ArtikelSirahTausiyah
Trending

Ulama dan Politik

AKHIR-akhir ini persoalan ulama dan politik merambah pada situasi yang tidak menguntungkan umat Islam. Hal itu terjadi karena cacatnya marwah ulama dan cacatnya lembaga keulamaan di Indonesia. Kondisi ini juga sangat merugikan posisi ulama, sebab mereka adalah salah satu faktor penting dalam kepemimpinan umat. Umat Islam dituntut agar tetap konsisten di atas nilai-nilai al-Qur’an dan as-Sunnah dalam menyikapi persoalan ulama dan politik.

Ulama adalah orang yang dipilih oleh Allah sebagai ahli waris para nabi dan rasul untuk menyampaikan kebenaran di muka bumi. Penting untuk difahami agar kita menjaga sikap terhadap mereka. Kata ulama adalah bentuk jama’ dari ‘alim yang artinya ahli ilmu atau ilmuwan. Artinya ulama adalah orang yang mengerti hukum Allah dan Sunnah Rasul-Nya, dan memahami bagaimana cara mengambil hukum dari al-Qur’an dan hadist.

Al-Qur’an menggambarkan ada dua jenis ulama; ulama su’ dan ulama rabbani (yakhsyallah). Ulama su’ digambarkan dalam surat asy-Syu’ara ayat  197;

أَوَلَمْ يَكُنْ لَهُمْ آيَةً أَنْ يَعْلَمَهُ عُلَمَاءُ بَنِي إِسْرَائِيلَ

Dan apakah tidak cukup menjadi bukti bagi mereka, bahwa para ulama Bani Israil mengetahuinya?         

Ulama su’ di kalangan Bani Israil mengingkari al-Qur’an yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw. dan memprovokasi agar tidak taat kepada beliau. Ada beberapa karakter ulama su’ di antaranya; menjual ilmu kepada penguasa, menukar kebodohan sebagai ilmu, memburu harta dan tahta, sombong dengan banyaknya pengikut, bergaya dengan pakaian ulama, tidak mau bertobat, menyalahgunakan ilmu, dan membela penguasa zolim.

Sedangkan ulama rabbani dipaparkan dalam surat al-Fatir ayat 28;

ۗ إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ ۗ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ

Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.

Allah Swt. menggambarkan bahwa orang yang takut kepada-Nya hanyalah ulama. Ulama yang benar adalah mereka yang takut kepada-Nya karena ilmu yang mereka miliki. Sehingga ada ungkapan, “Cukuplah takut kepada Allah karena ilmu, dan cukuplah tertipu daya oleh setan sebagai sebuah kejahilan”. Ilmu adalah barometer seseorang dikatakan ulama atau bukan. Tentu ilmu yang melahirkan rasa takut kepada-Nya, bukan ilmu yang malah menjauhkan dari-Nya.

Kita perlu hati-hati dalam melekatkan gelar ulama pada seseorang. Fenomena ini terjadi, hanya karena melihat kepopulerannya atau ketokohannya lantas dibaiat sebagai ulama. Bahkan walaupun seseorang itu shaleh belum tentu dia masuk dalam kategori ulama, apalagi jika hanya bermodal sorban atau statusnya dalam sebuah organisasi.

Kapan seseorang bisa dikategorikan ulama?

Ulama itu ibarat lampu. Lampu dapat memancarkan cahaya dengan mudah, demikian juga dengan ulama. Ulama di tengah-tengah umat akan mengajak mereka untuk memperoleh petunjuk menuju jalan yang hak serta terhindar dari gelapnya kebodohan dan bid’ah.

Standar keilmuan seorang ulama minimal mengenal hukum-hukum Allah yang tertuang dalam kitab-Nya dan mampu mengambil hukum secara cerdas dari kitab tersebut. Seorang ulama harus menguasai ilmu tentang sunnah Rasulullah, menguasai bahasa Arab dan ilmu-ilmu yang terkait dengannya, serta mampu mengimplementasikan ilmu-ilmu tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Ulama dibanding orang biasa biasanya lebih cerdas moralnya, intelektualnya, cerdas sosialnya, cerdas spiritual, dan cerdas dalam mengambil hukum-hukum yang ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya.

Seseorang tidak bisa dikategorikan sebagai ulama jika yang melekatkan status itu adalah orang awam. Kecerdasan ulama harus diuji oleh orang yang punya keilmuan yang setara atau para pakar-pakar kelimuan di bidangnya masing-masing.

Di Indonesia dan bahkan dunia, banyak orang yang hanya berstatus aktivis tapi kebodohan umat yang mengangkat derajat mereka sebagai ulama. Hal ini bisa mencelakakan umat, dan orang yang ditunjuk harus sadar akan posisinya agar kerusakan tidak menyebar. Terakadang hanya karena kepopuleran atau seseorang mengenakan simbil keulamaan sehingga dibaiat menjadi ulama, tentu ini tidak benar. Umat harus pandai melihat siapa tokoh yang benar-benar mengajak kepada Allah Swt. dan siapa yang hanya menjadi penjilat penguasa demi kepentingan dunia sesaat.

Tentang ulama dan politik

Ketegangan politik antara ulama dan penguasa telah terjadi pada awal-awal sejarah para nabi dan rasul. Sebut saja misalnya Nabi Ibrahim As. dan Namrud, Nabi Musa As. dan Fir’aun, Nabi Yusuf yang dipenjaara, serta Nabi Zakariah dan Nabi Yahya yang mengalami pembunuhan. Nabi dan rasul mempunyai visi yang sama; menyebarkan tauhid di muka bumi.

Ada ulama yang bukan pejuang, ada pejuang yang ulama, namun ada ulama yang juga pejuang. Ulama pejuang inilah yang memiliki resiko paling besar, sebab berani melawan kezaliman penguasa di negerinya maupun penguasa zolim di muka bumi.

Bukan berarti salah jika ulama berdekatan dengan penguasa. Khulafa’u Rasyidin adalah contoh terbaik dalam hal ini. selain dekat dengan ulama, mereka juga adalah ulama. Kepemimpinan dibangun atas dasar dakwah tanpa ada sedikitpun syahwat ingin berkuasa. Berbeda dengan yang terjadi pada saat ini, kita melihat banyak tokoh yang berkedok ulama berlomba mempengaruhi umat Islam untuk mendapatkan kedudukan di sisi penguasa.

Dekat dengan penguasa, boleh. Dekat-dekat dengan penguasa, maka hati-hati. Tetapi mendekati penguasa jangan sampai terjadi. Sejarah mencatat bahwa ulama yang berada dekat dengan penguasa bukan penjilat, bukan ulama yang membuat fatwa untuk melanggengkan kekuasaan.

Ulama tetap pada fungsinya sebagai penyuluh atau penasehat penguasa. Hal itu dimaksudkan agar penguasa dalam menetapkan keputusan sesuai dengan nilai-nilai Qur’an dan sunnah serta berpihak pada rakyat (orang banyak). *Ditulis dari Khutbah KH Bachtiar Nasir di masjid AQL Islamic Center, 21/9/2018.

*Muhajir

Sebarkan Kebaikan!

Tags
Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close