Tiga Pesan Al-Maghamisi Saat Berkunjung ke AQL (1)

JAKARTA (AQLNEWS) – Pimpinan AQL Islamic Center KH Bachtiar Nasir memberikan sambutan istimewa atas kedatangan Imam dan khatib Masjid Quba, Madinah Syekh Shalih bin Awad al-Maghamisi ke Indonesia. Pakar tadabbur Al-Qur’an pun berkunjung ke AQL Islamic Center sekaligus mengisi kajian Tadabbur Al-Qur’an bersama KH Bachtiar Nasir di Aula AQL Islamic Center, Jakarta, Sabtu (6/5/17).

“Sepanjang saya mengajarkan ilmu tadabbur saya banyak mengambil manfaat dari beliau,” kata KH Bachtiar Nasir ketika menyambut Al-Maghamisi bersama Duta Besar Arab Saudi untuk Indonesia Usama bin Muhammad Abdullah Al-Syuaebi.

Setelah mengimami shalat isya, murid Syekh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz ini menyampaikan, ada tiga hal penting yang harus diperjuangkan oleh umat islam yaitu, pertama, membangun iman. Kedua, membangun ilmu. Ketiga, membangun ahlak.

1. Bagaimana Membangun Iman

Jika ingin mengokohkan iman maka ada lima hal yang harus dilakukan.

Pertama, Shidqulloh (Membenarkan Allah)

Seorang muslim harus punya kekuatan untuk membenarkan Allah SWT. Meyakini bahwa semua yang datang dari-Nya adalah benar. Inilah tiang semua kekokohan jiwa manusia.

Kedua, Zikrulilloh (Berdzikir kepada Allah)

Jangan lepas dari zikir kepada Allah SWT. Minimal kita punya wirid yang menjadi pegangan setiap. Sehingga kita punya wirid khusus untuk dibaca setia hari.

Ketiga, Tawakkal kepada Allah SWT

Bertawakkal kepada Allah SWT dalam segala hal. Kekokohan iman seseorang terletak pada tawakkalnya. Tetapi, yang perlu diingat adalah jangan tawakkal setelah lemah. Sejak awal harus bertawakkal kepada-Nya kemudian berjuang sekuat tenaga.

Keempat, Qiyamulllail (shalat malam)

Shalat malam adalah sumber kekuatan umat. Walau hanya sedikit jangan sampai tinggalkan qiyamullail dan harus ada shalat malam setiap malam. Tidak mungkin iman kita akan kuat tanpa qiyamullail.

Kelima, Tilawatul Qur’an (Membaca al-Qur’an)

Kewajiban seseoarng terhadap al-Qur’an adalah harus melihat al-Qur’an setiap hari. Mungkin di antara kita sudah ada yang hafal beberapa surah tapi itu tidak cukup, mata harus melihat lansung al-Qur’an.

Nasib kita hari ini tergantung berapa banyak al-Qur’an yang kita lihat dan baca. Jadi besar kecilnya riski yang akan kamu dapatkan hari ini tergantung pada bacaan al-Qur’an kita. Yaitu, membaca al-Qur’an lewat mushaf berapa banyak dan berapa lama.

Hal yang tidak kalah penting adalah bagaimana mengokokohkan perilaku kita untuk menjadi orang terhormat. Yaitu, bagaimana menghargai orang lain.

Ukuran keilmuan seseorang itu bukan dilihat dari seberapa besar orang menghargai kita atau kita minta dihargai oleh orang lain. Kitalah yang seharusnya menghargai orang lain sesuai dengan kapasitasnya.

Andai suatu hari kita tidak dihargai sebagaimana hak kita harus dihargai. Tidak perlu khawatir karena Allah SWT akan tentukan kepada orang lain yang seharusnya tidak menghargai kita menjadi menghargai kita.

Contoh, kita punya hak untuk dihormati oleh keluarga, saudara, atau siapa saja tetapi dia tidak menghargai kita. Maka tidak perlu menuntut kepada dia agar menghargai kita. Karena Allah SWT akan membuat orang lain yang seharusnya tidak menghargai kita menjadi menghargai kita.

Akan semakin baik kalau kita sering menghargai orang lain. Kalau memang orang itu besar maka besarkanlah dan jika agung maka agungkanlah sebagaimana mestinya.

Ukuran kemuliaan seseorang adalah ketika dia memuji dan menghargai orang dengan penuh keilmuan. Maka orang yang seperti itu sebenarnya orang yang terhormat. Orang yang tawaddu dan memuji orang lain dengan keilmuaan sebenarnya dialah orang yang mulia.

2. Membangun ilmu atau pemikiran yang cerdas

Syekh Shalih bin Awad al-Maghamisi memulai dengan satu pertanyaan. Yaitu, kapan wahyu terputus kepada Nabi Muhammad SAW?

