Tantangan Generasi Muda di Tengah Benturan Peradaban

Al-Qur’an adalah resensi buku masa lalu, masa sekarang, dan masa depan. penelitian dan penemuan ilmiha yang ditemukan ara ilmuwan hanyalah memperkuat kesistensi Al-Qur’an.

Masalah umat terdahulu adalah malas membaca dan menulis. Generasi anak zaman sekarang, memang rajin membaca dan menulis, tapi mereka tidak punya daya baca dan daya nulis yang kuat. padahal, salah satu syarat utama terciptanya sebuah peradaban adalah jika generasi mudanya sudah memiliki daya baca dan daya nulis yang kuat.

Catatan untuk para orang tua, jangan didik anak-anakmu untuk di hidup di zamanmu, tapi didiklah mereka untuk hidup di zamannya. Tidak masalah mereka menggunakan fasilitas zaman modern, justru itu akan melejitkan mereka dalam belajar. Tentu dengan kode etik yang kita tanamkan kepada mereka terlebih dahulu, agar ia tidak menyalah gunakan smartphonenya.

 

Anak zaman sekarang belajar dengan cara fun (gaya hidup). Banyak anak zaman sekarang ketika dibacakan kitab kuning, mereka bosan dan tidak mau datang lagi. Hadits-hadits perlu dibacakan, tetapi harus diberikan narasi yang sesuai dengan fikiran dan jiwa mereka, agar hadits itu tidak membosankan. Misal, mengajari mereka hadits atau ayat yang bercerita tentang alam. Maka putarkan kepada mereka film yang bercerita tentang penciptaan alam, apa itu teori big-bang, lapisan atmosfir, sungai dalam laut, dan lain-lain sebagainya. Sehingga anak-anak itu betah dalam belajar dan tentu tidak menghilangkan dunia mereka dalam belajar.

Dengan demikian anak akan mengerti bahwa ada alternatif film yang edukatif fun intertraining. Maka sejak kecil mereka akan terbiasa dengan hal yang baik. Tentu mereka akan memiliki cara pandang berbeda terhadap film-film, jika mereka di beri you tube, yang mereka cari adalah ilmu, diberi tontonan tidak bermoral secara naluri mereka akan menolak, karena sejak kecil dididik dengan kreatifitas orang tuanya.

Ayah bisa melakukan percepatan dengan gaya pendidikan yang fun. Contoh, pelajaran matahari di sekolah, jika anak hanya diajari lewat buku, maka persepsi mereka terhadap matahari jauh berbeda dengan matahari yang asli. Percepatan belajar anak bisa 100 kali disbanding temannya yang hanya mengetahui matahari lewat buku pelajaran di sekolah, apalagi kalau bukunya hanya fotocopy. Boleh jadi temanya yang kuat menghafal nilainya bagus tapi, secara pengalaman anak kita mendapatkan data sains yang ril yang belum tentu didapatkan temanya yang kuat menghafal itu. Endingnya, anak-anak tinggal dibawa kepada pemahaman agama dan mengenalkan anak lewat ciptaan-Nya, maka lambat laung karakter mereka akan terbentuk sesuai yang ayah inginkan. Mendidik Anak dengan cara fun di era digital ini.

Jika anak tumbuh dengan cara pendidikan yang tepat dengan melihat kondisi zaman dan tidak merampas masa kecil anak, maka ia bisa diandalkan untuk menjadi front terdepan membangun peradaban.

 

Benturan perdaban saat ini tidak hanya terjadi di Indonesia, tapi sudah mengglobal. Peradaban barat dengan kapitalismenya dan peradaban timur dengan komunis-atheisnya. Islam berada di tengah kedua peradaban itu, sehingga menjadi tantangan bagi generasi muda bagaimana menciptakan peradaban Islam yang bisa menjadi penyeimbang dan memberikan solusi. Tidak hanya pemuda, hal ini wajib diketahui oleh semua kalangan, agar bisa menciptakan sinergi antara kaum tua dan kaum muda untuk menciptakan peradaban Islam.

Pertarungan peradaban barat dan peradaban timur. Barat yang diwakili oleh Eropa dan Amerika dengan ideologi materialisme yang melahirkan sistem kapitalisme. Timur dengan ideologi atheis dan menganut sistem komunisme. Sehingga Indonesia dengan kekuatan umat Islam yang dimilikinya, harus memanfaatkan hal itu untuk menciptakan peradaban Islam yang berakidah tauhid dengan memakai sistem khilafah.

Pengalaman selama ini seharusnya membuka mata kita, bagaimana pengaruh barat ketika menjajah Indonesia. Walau pada saat ini aurah kapitalis masih sangat terasa, ekonomi ribawi masih sangat kental, di mana Negara dikelolah dengan sistem utang. Kemudian peradaban timur yang mulai bangkit, jika Indonesia (mencoba-coba) berkiblat ke timur maka (mau tidak mau) ideologi atheis akan masuk kemudian mengadopsi sistem komunis dalam mengelolah negara. untuk itu, (sekali lagi) genarasi muda Islam harus memurnikan tauhid agar bisa membangun peradaban dengan dasar-dasar Al-Qur’an dan As-Sunnah. Salah besar jika orang tua masa kini mendidik anak-anaknya untuk menjadi kebarat-baratan, atau menganggap sumber ilmu ada di barat atau di timur.

Memang dari sisi sains dan teknologi mereka maju, tapi kebejatan materialisme di barat dan komunis di timur membuat moral dan akhlak runtuh. Oleh karena itu, jika ingin kuat secara keilmuan dan ilmu yang benar kemudian mencapai puncak kebahagiaan dan kemuliaan, maka jawabannya ada pada surat Az-Zumar ayat 9;

Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran. (QS. Az-Zumar: 9)

Kunci sukses untuk menjadi orang benar, menjadi orang mulia, dan menjadi pemenang adalah dengan menjadi orang beriman dan beramal shalih yang dasarnya adalah ilmu. Ilmu pun bukan yang berasal dari barat atau berasal dari timur, tapi ilmu adalah qalallah qa qala rasul. Ilmu sesungguhnya adalah apa yang terdapat dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Penutup, mulailah bangun peradaban dari rumah. Pendidikan yang baik terhadap anak akan sangat berdampak pada kemajuan bangsa kita di masa depan. Anak muda saat ini adalah pemimpin masa depan. Maka jangan anggap remeh pendidikan mereka. Jangan sampai kita mengira telah mendidik mereka dengan menitipkan di sekolah, jangan sampai jiwanya dirampas oleh ideologi liberalisme, kapitalisme, atheisme, dan isme-imse lainnya. orang tua terbaik adalah orang tua yagn bisa mengajari sendiri anak-anaknya.

Di usia dininya tanamkan kepada mereka Al-Qur’an dan As-Sunnah, sehingga kelak mereka tidak akan bisa terpengaruh oleh ideologi sesat menyesatkan. *Ditulis dari tausiyah UBN di Pondok Pesantren Syuhodo, Solo, Jawa Tengah. Ahad, 19 November 2017.

 

Sebarkan Kebaikan!