ArtikelOpini

UBN: Iman Sumber Kekuatan Ekonomi dan Politik

“Penguatan Peran Muslimah dalam Ekonomi dan Politik di Indonesia” tema milad ke 56th Organisasi Wanita Islam di Balai Kota, Jakarta Pusat, Ahad, (29/04/2018). Dalam kesempatan itu, Pimpinan AQL Islamic Center KH Bachtiar Nasir yang menjadi salah satu pembicara menyampaikan, “Kondisi ekonomi dan politik kita akan berubah kalau sudah beriman, tidak stagnan di berislam,” ucapnya.

Beliau menyandarkan pendapatnya pada surat Al Hujurat ayat 14;

Orang-orang Arab Badui itu berkata: “Kami telah beriman”. Katakanlah: “Kamu belum beriman, tapi katakanlah ‘kami telah tunduk’, karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu; dan jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tidak akan mengurangi sedikitpun pahala amalanmu; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.

Suatu ketika, sekelompok orang badui datang menghadap kepada Rasulullah SAW. Di hadapan Rasul mereka berkata, “kami telah beriman”. Namun Allah mewahyukan kepada Nabi bahwa mereka belum beriman tapi masih berislam.

Orang yang hanya merasa beriman, tidak akan mebawa perubahan. Maka status Berislam ini harus diupgrad menjadi beriman. Artinya, keimanan hanya sebatas pengakuan dan belum masuk ke dalam hatinya sehingga tidak terjawantah dalam kehidupan sehari-harinya. Bukti keimanan itu mengerjakan semua perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, dan standar orang beriman adalah meninggalkan hal-hal yang dibolehkan karena kehatia-hatian mereka.

KH Bachtiar Nasir mengangkat kisah Asy-Syaikh Muhammad Mutawalli As-Sya’rawi ahli tafsir asal Mesir ketika berkunjung ke Francisco. Seseorang bertanya kepada syeikh tersebut, menurut sang penanya Al-Qur’an tidaklah sempurna, karena di dalamnya dinyatakan orang beriman akan dimenangkan oleh Allah tapi kenyataanya masih lemah bahkan tidak berdaya di semua lini.

Syaikh menjawab dengan sigap, menurutnya, karena saat ini umat Islam baru berislam belum beriman. Inilah masalah dasarnya. Orang yang masih berislam itu merasa puas dengan shalat, zakat, puasa, dan haji serta merasa tidak perlu lagi untuk mengerjakan kebaikan yang berkaitan dengan umat. Orang beriman tidak merasa cukup dengan zakat saja tapi akan bersedekah dan berinfak. Orang beriman tidak merasa cukup hanya dengan shalat lima waktu, tapi akan menghidupkan shalat sunnah. Berislam hanya memikirkan diri sendiri dan beriman memikirkan masalah umat.

“Kita memang mayoritas, tapi kita minoritas di bidang politik. Kita mayoritas tapi minoritas di sisi ekonomi,” ucap UBN, sapaan akrabnya, di depan puluhan wanita anggota Organisasi Wanita Islam. KH Bachtiar terus menekankan agar memperkuat iman terlebih dahulu. Karena menurutnya, ekonomi dan politik akan difasilitasi oleh Allah jika ada keimanan dalam hati masyarakat. Iman adalah sumber kekuatan ekonomi dan politik.

Seperti termaktub dalam Al-Qur’an; “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS. Al A’raf: 96).

Ayat di atas adalah jaminan. Ekonomi dan politik tidak akan hancur atau menciptakan kehancuran di tengah masyarakat jika didasari dengan iman. Presiden mampu melunasi hutang dan menjalankan operasional Negara tanpa hutang jika melandasinya dengan iman. “Fenomena kekuatan ekonomi dan politik sudah ada di depan mata, tapi belum bisa diraih. Karena untuk kuat dan menjadi pemenang kita harus ditolong oleh Allah. Dan pertolongan-Nya akan turun hanya kepada orang beriman. Nilai-nilai keimanan harus ditanamkan sejak dalam rumah. Dan muslimah menjadi pelopor utama sebagai ibu rumah tangga, atau madrasah,” tegas UBN.

Sementara itu, menurut KH Bachtiar Nasir, saat ini di Indonesia belum mampu melahirkan pemimpin dengan dedikasi tinggi menegakkan kebenaran karena politik belum disandarkan pada keimanan. “Dalam politik, bahkan umat Islam sendiri terbawa kepada berhala-berhala politik dan berhala ini hanya mampu dihancurkan oleh iman,” jelas Lulusan Universitas Madinah itu.

Sekjen MIUMI itu menyebutkan, “Berhala-berhala politik itu adalah, popularitas, uang, dan koalisi partai politik,” ucapnya.

Untuk itu, dari rumah melalui pendidikan terbaik dari wanita hebat Indonesia akan melahirkan pemimpin-pemimpin dengan kriteria yang disebutkan dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah.

*MN

Sebarkan Kebaikan!

Tags
Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close