UBN: Pondasi Utama ‘Jangan Putus Asa Untuk Bersatu dan Mempersatukan’

Menolong saudara kita yang dizalimi sangat wajar, tapi bagaimana dengan yang berbuat zalim? Hadapi ejekannya dengan sabar, hadapi hujatannya dengan kebijaksanaan, dan doakan kebaikan untuknya (yang zalim) agar ia bertobat sebelum ajal menjemputnya.

عن أنس رضي الله عنه قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : أُنْصُرْ أَخَاكَ ظَالِمًا أَوْ مَظْلُوْمًا ، قَالُوْا ياَ رَسُوْلُ اللهِ هَذَا نَنْصُرُهُ مَظْلُوْمًا فكيف ننصره ظالما ؟ قال : تَأْخُذُ فَوْقَ يَدَيْهِ .

Artinya:

“Dari Anas ra. ia berkata: Rasulullah Saw. bersabda: Tolonglah saudaramu yang berbuat zalim atau yang dizalimi, para sahabat berkata: wahai Rasulullah, orang ini kami tolong dalam keadaan dizalimi, maka bagaimana kami menolongnya ketika ia berbuat zalim? Rasululla Saw. menjawab: kamu pegang kedua tangannya”. (Abu Abdillah Muhammad Bin Ismail al-Bukhari, al-Jami’ al-Shahih ….hlm. 190)

Yang paling umum dari hadis Nabi adalah, tolonglah saudaramu yang sedang terzalimi walaupun yang zalim.

Para sahabat komplen kepada Rasulullah, “wahai Rasulullah, orang ini kami tolong dalam keadaan dizalimi, maka bagaimana kami menolongnya ketika ia berbuat zalim? Rasululla Saw. menjawab: kamu pegang kedua tangannya”

Ketika saya (UBN) dilarang untuk ceramah di Cirebon, tidak terbesit dalam hati saya kebencian, apalagi mendoakan keburukan untuk saudara saya.

Teringat kisah anak Adam ketika Habil hendak dibunuh oleh saudaranya Qabil (ayat yang megisahkan Qabil dan Habil adalah surat al-Maidah : 27-31).

Saya tidak akan membentangkan tanganku untuk melawan, karena kamu adalah saudaraku.

Prinsip ini yang harus dipegang oleh setiap muslim. Di tengah maraknya ujaran kebencian, saling tuduh, dan penolakan, alangkah baiknya kita bersifat bijaksana dalam menyikapi hal itu. Tidak perlu melakukan perlawanan demi persatuan dan persaudaraan. Lebih baik mati daripada melawan saudara sendiri, apalagi kita masih sama-sama mengucapkan LAA ILAHA ILLALLAH.

Menolong saudara kita yang dizalimi sangat wajar, tapi bagaimana dengan yang berbuat zalim? Hadapi ejekannya dengan sabar, hadapi hujatannya dengan kebijaksanaan, dan doakan kebaikan untuknya (yang zalim) agar ia bertobat sebelum ajal menjemputnya.

Terkadang hanya salah faham, framing media, dan cerita-cerita yang tak berdasar yang menimbulkan kebencian kepada saudara kita sendiri. Jangan kedepankan ego, utamakan akal. Agar tercipta kerukunan, persaudaraan, dan persatuan yang Erat di antara kita.

Kadang jika seseorang emosi, ia akan kehilangan akalnya. Perempuan suci sekelas Maryam saja mengatakan, aduhai seandainya sebelum ini saya mati saja. Biarlah saya tidak dikenal orang.

Menolong yang zalim butuh kesabaran tinggi. Sudut pandang harus diperluas agar tidak salah faham kepada saudara kita.

Ada tiga prinsip dasar yang harus kita pegang dalam menjalin dan mempererat persaudaraan dan persatuan.

1. Tidak boleh menzalimi saudara.

Zalim artinya menempatkan sesuatu bukan pada tempatnya. Hindari sebisa mungkin framing media yang bisa menimbulkan perpecahan, sehingga menempatkan saudara kita sendiri bukan pada tempatnya.

2. Jangan menyerahkan saudara kita kepada musuh.

Biar pun dia telah menghina kita, dia tetap saudara seiman kita? Jangan karena kesalahpahaman sehingga kita tidak melindunginya dari musuh. Tetap utamakan persatuan dan persaudaraan.

3. Memenuhi hajat saudara.

Apa yang menjadi hajat saudara, penuhi. Memenuhinya dalam keadaan sembunyi-sembunyi atau secara terang-terangan. *Tausiyah UBN di Milad MT Aisyah ke-8, Tangerang, Selasa, 5 Desember 2017.

Sebarkan Kebaikan!