Umar al-Fārūq

MICHAEL  Heart dalam buku “100 Tokoh Paling Berpengaruh dalam sejarah” (1992: 279), menyebut figur karismatik ini sebagai pemimpin brilian, yang jauh mengungguli Charlemagne bahkan, Julius Caesar.  Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri memberi catatan menarik mengenai sosok monumental ini, “Sekirannya sesudahku ada nabi, pasti dialah orangnya.” (HR. Ahmad, Tirmidzi).

Di era jahiliah, pria dari klan ‘Addi ini,  biasa menenggak minuman keras, menyembah berhala, bahkan mengubur putrinya hidup-hidup. Meski demikian, ketika semburat cahaya Islam dari hatinya mulai terbit, potensi-potensi kepemimpinan yang terpendam dalam relung jiwanya tiba-tiba melejit. Dialah Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu Potret pemimpin legendaris yang berjuluk “al-Fārūq” (pembeda; pemisah antara haq dan batil).

Awalnya anak dari Khattab ini begitu membenci Islam. Kemudian –berkat karunia ilahi serta do`a nabi-, rasa benci pun menjadi cinta. Saat beliau mendengar lantunan surat Thaha, yang disenandungkan adiknya (Fatimah), hatinya yang keras bak batu menjadi luluh. Kepercayaannya pada Islam, akhirnya semakin bertumbuh.

Perubahan dahsyat pun terjadi. Sifat kerasnya  menjadi tegas. Sikap kasarnya menjadi tegar. Seluruh kekuatannya disalurkan pada ketaatan. Keberaniannya menjadi keluhuran. Kebengisannya menjadi belas kasihan. Ketahanan dirinya yang hidup di lingkungan keras padang pasir, menjadikannya tak gentar menghadapi tirani pemuka jahiliah, yang pandir. Kebiasaan menggembala di padang sahara, menjadi modal berharga untuk mengasah bakat kepemimpinan luar biasa.

Hari demi hari, imannya semakin kokoh. Beliau pun turut berjuang, berkorban –dengan harta, jiwa dan raga- bersama baginda Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam serta sahabat-sahabatnya. Lebih dari itu, beliau juga tak pernah absen menemani Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam di gelanggang jihad. Beliau adalah orang kedua yang paling dicintai nabi, setelah Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu. Maka tidak mengherankan, sepeninggal ayah ‘Aisyah, tampuk kekhilafahan diamanahkan kepada dirinya.

Selama ia memimpin (13-23 H), kemajuan umat Islam begitu pesat: Islam tersebar luas, futuhat (gerakan pembebasan) makin hebat, kesejahteraan melimpah ruah, keadilan nyaris merata, stabilitas keamanan terjamin, dan izzah (kemuliaan, kekuatan dan kehormatan) Islam di mata dunia begitu tinggi.

Kesuksesan gemilang ini sangat pantas dicapainya. Kalau ditilik dari lembaran sajarah, beliau adalah tipikal pemimpin yang rela mengorbankan kepentingan sendiri demi mendapat ridha Allah dan memenuhi kesejahteraan rakuatnya. Ketika Mu`awiyah bin Khudaij menyinggung perihal waktu tidurnya di siang hari, Umar dengan lantang berujar: “Jika aku tidur di siang hari, maka aku telah menyia-nyiakan rakyatku. Jika aku tidur di malam hari, maka aku telah menyia-nyiakan diriku [untuk beribadah pada Allah]. Bagaimana mungkin aku bisa tidur pada kedua waktu tersebut?” (HR. Ahmad bin Hanbal, al-Zuhdu, 1/101).

Melihat tipikal pemimpin seperti ini, maka tidak mengherankan jika di kemudian hari, Islam bisa berkembang pesat dan menjadi soko guru peradaban dunia.  Menurut Michael H. Heart (1992: 279) pencapaian Bapak Hafshah ini begitu mengagumkan. Tanpa gerakan futuhat-nya yang cepat, tuturnya, Islam mungkin tidak akan tersebar seluas saat ini. Selamat jalan wahai amirul mukminin. Semoga umat Islam bisa menapaktilasi jejak-jejak sejarah emasmu.  Wallahu a’lam bin shawab.

Sebarkan Kebaikan!