Tim Advokasi GNPF MUI: UU Dibuat untuk Siapa?

JAKARTA (AQLNEWS) – Dalam Jumpa Pers Rencana Aksi Simpatik 55 dari Masjid Istiqlal ke Mahkamah Agung (MA), seorang wartawan menanyakan, bagaimana sikap Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Majelis Ulama Indonesia (GNPF MUI) jika aparat kepolisian melarang aksi tersebut? Tim Advokasi GNPF Dr M Kapitra Ampera SH MH hanya menjawab singkat. “Undang-undang itu dibuat untuk siapa?”

Menurut Kapitra, Aksi Simpatik 55 dijamin dan dilindungi UUD 1945 serta Undang-Undang (UU) Nomor 12 Tahun 2005 (rech staat). “Aksi Simpatik pada tanggal 5 Mei 2017 dilindungi oleh UUD 1945. Tidak satupun kekuasaan yang boleh melarangnya termasuk kepolisian, berdasarkan Pasal 18 UU Nomor 9 Tahun 1998, siapapun yang melarang dan membubarkannya dipidana satu tahun penjara,” kata Dr M Kapitra.

Dia menegaskan, aparat kepolisian tidak mungkin melarang sebuah kegiatan yang digelar berdasarkan pada undang-undang. Terlebih lagi, Aksi Simpati 55 justru memberi support kepada Mahkamah Agung (MA) dan majelis hakim dalam semua persidangan agar bersikap independen. Aksi ini sama sekali tidak ingin mengintervensi putusan hakim melainkan memberikan dorongan moral agar hakim dalam menegakkan keadilan tidak boleh diintervensi.

Seorang wartawan lagi menanyakan, apa sikap GNPF MUI jika putusan hakim Pengadilan Negeri Jakarta Utara menjatuhkan vonis bebas kepada terdakwa kasus penodaan agama Basuki Tjahaja Purnama? Pertanyaan ini di jawab Ketua GNPF MUI KH Bachtiar Nasir. “Kita bukan dukun yang bisa mengandai-andai atau meramalkan,” katanya.

Sebab, kata dia, GNPF yakin keadilan akan diberikan dalam persidangan Ahok meski pada prosesnya Jaksa Penuntut Umum (JPU) menuntut ringan kepada terdakwa. Adapun Aksi Simpatik 55, GNPF MUI mendatangi manusia (Mahkamah Agung) hanya sebagai wasilah. GNPF MUI juga jauh dari tuduhan makar untuk menggulingkan rezim. Bahkan, niat pun tidak ada. Tuntutan GNPF MUI sejak awal konsisten pada penegakan hukum dan kali ini ditambahkan dengan penguatan serta dukungan terhadap independensi hakim.

“Kami tidak berharap pada siapa pun karena kami yakin siapa pun yang berkuasa selama dia adil akan tetap langgeng. Tetapi jika sudah tidak adil pasti dia akan tergulingkan. Siapa pun dan apa pun jabatannya. Umat Islam sekarang hanya bermohon kepada Allah SWT. Tidak ada rencana sedikit pun dari kami makar untuk menggulingkan penguasa. Tidak ada niat kami untuk merusak jika ditolak. Tapi berangkat dari masjid dan doa kami pasti dikabulkan oleh Allah SWT. Dia pasti turunkan keadilan-Nya,” tegas Sekjen Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) Pusat ini saat jumpa pers bersama tim advokasi GNPF MUI di AQL Islamic Center, Jakarta, Selasa (2/4/17). *

Reporter : muhajir

Sebarkan Kebaikan!