Umrah Bawa Balita, Ini Tipsnya

JAMAAH Umrah Ar-Rahman SafariQu, Oktafiani, memberikan testimoni atas pengalamannya berumrah bersama anaknya yang masih berusia 2 tahun. Banyak cerita indah bersama keluarganya saat umrah bersama KH Bachtiar Nasir lewat Biro Umrah Ar-Rahman SafariQu.

Terlebih lagi, Umrah Parenting itu bertema, “Masuk Surga Sekeluarga”. Ibu satu anak yang berprofesi sebagai dokter umum ini umrah bersama keluarga, termasuk anak semata wayangnya, Malika, yang masih berusia 2 tahun. Turut juga ibu dan adiknya. Berangkat bersama anak berusia di bawah lima tahun (balita), tentu punya cerita tersendiri. Inilah tipsnya agar tetap nyaman dan khusyuk dalam beribadah.

1. Biaya
Biaya umrah bersama balita dan orang dewasa tentu beda. Biaya untuk anak tergantung usianya dan kebutuhannya.
Untuk anak 0-2 tahun, biasanya dapat potongan lumayan karena jatah di pesawat masih dipangku, dan tempat tidur hotelnya juga non-bed (masih sharing bed dengan orangtua).

Untuk anak yang sudah besar, tentu butuh kursi di pesawat, dan juga tempat tidur di hotel. Biayanya, sama dengan dewasa. Hanya, travel biasanya berbeda-beda menetapkan tarif harga umrah bagi anak. Jadi silakan survei beberapa travel sebelumnya.

Umrah bersama SafariQu, Malika dikenakan biaya 1200 USD (pesawat tanpa kursi, hotel bintang 3 non-bed). Sudah pasrah juga awalnya, “bakalan keram nih 9 jam mangku Malika (11kg) di pesawat. Alhamdulillah, Malika, dapat kursi sendiri di pesawat. Anak nyaman, ummi tenang deh,” kenangnya.

2. Paspor
Bikin paspor anak sama aja sih sama orangtua, hanya kelengkapan dokumen yg dibutuhkan selain akte lahir juga dokumen-dokumen identitas orangtua. Dan sekarang juga lebih mudah mendaftar online, tinggal datang ke kantor imigrasi di waktu yg ditentukan untuk foto. Di kantor imigrasi pun gak lama antre karena untuk anak di prioritaskan.

3. Vaksin Meningitis
Vaksin meningitis dengan kartu kuningnya buat syarat masuk Saudi wajib buat anak usia di atas 2 tahun. Untuk usia kurang 2 tahun cukup melampirkan surat keterangan dari KKP (kantor kesehatan pelabuhan).

4. Persiapan Obat-obatan
Sebelum berangkat, konsultasi ke dokter terutama jika anak sedang sakit atau punya riwayat sakit khusus. Kalau persiapan standar yang harus ada yaitu obat flu, obat batuk, obat demam, obat alergi, inhalant dekongestan untuk anak (kalau musim dingin, biasanya hidung jadi bumpet), obat diare, minyak kayu putih.

Kalau anak punya riwayat penyakit khusus seperti asma, bawa obat-obatan khusus yang biasa dipakai. Wajib minum suplemen/vitamin dari mulai sebelum berangkat dan selama disana. Kalau anak sudah agak besar, lebih baik pakaikan masker selama disana, kecuali pas ibadah.

Bawa juga pelembab bibir, wajah dan kulit buat anak. Karena mau musim panas ataupun musim dingin disana ya kok sama aja udaranya bikin kulit kering.

5. Pakaian
Nah ini harus sesuaikan sama kondisi musim/cuaca disana. Kalau musim panas ya harus sedia baju ganti anak cukup banyak, usahakan berbahan kaos atau katun agar anak tetap nyaman dan tidak rewel karena kepanasan.

Kalau musim dingin seperti saya waktu itu, baju ganti sehari cukup dua, karena jarang keringetan. Bawa jaket, sweater, kaos kaki, legging/tight (terutama buat bayi), bahkan kalo perlu sarung tangan dan kupluk.

Musim dingin disana dingin banget terutama saat subuh, pakaian saya mau ke mesjid subuh hari waktu itu persis kayak pakaian saya waktu ke Bromo. Apalagi AC masjid Nabawi di Madinah dan Masjidil Haram di Mekkah dingin banget.

Waktu itu, Malika saya pakaikan tight baru didobel lagi celana panjang, baru pakai gamis dan jaket. Oiya saya juga bawa selimut bayi. Ini memudahkan jika hendak itikaf di masjid.

Untuk diapers, kalo anak belum bisa lama nahan pipis, baiknya sedia diapers cukup banyak, karena semua toilet berada di luar mesjid. Dengan catatan tetap bawa anak ke toilet, dan segera ganti jika sudah kotor. Menjaga kesucian ibadah kita juga seandainya saat lagi ibadah anak minta gendong.

Di sana ada yang jual sih diapers. Tapi rentan iritasi alias cocok-cocokan merk diapers, jadi mending bawa yang sudah biasa. Cari aman, karena kalau sudah kena diapers rash, anak pasti rewel.

