Tadabbur
Trending

Ujian Pasukan Thalut, Barisan Mukmin atau Barisan Munafik?

Sejarah yang menyajikan begitu banyak hikmah. Kisah tentang ujian pasukan Thalut dalam Alquran sangat menarik untuk disajikan saat mereka melakukan persiapan menghadapi paukan Jalut. Persiapan itu berupa ujian Allah yang akhirnya menyeleksi siapa yang bisa terus berjuang, dan siapa yang lemah.

Thalut berkata kepada pasukannya, “Sesungguhnya Allah menguji kalian dengan sungai. Siapa yang meminum airnya, maka ia bukan pengikutku. Kecuali mereka yang meminum dengan seciduk tangan.” Itulah di antara isi dari surah al-Baqarah ayat 249.

Timur Tengah yang terkenal dengan gurun pasirnya dan berudara sangat panas menjadikan sungai sebagai sesuatu yang sangat menggiurkan. Sungai adalah sumber penghidupan yang yang kerapkali menjadi penyebab peperangan antar suku-suku Arab.

Sungai bagi masyarakat Timur Tengah bisa dianggap sebagai bentuk keindahan duniawi yang begitu menggiurkan.

Coba kita lihat apa yang dikecualikan oleh Thalut terhadap sungai itu. “Kecuali, meminum dengan seciduk tangan.” Seciduk tangan adalah ukuran wajar yang dibutuhkan seorang mu’min, dan juga seorang manusia untuk bisa tetap bertahan hidup. Ukuran yang tidak akan menggiring orientasi perjuangan kearah tempat baru yang melenceng dari cita-cita sejati.

Sangat mungkin, bagi mereka yang lemah iman, tercipta angan-angan di benak pasukan Thalut, “Kenapa harus demikian? bukankah jika meminum air sebanyak-banyaknya, agar pasukan mempunyai tambahan kekuatan dalam melakukan perlawanan.” Diangan mereka.

Namun demikianlah, logika manusia tidak bisa disamakan dengan kehendak Allah Swt.. betapa besarpun keinginan seorang hamba, tetap kehendakNya yang berlaku. Siapa yang hatinya ‘tenggelam’ dengan keindahan sungai, orientasinya perjuangannya akan melenceng. Ketegasan dan kewajaran terhadap keindahan sungai juga bisa membentengi terhadap masuknya langkah-langkah setan.

Dan ini yang akhirnya terbukti. Mereka yang berpuas-puas dengan fasilitas sungai yang begitu menggoda dalam jalan perjuangan, keberaniannya menjadi susut, fisiknya melemah. Karena perutnya kekenyangan. Dan satu hal yang lebih penting, ”Kedekatan dan ketawakalannya kepada Allah seolah menguap bersama menguapnya keikhlasan dalam berjuang”.

Hal inilah yang Allah ajarkan kepada para Nabi dan Rasul dalam menunaikan misi dakwah. “Aku sama sekali tidak meminta upah dari kalian. Upahku hanya kuharapkan dari Allah, pencipta dan pemilik alam raya ini.” tegas para nabi dan rasul.

Kini, boleh jadi ujian Allah untuk para ulama jauh lebih berat dari apa yang dialami oleh pasukan Thalut. Sebab saat ini sungai menjanjikan kemewahan yang memanjakan mata dan hati. Sungai-sungai kemewahan ini terus mengeluarkan aroma harum untuk menguji siapakah yang berada di barisan mukmin dan barisa munafik. *Ditulis dari Kajian Ustadz Bachtiar Nasir, Kamis Malam, (28/2/2019).

Sebarkan Kebaikan!

Tags
Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close