Tiga Pesan Al-Maghamisi Saat Berkunjung ke AQL (2)

JAKARTA (AQLNEWS) – Sebagaimana disarikan pada sajian sebelumnya, Imam dan khatib Masjid Quba, Madinah Syekh Shalih bin Awad al-Maghamisi menyebutkan tiga hal penting yang harus diperjuangkan oleh umat Islam. Pertama, membangun iman. Kedua, membangun ilmu. Ketiga, membangun ahlak.

Selanjutnya, inilah pembahasan ketiga dari tiga poin yang disampaikan Al-Maghamisi saat berkunjung ke AQL Islamic Center sekaligus mengisi kajian Tadabbur Al-Qur’an bersama KH Bachtiar Nasir di Aula AQL Islamic Center, Jakarta, Sabtu (6/5/17).

3. Membangun Ahlak

Ada sesuatu yang menjadi persoalan mendasar belakangan ini yaitu bagaimana memungsikan akal di depan teks. Untuk memudahkan pemahamannya, Al-Maghamisi mengangkat dua hadist berbeda sebagai contoh. Satu hadits diriwayatkan bahwa paha itu aurat tapi ada hadits lain dari Muttafaq ‘Alaih bahwa Anas pernah melihat paha Rasulullah SAW.

Bagaimana menempatkan akal di hadapan dua hadist ini? Hal ini sangat penting karena belakangan ini muncul orang-orang yang tidak jelas keilmuaanya berbicara seakan ilmuwan hadits. Orang seperti itu memutuskan sesuatu yang benar menurutnya lalu menyalahkan orang lain.

Persoalan zaman sekarang ini bukan persoalan siapa yang hebat menghafal hadits. Saat ini, untuk mencari hadits sangat mudah, cukup buka internet, maka hadits yang dinginkan bisa didapat. Karenanya, yang dicari saat ini adalah ulama yang mampu menempatkan akal di depan dua teks yang terkesan kontradiktif. Karena ciri-ciri orang bijksana itu mampu melihat yang terbaik dari dua yang baik.

Sebetulnya, sederhana. Satu hadits menyebutkan bahwa paha itu aurat dan hadits kedua dari Muttafaq ‘Alaih bahwa paha Rasulullah SAW dilihat oleh Anas bin Malik. Sedangkan Anas bin Malik adalah pembantu Rasulullah SAW selama sembilan tahun.

Kalau paha itu aurat kenapa Rasulullah SAW membukanya dihadapan Anas?

Jadi akal itu sudah cukup membuktikan bahwa ternyata paha itu bukan aurat. Atau katakanlah paha itu aurat, mana mungkin Anas bin Malik menyebarkan aurat Rasulullah ke orang lain. Kalau paha itu aurat tidak mungkin Anas menyebarkan itu pada orang lain.

Sampai di sini jelas orang yang punya timbangan akal cerdas atau tidak. Maka persoalannya adalah bukan banyaknya hadist yang dihafal tapi sejauh mana mampu menempatkan akal di hadapan teks-teks yang beragam.

Orang-orang yang shalih adalah orang yang selalu memungsikan akalnya. Bukan berarti kita meninggalkan teks-teks agama tetapi kita diberikan akal oleh Allah supaya kita menggunakannya untuk berpikir. Kitab-kitab banyak yang bisa kita baca tetapi yang paling penting adalah bagaimana menggunakan pikiran kita untuk mengambil yang baik kemudian mengamalkannya dan membuang yang tidak baik lalu menjauhinya. Inilah fungsi akal sebagai saringan ilmu buat kita semua. *(habis)

Reporter : muhajir
Editor : Azh pawennay

Sebarkan Kebaikan!