Artikel

UBN Sampaikan Kunci Hidup Berkah

SETIAP orang menginginkan keberkahan dalam hidupnya. Namun sebagian kalangan salah kaprah dalam memahami makna berkah sehingga melakukan hal-hal keliru untuk meraihnya. Misalnya orang yang mencari berkah di kuburan, pohon keramat, dan lain-lain. Hal inilah tidak logis, namun nyata kita saksikan. Inilah salah satu contoh salah faham memaknai berkah.

Oleh sebab itu, Pimpinan AQL Islamic Center KH Bachtiar Nasir dalam Khutbah Jum’at di Telkomsel Smart Office (TSO) Head Office No.Kav 52, Jakarta Selatan, menjelaskan makna berkah dan hal-hal yang membuat hidup kita berkah.

Beliau mengutip surat Al A’raf ayat 96;

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS. Al A’raf: 96).

Kunci keberkahan suatu negeri adalah keimanan dan ketakwaan. Seperti yang dijelaskan ayat di atas, penduduk suatu negeri yang beriman dan bertakwa maka Allah akan limpahkan keberkahan dari langit dan bumi.

Di tengah jamaah Jumat yang memenuhi area masjid beliau menjelaskan, “Berkah adalah menetap ya kebaikan yang bersifat ilahiah pada sesuatu,” jelasnya.

“Orang-orang yang diberkahi adalah orang ditempatkan dalam dirinya ilahiah. Sehingga mudah bagi dia untuk beribadah. Misalnya, ada orang yang kuat lari pagi lima kilo, tapi jangan berharap dia ke mesjid. Hal itu karena dia tidak diberkahi hidupnya,” lanjutnya.

Di hadapan pegawai telkomsel ia juga memberikan perumpamaan berkah atas gaji yang diterima. “Kapan gaji kita berkah?” Tanya UBN, sapaan akrabnya.

“Gaji adalah bendanya. Lihat pada gajinya itu apakah ada unsur ilahiah atau tidak. Ada pegawai jika foya-foya sangat gampang, tapi pada kebaikan berat. Gajinya tidak ada untuk infak, sedekah dan lain-lain. Ini adalah contoh pegawai yang tidak berkah gajinya. Ciri gaji yang berkah itu, mudah dipakai untuk kebaikan, seperti berinfak, bersedekah, dan memberi hadiah,” jelas beliau.

Jiwa yang mudah untuk berbuat baik hanyalah jiwa yang diberkahi. Jika suatu negeri yang penduduknya beriman dan bertakwa keberkahan akan melimpah di negeri tersebut.

“Diantara maknanya (berkah) adalah bertumbuh dan berkembang. Di sinilah perbedaan harta orang yang hidupnya berkah dan tidak berkah,” pungkasnya.

Ibnul Qayyim mengatakan, “Maksud dari ucapan do’a ‘keberkahan kepada Muhammad dan keluarga Muhammad karena engkau telah memberi keberkahan kepada keluarga Ibrahim’ adalah do’a keberkahan ini mengandung arti pemberian kebaikan karena apa yang telah diberi pada keluarga Ibrahim. Maksud keberkahan tersebut adalah langgengnya kebaikan dan berlipat-lipatnya atau bertambahnya kebaikan. Inilah hakikat barokah”. (Jalaul Afham fii Fadhlish Sholah ‘ala Muhammad Khoiril Anam, Ibnu Qayyim Al Jauziyah, Darul ‘Urubah Kuwait, cetakan kedua, 1407, hlm. 308)

Contoh manusia pencari berkah bisa didapati pada diri Nabi Ibrahim as. “Haya hidupnya sangat sederhana, tidak pernah berniat bangun istana. Prinsip hidupnya di mana bumi dipijak di situ Laila Ilaha illallah ditegakkan. Jika sudah tegak, dia pindah lagi. Ibrahim juga diberi bergambar ujian. Diperintahkan menyembelih anak yang paling disayang, menghadapi kekejaman penguasa pada saat itu, dan bergama ujian hidup lainnya,” tutur UBN.

Lanjut daripada itu, ada sesuatu yang menarik dari Nabi Ibrahim. Puncak karirnya ketika ia berada di Baitul Maqdis. Disanalah Ibrahim diangkat menjadi pemimpin bagi manusia, Nabi Muhammad mi’raj, dan Nabi Isa dinaikkan ke langit.

Untuk itu, menurut lulusan Universitas Madinah itu, standar keberkahan hidup seseorang dilihat dari keberpihakannya kepada Baitul Maqdis. Karena di sana pula Nabi Muhammad mi’raj, bulan di Mekah. “Maka apapun profesi kita tapi tidak menjadi bagian dari pembebas Baitul Maqdis, maka level kita adalah orang rendah”, ucap Pembina AQL itu.

Di akhir khutbahnya, beliau menyoroti permasalahan bangsa. Menurutnya, bangsa ini akan keluar dari berbagai macam masalah jika penduduknya telah bermental pencari berkah, yakni berusaha meningkatkan level diri dari berislam ke beriman kemudian bertakwa.”Muslim Indonesia memang terbesar tapi kenapa masih dikuasai kafir, karena kita masih berislam. Maka jika hendak negeri berlimpah berkah maka penduduknya harus meningkatkan level dari berislam ke beriman, lalu naik level lagi ke bertakwa. Dan ukuran orang bertakwa itu, mengerjakan perintah dan menjauhi larangan, bahkan menin hal-hal yang dibolehkan sekedar menjaga diri dari yang haram.” Tutup beliau.

*MN

Sebarkan Kebaikan!

Tags
Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close