The Point of No Return

The Point of No Return

Perjuangan melawan penistaan agama mencapai titik di mana tidak ada lagi jalan untuk kembali. Menengok ke belakang pun tidak boleh. Inilah yang disebut The Point of No Return yaitu titik dimana sudah tidak ada lagi kesempatan untuk kembali.

Aksi Bela Islam tak akan surut ke belakang. Allah telah memberikan izzah kepada ummat Islam. Izzah ummat Islam telah kembali dan terus bergelora pasca Aksi 212. Aksi 212 bermetamorfosa menjadi semangat 212 sebagaimana spirit perjuangan para pendahulu negeri ini dalam Semangat 45. Musuh Islam di depan mata, kemenangan sudah menanti. Jangan mundur selangkah pun!!!

Perjuangan untuk penegakan hukum dan keadilan adalah gerakan tiada henti. Keadilan sosial harus dimulai dengan penegakan hukum. Salah satunya dimulai dari kasus penistaan agama.

The point of no return pada Aksi Bela Islam terletak pada kondisi penegakan hukum yang tumpul ke atas tapi tajam ke atas. Selama sandiwara penegakan hukum terus berlangsung, selama itu pula kita terus berjuang demi keadilan sosial. Hukum dipolitisasi tapi kami yang dituduh berpolitik.

Ada yang menangis di persidangan, kasihan apa tidak? Ini namanya kreativitas dalam persidangan. Apalagi disiarkan secara live sehingga berbelas kasih untuk menarik simpati. Tetapi apakah masyarakat mudah bersimpati? Tidak. Karena orang kalau sudah tidak lurus, salah terus kerjanya. Hukum tidak bisa tunduk hanya karena deraian air mata penista agama. Masyarakat sekarang sudah skeptis. Perjuangan Penegakan hukum panjang sehingga semangat 212 harus terus dijaga.

Point of no return terjadi karena hukum di negeri ini bermasalah. Sadarkah kita pada aksi 212 dimana jutaan ummat Islam berkumpul di Monas tanpa mengetuk lagi pintu istana? Ummat Islam sudah mencapai titik di mana saatnya mereka mengetuk pintu langit. Tidak ada satu pun pintu kebaikan dan kemenangan yang mampu mengalahkan kala pintu langit sudah terbuka. Yakinlah kedekatan kepada Allah Azza wa Jalla adalah puncak penghambaan dan terbukanya semua tabir yang menghalangi. Allah sudah kembalikan kekuatan ummat Islam. Allah kembalikan izzah ummat Islam dan memberikan momentum kebangkitan ummat Islam.

Karenanya semangat 212 harus dijaga dan jangan gagal fokus. Polisi dan tentara bukan musuh Islam. Kita memang tidak punya penguasa dan tidak punya uang besar tetapi kita punya Allah Yang Maha Kuasa.

Revolusi itu sedang berjalan. Memang bentuknya smooth tapi pasti. Adem tapi menggilas dan melibas. Gerakannya menggelora. Kini malah GNPF yang dikejar gelora ummat.

Bukan hanya sistem hukum yang mencapai titik nadir, tapi sistem politik pun menjelma jadi politik pragmatis. Dalam setiap pilkada saja, rakyat terus menerus dibodohi dengan uang politik dan serangan fajar.

Dengan semangat 212, kita harus lawan serangan fajar itu dengan shalat Fajar berjamaah di masjid-masjid. Kita akan sweeping kalau ada yang bawa sembako. Insya Allah ummat Islam punya jurus yang jitu. Orang-orang Islam jangan mau diiming-imingi uang untuk kepentingan sesaat.

Di GNPF tidak ada program.
Program GNPF itu menyerap aspirasi ummat. Setelah aksi 212 muncul isu jumroh, lalu dengan sendirinya muncul aksi boikot metro tv. Selanjutnya boikot sori roti. Ummat Islam sudah bergerak dan bergelora menyuarakan kebenaran, GNPF harus bisa menyerap agar tidak menjadi bias.

Aceh menuntut persaudaraan Islam. Gelora ini lagi muncul. Semangat persatuan harus dikelola dengan baik. Persaudaraan dan persatuan Islam lagi hangat-hangatnya. Ini yang menggema di Indonesia. Anda yang sedang sibuk dengan karir, jangan kehilangan momentum ini. Anda harus berada dalam pusaran 212. Perbedaan di antara kalian persempitlah, coba berjalan dan menatap ke depan dengan persamaan-persamaan.

Aksi 212 adalah sejarah baru Shalat Jumat terbesar di muka bumi ini. Lalu disusul Shalat Subuh berjamaah terbesar di Bandung pada 12 Desember atau disebut 1212. Waktu subuh adalah waktu yang diberkahi oleh Allah. Pasukan Subuh 1212 sudah lahir. Subuh adalah momentum kebangkitan. Getarkan musuhmu tetapi dengan cara-cara konstitusional.

Mengambil pelajaran dari Aceh karena gempa bumi terjadi 15 menit sebelum subuh dan titik gempa bersumber dari beberapa masjid. Masjid cukup banyak yang roboh sehingga shalat kita harus dibenarkan terutama shalat subuh.

Saat ini muncul keresahan ummat dimana sebagian pengusaha mewajibkan karyawannya menggunakan topi santa. Penggunaan topi santa harus dilawan. Lakum dinukum waliyadiin. Bilang sama pimpinan kalian, Anda dilindungi oleh Undang-Undang untuk memerangi pemaksaan menggunakan simbol-simbol agama lain. (disarikan dari cermah KH Bachtiar Nasir)


*azh

Sebarkan Kebaikan!