Teladan Kesederhanaan dari Pahlawan NKRI

DARI bumi pertiwi Indonesia, kita beruntung memiliki pahlawan-pahlawan yang memberikan teladan baik untuk ditiru. Sebagai contoh mengenai tema kesederhanaan. Pahlawan-pahlawan nasional yang berkontribusi memerdekaan kala itu rata-rata hidupnya bersahaja. Bahkan, lebih banyak menderita daripada bersuka ria. Ini tidak mengherankan karena bagi mereka, yang namanya pemimpin harus rela menderita demi rakyatnya.

Sebagai contoh, Kasman Singodimejo dalam buku 100 tahun Haji Agus Salim (1996: 163, 175) ketika melihat secara langsung kondisi Agus Salim yang mengontrak di gang yang jalannya becek dan sempit, beliau pernah mengatakan, “Leiden is lijden.” (memimpin itu menderita). Kata-kata ini lahir setelah melihat kemelaratan The Grand Ould Man, KH. Agus Salim.

Diplomat jenaka ini selama hidupnya memilih hidup sederhana. Walau ada kesempatan untuk menjadi kaya, namun selama hidupnya melarat. Tempat tinggalnya selalu berpindah-pindah dari satu kontrakan ke kontrakan lain. Bahkan, pernah istrinya muntah-muntah di tempat kontrakan yang WC-nya sedang rusak.”

Selain Agus Salim, teladan kesederhanaan juga didapat dari figur Mohammad Natsir. Artawijaya dalam buku Belajar dari Masjumi (2014: 145)          mencatat bahwa saat Natsir menjadi Perdana Mentri RI Pertama dan Menteri Penerangan pada masa Sutan Sjahrir, tak sungkan-sungkan untuk pulang ke rumah naik becak, sehabis jam kerja. Saat tak menjabat, mobilnya dikembalikan dan ketika pulang naik sepeda ontel dengan supir pribadinya. Jabatan bagi Natsir tidak dijadikan aji mumpung. Fasilitas negara tidak membuatnya jemawa, justru semakin bersahaja.

Teladan kesederhanaan juga bisa kita dapat dari sosok Mohammad Hatta. Dalam buku 101 Kisah Inspiratif Mereka yang Hebat dan Tak Pernah Patah Semangat, ada cerita mengenai Hatta yang cukup mengharukan. Di tahun 1950 saat masih menjabat sebagai wakil presiden, beliau tertarik dengan sepatu bermerk Bally. Karena tidak memiliki uang yang cukup, akhirnya ia menabung. Sampai akhir hayatnya, beliau tidak mampu membelinya. (Assep Purna, 2011: 24). Bayangkan, sekelas wakil presiden tidak mampu membeli sepatu impiannya sampai akhir hayatnya.

Masih dalam buku yang sama (2011: 216), kita akan menemukan teladan kesederhanaan dari Buya Hamka. Dalam buku ini diceritakan bahwa sebelum menjadi ulama yang populer, Hamka hidupnya sangat sederhana. Rumahnya pernah bocor dan tidak memiliki biaya yang cukup untuk menambalnya. Meski demikian beliau tidak pernah meratapinya. Akhirnya harus ditadahi dengan ember. Ketika air semakin parah masuk ke dalam rumah. Malah istrinya membuat kapal dari kertas untuk bermain kapal-kapalan dengan anak-anaknya di atas baskom penampungan air. Luar biasa. Walau hidup sangat bersahaja, bahkan bisa dibilang melarat, beliau bersama tidak pernah meratap, malah mencari cara untuk mengubahnya sebagai kebahagiaan.

            Lebih parah dari itu, dalam buku Presiden Prawiranegara Kisah 207 Hari Syafruddin Prawira Negara Memimpin Indonesia (Basral, 2011: 25), Pahlawan Nasional Syafruddin Prawiranegara, Mentri Keuangan bahkan pernah menjadi Presiden sementara, begitu bersaha hidupnya sampai suatu hari tidak bisa membelikan gurita atau popok buat anaknya.”

Wahid Hasyim yang pernah menjabat jadi Menteri Agama RI juga meneladankan hidup sederhana.  Dalam buku Menteri-Menteri Agama RI: Biografi-Sosial-Politik (1998: 101). Beliau dikenal dengan kesederhanannya. Bahkan ketika menjabat menjadi Menteri Agama pun kesederhanaan tersebut tetap menjadi bagian dari sifatnya. Sebagai contoh, beliau tetap bersedia menerima tamu kapan saja dan di mana saja tanpa harus membuat janji dulu. Bahkan pada waktu it, ada pepatah bahwa kantor Menteri Kementrian Agama adalah mushalla sedang rumah Wahid Hasyim adalah hotel. Ini sekadar menunjukkan bahwa bagaiamana bebas dan mudahnya orang datang dan menemuinya, baik itu di kantor maupun di rumah.

Sebenarnya, masih banyak contoh-contoh lain dari pahlawan negeri. Namun, contoh-contoh tersebut penulis pikir cukup untuk meneladani hidup sederhana dari pahlawan negeri. Meski kehidupan mereka bersahaja, tapi persembahan mereka untuk negeri ini tidaklah sederhana. Kita bisa menikmati kemerdekaan hingga detik ini –setelah rahmat Allah- tentu karena jasa-jasa mereka yang memilih hidup sederhana. Wallahu a’lam.

*Amoe Hirata

Sebarkan Kebaikan!