Tadabbur Surat al-Insyirah (1), Lapang Dada dan Kuncinya

IMAM al-Ghazali mengatakan bahwa hati itu ibarat sebuah alam. Sedangkan secara fisik kata qalbun artinya jantung. Jika jantung rusak sedikit saja, maka akan berpengaruh keseluruh tubuh. Demikian pula dengan alam hati, jika ia lapang maka lapanglah seluruh kehidupan ini. Sebaliknya, jika alam itu sempit maka sempitlah seluruh kehidupan ini. Silakan punya rumah yang mewah, luas dan bertingkat, tapi jika hati sempit maka sempit pula semua itu.

Karenanya, kenalilah tiga kunci yang bisa membuat hati seseorang lapang sebagaimana dijelaskan oleh KH Bachtiar Nasir, pimpinan AQL Islamic Center, dalam kaitan Tadabbur Surat Al-Insyirah.

Pertama, meridhai setiap kenyataan yang ada di depan mata. Kedua, membebaskan diri dari berbagai tekanan batin dengan iman. Iman bisa memberikan dampak rasa aman. Ketiga; menyenangi dan mencintai kebenaran. Bukan menyenangi kemaksiatan, karena kemaksiatan itu hanya menyisakan kesesakan dada dan kemalangan jiwa.

Tiga poin di atas tidak bisa didapatkan jika tidak dilandasi dengan kesabaran. Dalam realisasinya, sabar itu terbagi tiga. Ada sabar yang cacat dan ada sabar yang sempurna. Sempurnanya kesabaran itu jika seseorang memiliki tiga hal. Pertama, bersabar dalam ketaatan. Kedua, sabar
dalam meninggalkan maksiat. Ketiga, sabar dengan ridha terhadap semua takdir Allah SWT.

Penamaan Surat Al-Insyirah
Surat ini dinamakan dengan asy-Syarh atau al-Insyirah atau Alam Nasyrah karena dimulai dengan kelapangan dada Nabi SAW yaitu bersinarnya dada Nabi karena petunjuk, iman, dan hikmah. Allah SWT berfirman yang artinya;

“Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam”. (al-An’am: 125)

Dada itu laksana bejana. Jika dimasukkan ke dalamnya materi, bejana itu akan sempit. Sementara qalbun, jika dimasukkan di dalamnya Islam maka menjadi lapang. Semakin kuat kesadaran Islamnya semakin lapang hatinya.

Kaitan dengan Surat Sebelumnya
Surat al-Insyirah erat kaitannya dengan surat adh-Dhuha, karena kecocokan keduanya dalam kalimat dan tema. Dalam kedua surat tersebut terdapat
penyebutan rentetan kenikmatan Allah SWT yang dikaruniakan kepada Nabi Muhammad SAW., dan dengan disertai anjuran untuk beramal dan bersyukur. Dalam surat adh-Dhuha Allah SWT berfirman yang artinya;

“Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yang yatim, lalu dia melindungimu?” (adh-Dhuha: 6). Dalam surat ini ditambahkan lagi dengan
firman-Nya, “Bukankah kami telah melapangkan untukmu dadamu?” (al-Insyirah: 1).

Tadabbur
Ada tiga kenikmatan yang Allah berikan kepada Nabi Muhammad SAW sebagaimana disebutkan dalam surah al-Insyirah. Pertama, dilapangkannya dada Nabi. Kedua, dosa-dosanya diampunkan oleh Allah SWT. Ketiga, Allah mengangkat derajat Nabi. “Bukankah kami telah melapangkan dadamu?” (al-Insyirah: 1)

Kata alam “Bukankah” dalam bahasa arab disebut Istifham Taqriri, artinya seperti pertanyaan , akan tetapi sebetulnya penegasan. Maka maknanya adalah “Sungguh kami telah melapangkan (Hai Muhammad) dadamu”. Ini adalah salah satu model gaya bahasa dalam al-Qur’an.

Rasulullah SAW pernah dua kali dicuci jantungnya dengan air zamzam, yaitu;ketika masih kecil dan ketika akan mi’raj. Air zamzam itu bukam hanya soal banyaknya mineral yang terkandung di dalamnya. Akan tetapi, molekul-molekul air zamzam itu adalah yang pas untuk dimasuki wahyu, untuk disebarkan ke sekujur tubuh Beliau. Penyebutan kata benda di dalam al-Qur’an selalu ada hubungannya antara bumi dan langit.

Penyebutan Sungai Efrat dan Sungai Nil, keduanya memang ada di dunia tapi itu yang dilihat Rasulullah ketika berada di dunia sana. Dan tentu saja, logika kita tidak akan sampai. (Bersambung)

reporter: muhajir/ editor: azhar az

Sebarkan Kebaikan!