Tekad Mendapatkan Ampunan dan Terbebas dari Siksa Api Neraka

KH BACHTIAR NASIR
(Tausiah Ramadhan di Masjid AQL Islamic Center)

IMPIAN dan doa kita agar sampai pada bulan Ramadhan dikabulkan oleh Allah SWT sehingga kita benar-benar dipertemukan dengan bulan suci ini. Terbentang sejuta harapan di depan mata untuk meraih rahmat dan ridha Allah SWT dan terbentang semua jalan keluar dari berbagai persoalan yang menghimpit selama ini. Bagi orang yang agung jiwanya pasti akan merasakan keagungan al-Qur’an, keagungan bulan suci Ramadhan dan keagungan semua ibadah yang ada di bulan suci Ramadhan ini.

Tidak ada kata yang pantas kita utarakan pada malam pertama Ramadhan ini kecuali tasbih, tahmid, tahlil, dan sujud syukur kepada Allah SWT. Lalu bagaimana langkah ke depan agar capaian kita menjadi optimal? Pada malam pertama ini, mari kita tancapkan tekad kuat untuk ikhlas karena Allah dan hanya mengharapkan balasan dari-Nya atau imanan wa ihtisaban. Kemudian memohon kepada-Nya agar bisa beribadah sebanyak-banyaknya dan semampu kita sampai tak sanggup lagi. Dengan strategi dan pendekatan imanan wa ihtisaban maka dua ibadah agung yaitu shiam dan qiyam maka Allah akan mengampunkan dosa-dosa kita yang telah lalu.

Malam pertama Ramadhan kita sudah memulai berniat dan mencanangkan misi untuk puasa dan qiyam dengan dasar takwa kepada Allah SWT. Niatkan agar semua ibadah hanya untuk-Nya maka Insya Allah, Allah menurunkan ampunan-Nya kepada kita. Jika pada malam pertama dosa telah diampunkan malam berikutnya menjadi ringan untuk melakukan ketaatan karena ciri-ciri orang yang belum diampunkan dosanya pada malam pertama Ramadhan adalah tidak memiliki tekad kuat dan tidak memiliki target-target di bulan suci Ramadhan. Sebelum terlanjur jauh maka tekadkan untuk bertakwa kepada-Nya dengan sungguh-sungguh lewat shiam dan qiyam dengan dua strategi yaitu imanan wa ihtisaban.

Dengan imanan kita yakin bahwa perintah dan semua syariat datang dari Allah SWT dan ihtisaban kita melakukan perintah itu karena ingin mendapatkan balasan dari-Nya. Tentu imanan wa ihtisaban itu akan semakin sempurna jika ditambah dengan membaca al-Qur’an, memperbanyak zikir dan memperbanyak tasbih di waktu pagi dan petang, bersedekah tiap hari lewat memberikan ta’jil dan makanan untuk berbuka puasa, dan bertekad untuk shalat malam setiap hari. Jika semua tekad itu sudah dicanangkan dalam jiwa dan sungguh-sungguh ingin melakukannya niscaya separuh dosa-dosa sudah diampunkan oleh Allah sehingga menjadi judah beribadah.

Orang yang bertekad kuat pada malam pertama Ramadhan untuk tidak menyia-nyiakan momentum dahsyat ini maka ia telah dijamin terbebas dari api neraka. Karena pada bulan inilah pintu surga dibuka sementara pintu neraka ditutup dan setan dari jin dibelenggu sehingga memudahkan untuk mendekatkan diri kepada Allah. Maka jangan lalai dan lengah, bersemangat sejak malam pertama dan tetap jaga kondisi agar tetap bisa istiqamah sampai malam terakhir. Belum tentu kebaikan yang selama ini dilakukan mengantarkan kita pada ampunan-Nya dan terbebas dari api neraka, maka beruntunglah orang yang mendapatkan dua jaminan itu pada bulan mulia ini.

Tidak semua orang bisa menangkap atau merasakan resonansi getaran bulan suci Ramadhan pada malam hari ini. Karena menyikapi bulan Ramadhan dengan biasa-biasa saja atau masih dengan paradigma Ramadhan tahun-tahun lalu. Setan tidak akan pernah berhenti untuk menjerumuskan manusia dari jalan benar maka mintalah perlindungan kepada Allah SWT.

