TARHIB RAMADHAN: Menumbuhkan Integritas untuk Mencapai Derajat Takwa

KH BACHTIAR NASIR
(Tarhib Ramadhan di Kampus STIAMI,Pangkalan Asem, Cempaka Putih, Jakarta)

KALAU saat ini kita bisa mendengar jeritan penduduk kubur, jasad kita pasti bergetar mendengarnya. Apa yang gerangan yang dikatakan oleh penduduk kubur? Sebagaimana yang telah digambarkan dalam surat al-Mu’minun ayat 99 dan ayat 100:

حَتَّىٰ إِذَا جَاءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ. لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ ۚ كَلَّا ۚ إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَائِلُهَا ۖ وَمِنْ وَرَائِهِمْ بَرْزَخٌ إِلَىٰ يَوْمِ يُبْعَثُونَ

“(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata: “Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampal hari mereka dibangkitkan.”

Ketika kematian telah datang kepada orang yang mendustakan ayat-ayat Allah, mereka memohon kepada-Nya agar dikembalikan ke dunia untuk berbuat amal shalih. Akan tetapi, Allah menegaskan “Kalla”, sekali-kali tidak, maka itulah yang membuat mereka semakin menjerit. Hikmah di balik jeritan mereka agar kita yang masih hidup tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk memperbanyak kesalihan. Lalu, apabila ditanya kepada penduduk kubur amalan apa yang diprioritaskan jika seandainya diberi kesempatan?

Prioritas utama yang akan mereka kerjakan yang andai hanya punya waktu satu detik adalah bersedekah dan mengikhlaskan semua kebaikan yang pernah dilakukan karena Allah SWT. Apalagi menjelang Ramadhan seperti ini, penduduk kubur itu akan semakin menjerit karena diperlihatkan keutamaan bulan suci Ramadhan dan bersedekah di dalamnya serta beramal shalih dengan ikhlas kepada Allah semata. Karena Ramadhan adalah bulan dilipat gandakannya rahmat Allah dan ampunan-Nya terbuka lebar. Barangsiapa yang mendapatkan bulan suci Ramadhan, pasti penduduk kubur akan berkata, jangan kau lalaikan walau sehari pun waktu-waktu Ramadhan itu atau mereka juga akan berteriak, jangan lewatkan walau sedetik pun kesempatan beramal di bulan suci Ramadhan. Karena di malam-malam Ramadhan, ada orang yang masih hidup di dunia tapi setiap malam Ramadhan Allah menjaminnya telah terbebas dari api neraka. Orangnya masih hidup dan kemungkinan masih mendapatan Ramadhan tahun depan, tapi tahun ini orang itu sudah dicatat oleh Allah SWT sebagai penghuni surga.

Sebagaimana para pejuang Badar karena totalitas mereka dalam keikhlasan integritas dan dedikasi mereka dalam berjuang karena Allah sehingga dijamin ampunan atas dosa-dosa mereka. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengingatkan:

فَقَالَ أَلَيْسَ مِنْ أَهْلِ بَدْرٍ فَقَالَ لَعَلَّ اللَّهَ اطَّلَعَ إِلَى أَهْلِ بَدْرٍ فَقَالَ اعْمَلُوا مَا شِئْتُمْ فَقَدْ وَجَبَتْ لَكُمْ الْجَنَّةُ أَوْ فَقَدْ غَفَرْتُ لَكُمْ فَدَمَعَتْ عَيْنَا عُمَرَ وَقَالَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ

“Bukankah ia (Haathib) itu termasuk yang ikut perang Badr? Dan Allah telah menyaksikan Ahli Badar, seraya berfirman: ‘Berbuatlah apa yang kalian kehendaki, sungguh surga telah pasti bagi kalian’, atau dalam riwayat lain: ‘Aku telah mengampuni kalian’.” (HR. Bukhari Muslim)

Artinya, walaupun mujahid Badar itu masih hidup, Allah melindungi mereka agar tidak melakukan tindakan-tindakan yang bisa menjerumuskan ke dalam api neraka.