Wahyu itu terputus ketika beliau wafat. Karena Rasulullah SAW mendapatkan ilmu lansung dari Allah SWT. Sedangkan umatnya harus lewat usaha, belajar, penelitian, dan kerja keras.

Tidak mungkin kita seperti Rasulullah SAW mendapatkan ilmu lansung dari langit. Sehingga kita wajib belajar dan berguru. Seseorang tidak dilarang memilih spesialisasi pada bidang ilmu tertentu. Akan tapi dasar-dasar ilmu alam (al-Qur’an dan hadist) harus dikuasai terlebih dahulu. Setelah itu silakan pilih spesialisasi di bidang ilmu apapun.

Syekh Shalih bin Awad al-Maghamisi menyampaikan tiga metodologi,

Pertama, Jangan hanya puas dengan satu bidang ilmu saja.

Jangan pernah puas dengan satu bidang ilmu saja namun pelajari semua cabang ilmu. Akan tetapi setelah kita menguasai ilmu-ilmu yang berkaitan dengan syariat islam. Beliau sempat memberitahukan bahwa refrensi itu ilmu-ilmu klasik tentang syariat dan beliau juga menyebutkan keutamaan ilmu-ilmu itu.

Kedua, pelajari ilmu kontemporer

Untuk zaman sekarang sangat penting juga membaca buku-buku kontemporer. Misalnya, tulisan tesis. Karya-karya ilmiah tesis kadang lebih bagus dari buku-buku yang ditulis oleh sembrangan orang sepeti, novel, cerpen dan buku-buku lainnya. buku-buku itu kelihatanya berisi tapi sangat rendah dari nilai akademisi.

Keutamaan kalau membaca tesis seorang doctor adalah karena diambil dari sebuah penelitian yang sudah teruji. Sementara yang dijual di pasaran banyak yang belum teruji. Sehingga jauh dari standar akademisi.

Kemudian keuntungan kedua membaca tesis adalah sama saja telah menelan hasil penelitian selama tujuh tahun atau lama tesis itu diteliti. Tentu sangat banyak pelajaran yang bisa dipetik di dalamnya.

Ketiga, Ciri-ciri orang berilmu itu terletak pada wara’nya.

Wara adalah meninggalkan yang sesuatu yang dibolehkan karena takut terperosok kepada yang tidak dibolehkan. Orang yang berilmu itu diukur dari sisi wara’nya.

Beliau menceritakan ada di atara kita yang mengaku ilmuwan tapi sering menghujat Abu habifah. Padahal imam Abu Hanifah adalah ulama yang tidak diragukan lagi keilmuan dan konstribusinya terhadao islam.

Banyak orang bodoh yang mencerca Abu hanifah karena riwayat-riwayatnya tidak sesuai dengan metodenya Imam Bukhari dan Imam Muslim. padahal Imam Muslim baru lahir pada saat Abu Hanifah sudah menjadi orang hebat. Orang seperti ini adalah orang yang kurang ilmu srta tidak ada sifat wara’ dalam dirinya. Karena terlalu gampang menghujat orang lain dan menganggap dirinya benar dan hebat.

Kemudian ciri orang berilmu yang kedua adalah hati-hati dalam berkata dan berperilaku. Seperti yang banyak orang Indonesia saat ini yaitu sangat gampang menyebarkan fitnah lewat medsos. Dan contoh lainnya adalah dalil orang syiah yang sering menghujat Aisyah. Salah satu contoh dalil yang paling hebat menggambarkan kemuliaan ibunda Aisyah RA adalah Rasulullah SAW wafat dalam pelukannya. Tentu ini menjadi argumentasi yang sangat tajam untuk melawan orang-orang syiah. Karena Allah yang pilihkan kenapa kekasih-Nya mati dipelukan Aisyah RA.

Oleh karena itu, tidak usah berdebat dengan orang yang kurang ilmu dan kurang akal dengan hal-hal yang tidak penting. Karena Terkadang tidak menjawab adalah jawaban.

Syekh Shalih al-Maghamisi menjelaskan, seseorang dikatakan kuat akalnya jika sudah tunduk kepada ayat-ayat al-Qur’an. Maka jangan dibalik menundukkan ayat-ayat al-Qur’an pada akal.
Kemudian beliau menceritakan perumpamaanya. Ada bocah empat tahun yang bertanya kepada ayahnya,

“Bagaimana ceritanya kenapa bisa akua da di dunia?”

Tidak mungkin sang ayah menceritakan detil proses pembuatan itu saat bersama istrinya. Karena jika diceritakan anak umur empat tahun tidak mungkin bisa memahaminya.

Maka ciri-ciri orang yang akalnya sudah hebat adalah jika akalnya sudah tunduk kepada al-Qur’an. (Bersambung)

Reporter: muhajir
Editor : azh pawennay

Sebarkan Kebaikan!