UBN: Musyawarah Solusi Krisis Kepemimpinan

JAKARTA (AQLNEWS)- Kepemimpinan dalam Islam adalah aspek yang sangat penting. Hal ini bisa dilihat dari banyaknya ayat dan hadist Nabi SAW yang membahas tentang ini. Hal ini bisa dimengerti. Karena pemimpin merupakan salah satu faktor yang sangat berpengaruh terhadap kehidupan suatu masyarakat.

Publik saat ini menilai belum ada sosok pemimpin berkarakter yang mampu mengatasi persoalan bangsa.

Melihat fenomena ini, Pimpinan AQL Islamic Center KH Bachtiar Nasir menjelaskan bagaimana peran ulama membantu umat keluar dari kebingungan untuk memilih pemimpin.

“Mau tidak mau harus ada syuro (Musyawarah). Semua tokoh harus mendahulukan syuro kalau ingin mendapatkan keberkahan dari Allah”, Jelas Pimpinan AQL itu di Masjid Al-Azhar, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Jum’at Malam, (19/1/18).

UBN menjelaskan bahwa musyawarah dalam memilih pemimpin ini berdasarkan ayat Allah SWT dalam Al-Qur’an.

“Secara syar’i yang pertama kali dijadikan pegangan untuk memilih pemimpin adalah syura (musyawarah)”

وَأَمْرُهُمْ شُورَىٰ بَيْنَهُمْ

sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarat antara mereka; (QS. Syura : 38)

Ciri khas suatu keputusan itu berdasarkan syariat Islam atau bukan dilihat dari musyawarah. ”ⁿTermasuk dalam memilih pemimpin di pilkada, adakah musyawarah di dalamnya? Jika tidak ada maka kita sudah melangkah dengan cara yagn keliru”, kata UBN.

Musyawarah di dalam Al-Qur’an ditempatkan di antara dua rukun Islam. Allah Swt. berfirman:

وَالَّذِينَ اسْتَجَابُوا لِرَبِّهِمْ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَمْرُهُمْ شُورَىٰ بَيْنَهُمْ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ

Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhannya dan mendirikan shalat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarat antara mereka; dan mereka menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka. (QS. Asy Syuara : 38).

Musyawarah adalah ibadah. Ketika keputusan diambil berdasarkan musyawarah maka Allah Swt. dan para malaikat-Nya akan menuntun perjalanan pemimpin dan keputusan yang diambil kepada Ar Rusydi (kebaikan dunia dan sesuatu yang baik untuk agama).

Mengenai hal ini, KH Bachtiar menghimbau para tokoh untuk menghidupkan musyawarah di tengah masyarakat dalam mengambil keputusan. “Untuk itu para tokoh, baik tokoh nasional dan agama wajib untuk bermusyawarah dalam memutuskan hal-hal besar di Negara ini. Tidak hanya tokoh nasional, tapi juga tokoh daerah wajib bermusyawarah sebelum memutuskan sesuatu”. Ucapnya.

UBN menganggap bahwa tokoh yang tidak mematuhi keputusan musyawarah wajar jika dituduh penghianat. “Akan disebut penghianat jika ada musyawarah dan sudah diputuskan lalu mengambil keputusan lain. Sebagai pemimpin jika demikian maka wajar jika dituduh sebagai penghianat dan dia telah menyimpang dari aturan agama”. Lanjutnya.

Namun, hal yang perlu dimusyawarahkan hanya untuk hal-hal yang mubah (boleh), persoalan yang sudah jelas haram dan halalnya tidak boleh lagi dimusyawarahkan. “Tidak boleh musyawarah untuk mengubah kebenaran absolut dari Allah Swt”, jelas UBN.

Oleh sebab itu, orang yang boleh diajak musyawarah juga harus selektif. Peserta musyawarah haruslah orang yang mempunyai ilmu agama yang bisa dipercaya, tokoh-tokoh berpengalaman pada bidangnya sesuai keputusan yang akan diambil, dan orang yang berfikir bijaksana dalam mengambil keputusan.  Sehingga tidak semua orang harus diajak musyawarah, hanya orang tertentu saja.

KH Bachtiar menutup pemaparannya bahwa dalam memilih pemimpin musyawarah harus diutamakan, kemudian melihat calon yang akan dipilih apakah berpihak kepada izzul Islam atau tidak. Jika kedua langkah ini sudah terpenuhi maka boleh memilih berdasarkan kepentingan kelompok jika memberikan kemaslahatan kepada masyarakat.”Tapi jangan nomer tiga ini yang di nomer satukan, jika demikian anda akan kehilangan legitimasi secara syar’i di hadapan Allah Swt.” Tutupnya.

Sebarkan Kebaikan!