Pada bulan Ramadhan akan banyak orang yang dijamin kesuksesannya oleh Allah SWT. Sebab, yang membuat karir terhambat, gaji kurang berkah, dan hidup tidak bahagia, karena kemaksiatan yang dilakukan karena Dia tidak memberi perlindungan.

Selanjutnya, bagaimana menjadikan nilai-nilai Ramadhan membentuk integritas ketakwaan seseorang kepada Allah SWT?

Jika ingin sukses di bulan ramadhan maka harus beginning from the end (mulai dari belakang ke depan), sebab episode kehidupan manusia akan berjumpa dengan kematian dan ujung dari segalanya adalah berjumpa dengan Allah SWT.

Orang yang akhirat oriented maka dialah yang menjalani hidup dengan memulai dari bagian akhir yaitu menuju Allah SWT dan beriman kepada hari akhir dialah yang dijamin kesuksesan. Contohnya, dalam al-Qur’an dan hadits ada enam rukun iman yaitu iman kepada Allah, iman kepada Malaikat, iman kepada Kitab, iman kepada Rasul, iman akhir akhir, dan iman kepada qada dan qadar.

Beginning from the end maksudnya adalah tidak mungkin mempercayai qada dan qadar kalau belum yakin pada hari akhirat. Tidak mungkin mendapat informasi tentang iman kepada hari akhir selain dari para Rasul, Rasul mendapat informasi dari kitab, kitab turun melalui perantara Malaikat, dan Malaikat atas perintah Allah SWT.

Maka, jika ingin menjadikan tempat kerja, sekolah, dan rumah sebagai jembatan masuk maka mulailah memperkuat iman pada hari akhir untuk memantapkan iman kepada Allah, Malaikat-Nya, Rasul-Nya, Kitabullah, qada dan qadar. Jangan sebaliknya, menginginkan surga tapi melakukan perbuatan ahli neraka.

Misalnya, ada anak muda berdoa minta surga tapi masih pacaran. Maka timbul pertanyaan, manusia itu keturunan penduduk surga atau penduduk neraka? Pada hakikatnya manusia itu adalah keturunan penduduk surga dari Nabi Adam AS dan Hawa sehingga jangan penah bergaul dengan penduduk ahli neraka.

Goal Ramadhan adalah takwa yaitu bekal utama untuk mendapatkan surga Allah SWT. Takwa adalah kata universal untuk berbagai jenis kebaikan tetapi jenis kebaikan yang dilakukan atas dasar takwa berbeda dengan al-Birru, al-Khairu, al-Hasanah, atau amal shalih.

Ada banyak kategori perbuatan baik yang disebutkan dalam al-Qur’an dan takwa adalah salah satu dari kategori itu. Untuk mendapatkan goals takwa yang penuh integritas maka terlebih dahulu harus mengerti definisi takwa yang menjadi goalsnya.

Ibnu Taimiyah menjelaskan takwa yaitu membuat dinding pemisah antara dirimu dengan azab Allah. Apa dinding pemisah itu? Dinding pemisah itu adalah takwa yang bisa memisahkan manusia antara azab Allah SWT. Ibnu Mas’ud berpendapat, yang memisahkan manusia dengan azab Allah ada tiga, Allah untuk ditaati bukan untuk dimaksiati, Allah itu untuk diingat bukan dilupakan, dan Allah untuk disyukuri bukan dikufuri. Hasan al-basri berkata, seseorang bisa dikatakan bertakwa karena meninggalkan yang dihalalkan karena khawatir terperosok kepada yang diharamkan.

Secara garis besar kata takwa itu sebuah tindakan preventif yaitu menjaga diri agar tidak terjerumus ke dalam maksiat yang bisa menjerumuskan kepada api neraka dan takwa itu adalah semua jenis kebaikan yang tindakannya preventif. Bulan Ramadhan membentuk manusia untuk bertindak secara preventif atau menjaga diri agar tidak terjerumus ke dalam jurang maksiat.

