός (theos) yang berarti Tuhan) adalah kepercayaan bahwa Tuhan adalah satu/tunggal dan berkuasa penuh atas segala sesuatu. Sehingga jika sepakat dengan definisi ini maka kita telah menggolongkan penyembah matahari dan penyembah bintang ke dalam sila pertama itu walaupun tidak menyembah Allah. Jika konsep ini yang diterapkan maka akan rusak ketuhanan yang maha Esa di Indonesia, karena tafsir dari sila pertama pancasila itu adalah Allah yang maha Esa, tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Dia.

Untuk berebut kembali ideology asli pancasila itu diperlukan tenaga dan fikiran yang ekstra dan untuk mempertahankannya harus dibarengi dengan ilmu yang selaras agar bisa dengan mudah difahami oleh masyarakat luas. Jika ditelusuri secara mendalam maka ilmu asmaul husna menjadi refrensi utama.

وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ فَادْعُوهُ بِهَا ۖ وَذَرُوا الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَائِهِ ۚ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Hanya milik Allah asmaa-ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al-A’raf: 180)

(Dinukil Dari Tausiyah UBN)

*Gubahan M

Sebarkan Kebaikan!