وَقُلْ رَبِّ أَعُوذُ بِكَ مِنْ هَمَزَاتِ الشَّيَاطِينِ. وَأَعُوذُ بِكَ رَبِّ أَنْ يَحْضُرُونِ

“Dan katakanlah: “Ya Tuhanku aku berlindung kepada Engkau dari bisikan-bisikan syaitan. Dan aku berlindung (pula) kepada Engkau ya Tuhanku, dari kedatangan mereka kepadaku.” (QS. al-Mukminun: 97-98)

Malam ini pintu neraka memang ditutup dan setan diikat sehingga jalan-jalan setan untuk membawa kita ke neraka juga ditutup, tapi boleh jadi karakter dan kebiasaan setan yang sebelas bulan membentuk kita akan mempengaruhi satu bulan ini. Kebiasaan setan tidur sepanjang malam tanpa berpikir untuk bangun shalat tahajjud, kebiasaan setan yang tidak pernah menkhatamkan al-Qur’an, dan kebiasaan setan yang tidak pernah berniat memperjuangkan Islam. Oleh karena itu, mohonlah perlindungan kepada Allah agar bisa keluar dari kebiasaan dan karakter setan.

Bergabunglah bersama hamba-hamba Allah yang shalih dan minta kepada-Nya agar kita digolongkan bersama hamba-hamba yang bertakwa.

حَتَّىٰ إِذَا جَاءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ. لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ ۚ كَلَّا ۚ إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَائِلُهَا ۖ وَمِنْ وَرَائِهِمْ بَرْزَخٌ إِلَىٰ يَوْمِ يُبْعَثُونَ.

“(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata: “Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampal hari mereka dibangkitkan.” (QS. al-Mukminun: 99-100)

Orang yang masih berkarakter setan dan kebiasaannya setiap hari masih mengikuti setan maka pada saat mati mereka akan menyesal dan meminta untuk dikembalikan ke dunia walau hanya sedetik untuk bersedekah dan beramal shalih. Akan tetapi, Allah langsung menjawab bahwa perkara itu adalah hal yang mustahil. Seandainya orang yang berada di dalam kubur bisa didengar jeritannya maka perkataan mereka persis dengan yang digambarkan oleh al-Qur’an yaitu surat al-Mukminun ayat 99 dan 100. Banyak orang-orang saat ini yang juga diberi kesempatan berada dalam bulan Ramadhan tetapi ideologi mereka materialisme sehingga susah untuk mendapatkan berkah Ramadhan.

Satu jam bahkan satu detik pun, jangan terlewatkan tanpa nilai ibadah pada bulan mulia ini. Karena sangat banyak rahmat dan ampunan serta kebesaran dan keagungan Allah yang diberikan pada bulan suci ini. Jadikan Ramadhan tahun ini sebagai tempaan ruhiyah dan tempaan diri untuk menjadi pejuang Islam karena Allah dan Malaikat-Nya langsung yang akan mentarbiah, hanya diminta untuk menyiapkan waktu dan biarkan diri kita terempas oleh kehendak-Nya sehingga jiwa kita selaras dengan keinginan-Nya. Ibadah-ibadah yang selama ini dilalaikan maka lakukan semua pada bulan Ramadhan.

Abu Bakar RA berkata, “Aku tidak rela Islam mundur sementara aku hidup pada masa Islam mundur.” Maka sangat kacau jika hari ini masih ada orang Islam yang santai-santai saja sementara agamanya dinistakan. Siapa saja yang ingin merasakan lompatan besar dalam hidupnya dan merasakan perubahan-perubahan signifikan dalam karirnya maka hiduplah bersama Islam karena tidak ada yang paling hebat selain digolongkan kepada hamba-hamba Allah yang shalih. Bulan Ramadhan adalah bulan yang tepat untuk menempa diri lebih baik dan membentuk ruhiyah.

Ramadhan adalah bulan yang tapat untuk bisa menempa diri menjadi orang yang disiplin waktu, membentuk pola pikir dan berlatih untuk hidup bersama Islam. Sebuah egoisme jika hanya memikirkan diri sendiri pada bulan Ramadhan ini. *muhajir

Sebarkan Kebaikan!