Integritas seorang muslim akan sukses jika tindakannya dilandasi dengan takwa. Misalnya, seorang dosen yang lebih mementingkan upah daripada mencerdaskan mahasiswanya, membiarkan anak didiknya pacaran, tawuran, tidak mendidik ahlak mereka, dan tidak menjadi tauladan bagi mahasiswanya, maka dosen yang demikian diragukan integritasnya sehingga susah untuk mencapai derajat takwa.

Dosen agama yang hanya mengajarkan syariah secara teori maka integritasnya di hadapan Allah rendah. Untuk naik jabatan tapi nyogok, mungkin gaji pokoknya halal tapi tunjangan jabatan itu haram. Untuk mendapatkan integritas di hadapan Allah, perlu modal takwa dan di bulan Ramadhan jiwa dibentuk untuk mencapai derajat takwa. Karena menjaga diri itu lebih daripada mengobati dan meninggalkan yang halal karena khawatir terperosok kepada yang haram.
Jika ingin menjadi pribadi yang berintegritas takwa maka mulai hari ini standard takwanya harus dirubah. Allah SWT membocorkan standard itu dalam surat al-Hujurat ayat 13,

وَقَبَائِلَ ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

“Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”

Ukuran standard takwa itu berasal dari Allah SWT yang telah disebutkan dalam ayat di atas. Ukuran tinggi dan rendah seseorang bukan diukur dari jabatan tapi ketakwaan kepada Allah SWT. Orang yang mempunyai integritas tinggi tidak pernah takut siapapun yang dia hadapi, apapun jabatannya, karena telah memiliki identitas di hadapan Tuhannya.

Pada bulan Ramadhan manusia sedang dibentuk dengan dua sistem yang luar biasa yaitu shiam dan qiyam. Dua sistem ini hanya bisa menjadi hebat jika diolah dengan dua metode yaitu imanan wahtisaban. Artinya, mengerjakan shiam dan qiyam dengan volume iman yang maksimal dan orientasinya akhirat untuk mendapatkan balasan yang murni dari Allah SWT dan kebahagiaan di akhirat. Jika dua sistem itu dilakukan dengan dua metode tadi maka kesuksesan balasan dan kebahagiaan di akhirat sebagai upah. Misalnya, kenapa hadits dan ayat sering menggabungkan rukun iman yang pertama dan rukun iman yang kelima yaitu beriman kepada Allah dan hari akhir.
Ada orang yang pendek usianya tapi panjang umurnya dan ada orang yang panjang usianya tapi pendek umurnya.

Usia itu pulsa hidup dan pulsa hidup itu hanya sebentar tapi umur adalah pemanfaatan usia itu. Contoh, orang bertakwa yang mempunyai pulsa seratus ribu, ia menggunakan itu untuk berdakwah dan mengajak kepada Allah, sementara orang yang tidak ada takwa dalam hatinya pulsa sebanyak apapun tidak ada manfaatnya untuk agama. Akhiratnya, walaupun usianya pendek tapi umurnya panjang.

Jika ingin lebih hebat maka nilai-nilai Ramadhan yang paling cepat membentuk integritas selain shiam dan qiyam adalah jika berhasil menginstal al-Qur’an ke dalam qalbu. Percepatan itu terjadi kalau al-Qur’an terinstalasi dan bersama setiap sel-sel tubuh atau dalam bahasa akademiknya internalisasi diri bersama al-Qur’an. Proses instalasi ini yang harus menjadi prioritas lain dalam bulan Ramadhan. Ramadhan itu ada untuk persiapan diturunkannya al-qur’an. Oleh karena itu, pada tanggal satu Ramadhan ada orang yang berada dalam lorong waktu yang berhasil membawanya pada sebuah kecepatan dan ada orang yang masih berkubang dosa dan tertinggal. Pilih mana, mau menumbuhkan integritas nilai-nilai Ramadhan untuk mencapai derajat taqwa atau menjadi orang yang tertipu dan tertinggal? *muhajir

Sebarkan Kebaikan!