6. Makanan
Buat bayi yang belum makan nasi, kalau tetap ingin mpasi homemade ya harus bawa peralatan mpasi buat travel. Kalau bahan makanan, buah banyak sih disana. Kalau nggak, ya bisa sedia sereal dan biskuit khusus bayi itu. Beberapa ahli gizi anak merekomendasikan makanan bayi karena formulanya sudah disusun dan disesuaikan dengan kebutuhannya.

Untuk anak di bawah usia 2 tahun, biasanya di pesawat juga dapat makanan bayi organik. Buat anak yang sudah makan nasi lebih mudah ya karena katering hotel pasti ada nasinya. Yang agak susah lauknya karena biasanya pedas. Jadi boleh sedia lauk kering dari sini seperti abon, tempe kering, kecap. Alternatif lain, disana ada ayam dan kentang cepat saji. Bakso juga ada yang jual kok.

Jangan lupa logistik cemilan anak, kalo bisa cari yang mengenyangkan seperti roti dan biskuit. Disana banyak yang jual roti isi dan enak-enak. Kalau Malika doyan biskuit kurma.

Buat susu, kalau yang sudah nggak minum ASI tapi masih minim susu tambahan, baiknya bawa susu UHT kotak kemasan kecil yang sudah biasa diminum anak disini. Jumlahnya sesuai kebutuhan anak. Jadi ga rempong bawa peralatan perang buat susu. Kalaupun masih pakai dot, tinggal tuang ke dot, beres.

7. Paket Pencegah Bosan Anak
Ini penting banget. Bawa 1 tas paket isi mainan (yang gak berisik), buku-buku cerita, buku tulis, crayon, dll yang di sukai anak yang bisa bikin anak sibuk dan gak bosen selama di pesawat ataupun saat itikaf di masjid.

8. Tanda Pengenal
Kalau orang dewasa, kemana-mana 0asto bawa identitas. Lah kalau anak gimana? Selain id card dari travel yang harus selalu di kalungin, kalau saya waktu itu makein malika gelang identitas bayi/pasien yang buat di RS itu lho hehe.

Di isi nama anak, nama travel, negara, no passport dan telp ortu yg bisa di hubungi. Bisa juga id card yang di kalungin itu di tambah peniti-in ke baju anak biar gak mudah lepas.

9. Ibadah
Nah ini intinya. Mau kesana tujuan utamanya buat ibadah kan? Jadi harus benar-benar mempersiapkan agar walaupun bawa anak, bisa tetap menjalankan rangkaian ibadah dengan baik. Pasti sudah tahu kan, tawaf dan sa’i itu total jalan kakinya lumayan jauh, bawa diri sendiri aja butuh tenaga ekstra, apalagi ditambah bawa anak. Ekstra plus plus deh.

Buat yang anaknya masih usia di bawah 3 tahun, berat dan besar masih tertampung dengan gendongan carrier, ini wajib bawa, banget. Buat yang udah gedean, udah lancar jalan bahkan lari-larian, sok biarin aja anak ikutan jalan sekuatnya, kalo sudah capek baru digendong. Sedia kain panjang tetap penting untuk menggendong anak yang lebih besar.

Penting juga buat minta tolong gantian gendong dengan pasangan atau anggota keluarga yang lain. Penting juga buat istirahat sebentar sekedar untuk minum air zam zam jika di rasa udah capek banget. Gak usah maksain tetep dalam barisan rombongan travel, resikonya bawa anak ya ketinggalan, jalan pelan santai aja yang penting selesai dengan baik kan.

Nah enak kalo anaknya cuma satu, bisa gantian gendong atau ngawasin, kalo 2, 3, bahkan lebih gimana mak? Tenang, bisa nyewa kursi roda kok, nanti 1 kursi roda itu bisa di naikin anak-anak rame-rame deh hehe. Emang gak bisa pake stroller aja? Gak bisa pak-buk. Stroller cuma boleh sampai halaman masjid saja, ga boleh masuk masjid.
Berarti ga usah bawa stroller? Tetep penting di bawa terutama kalau hotelnya jauh dari masjid. Lumayan bolak balik masjid-hotel.

Stroller juga berguna banget pas nunggu imigrasi di bandara yang bisa berjam-jam. Maka penting buat bawa stroller yang travel friendly yang bisa masuk cabin ya.
Kalo anak lagi seneng-senengnya lari kesana kemari, sering hilang dari pandangan ortu, boleh juga pake tali saat kita shalat. Jadi tali di ikat antara tangan kita dengan tangan anak. Ada juga sih yg jual versi udah jadinya gitu, search aja (keyword: tali anak).

Kayaknya udah cukup ya, udah cukup panjang.
Yang paling penting dari semua persiapan sih niat dan persiapan mental. Niat tulus dan ikhlas untuk beribadah agar dimudahkan, dilancarkan, dan diridhoi perjalanan kita. Juga bekali anak jauh-jauh hari pengetahuan tentang ibadah umrah, sejarah kota-kota suci dan apa saja yang ada di dalamnya agar setidaknya anak punya gambaran dan lebih antusias bertanya ketika disana. Semoga bisa membantu bagi yang mau bawa anaknya umrah, jangan takut atau terlalu khawatir, insya Allah dimudahkan. Amin.

Sebarkan Kebaikan!