ArtikelTadabbur
Trending

Tadabbur Surat Nuh l Totalitas dan Kesabaran Dalam Berdakwah #3

Curahan Hati Nabi Nuh

KESABARAN itu sangat berat. Kita tidak akan bisa merasakan hikmah sabar jika tidak pernah mengamalkannya. Itulah sebabnya Allah mengatakan bahwa Dia bersama orang-orang yang bersabar. “Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al Baqarah: 153).

Walaupun demikian, manusia memiliki kapasitas kesabarannya masing-masing. Nabi Nuh termasuk golongan hamba yang mempunyai hati yang sangat lapang karena mampu bertahan selama 950 tahun mengajak kaumnya untuk beriman dan memohon ampun kepada-Nya.

Setelah mendapatkan penolakan dari kaumnya, bukannya beriman tapi malah mengingkari, maka Nabi Nuh yang juga sebagai manusia biasa mengadu dan mencurahkan isi hatinya kepada Allah Swt.. Dalam aduaanya dia memohon kepada-Nya agar orang musyik itu diberi balasan yang setimpal dengan perilaku mereka.

قَالَ نُوحٌ رَبِّ إِنَّهُمْ عَصَوْنِي وَاتَّبَعُوا مَنْ لَمْ يَزِدْهُ مَالُهُ وَوَلَدُهُ إِلَّا خَسَارًا. وَمَكَرُوا مَكْرًا كُبَّارًا

“Nuh berkata: “Ya Tuhanku, sesungguhnya mereka telah mendurhakaiku dan telah mengikuti orang-orang yang harta dan anak-anaknya tidak menambah kepadanya melainkan kerugian belaka, dan melakukan tipu-daya yang amat besar”.

Kaum Nabi Nuh lebih memilih mematuhi orang-orang yang sesat lagi menyesatkan karena pesona harta dan keturunannya semata. Inilah tantangan dakwah terbesar, yaitu adanya pembesar-pembesar kaum yang zalim yang menikmati keuntungan dari kondisi masyarakat yang rusak.

Tanpa mengikuti syariat, harta dan anak hanya menambah kerugian, tapi dengan syariat, harta dan anak-anak akan menguntungkan. Mengenai respon kaum Nuh ini, juga digambarkan dalam ayat lain, yaitu Allah Swt. berfirman:

“Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas, karena dia melihat dirinya serba cukup.” (QS. Al Alaq: 6-7)

وَقَالُوا لَا تَذَرُنَّ آلِهَتَكُمْ وَلَا تَذَرُنَّ وَدًّا وَلَا سُوَاعًا وَلَا يَغُوثَ وَيَعُوقَ وَنَسْرًا

“Dan mereka berkata: “Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) wadd, dan jangan pula suwwa’, yaghuts, ya’uq dan nasr”.

Kezaliman para pembesar kaum dalam menentang dakwah, dibandingkan dengan penentangan kalangan awam, tentu jauh berbeda efeknya. Para pembesar itu mampu membuat makar yang besar serta memprovokasi masyarakat untuk melawan dakwah.

Orang menjadi kuat karena imannya, bukan karena harta, kekuasaan, dan fisiknya. Kezaliman selalu berkaitan dengan benda-benda keramat dan kebodohan kolektif suatu masyarakat yang kemudian dipertahankan melalui otoritas orang-orang kuat yang merasa diuntungkan oleh keadaan. Sasaran dakwah adalah orang-orang kuat, tapi sering kali justru orang-orang lemah yang beriman, kemudian menjadi orang kuat dan mengalahkan orang kuat tapi bertahan dalam kemusyrikannya.

وَقَدْ أَضَلُّوا كَثِيرًا ۖ وَلَا تَزِدِ الظَّالِمِينَ إِلَّا ضَلَالًا. مِمَّا خَطِيئَاتِهِمْ أُغْرِقُوا فَأُدْخِلُوا نَارًا فَلَمْ يَجِدُوا لَهُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْصَارًا

Dan sesudahnya mereka menyesatkan kebanyakan (manusia); dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang zalim itu selain kesesatan. 25. Disebabkan kesalahan-kesalahan mereka, mereka ditenggelamkan lalu dimasukkan ke neraka, maka mereka tidak mendapat penolong-penolong bagi mereka selain dari Allah.

Akibat kelakuan para pembesar itu yang sangat buruk, pantaslah nabi mendoakan kebinasaan atas mereka di dunia dan juga di akhirat.

Di tengah masyarakat yang kufur itu ada yagn sesat dan ada yang menyesatkan atas nama kebaikan. Dakwah kemudian tak lagi menjadi solusi, tapi juga tak lantas menjadikan seorang dai berhenti berdakwah. Biar Allah yang bicara.

Ada seorang tokoh pernah membagi karakter manusia dalam merespon titah ilahi. 10 % adalah para penegak kebenaran, golongan ini akan terus maju apa pun resikonya. 10 % adalah penentang dakwah atau penginkar kebenaran, golongan ini akan terus membela kebatilan apa pun resikonya. 80 % sisanya adalah orang yang tergantung pada pemimpinnya, jika ternyata yang menang adalah penentang kebenaran maka mereka akan ikut dengan golongan ini, tapi jika yang menang adalah penegak kebenaran mereka juga akan  ikut.

Azab yang Ditimpakan Kepada Kaum Nabi Nuh

SETELAH Nabi Nuh berdakwah selama 950 tahun, tapi direspon dengan pengingkaran dari kaumnya. Menyadari fakta itu, mereka tak mungkin lagi beriman maka Nabi Nuh berdoa kepada Allah agar orang-orang zalim itu dibinasakan dari muka bumi. walaupun demikian beliau juga mendoakan ampunan dan keselamatan kepada orang-orang beriman.

وَقَالَ نُوحٌ رَبِّ لَا تَذَرْ عَلَى الْأَرْضِ مِنَ الْكَافِرِينَ دَيَّارًا. إِنَّكَ إِنْ تَذَرْهُمْ يُضِلُّوا عِبَادَكَ وَلَا يَلِدُوا إِلَّا فَاجِرًا كَفَّارًا

Nuh berkata: “Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan seorangpun di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi. 27. Sesungguhnya jika Engkau biarkan mereka tinggal, niscaya mereka akan menyesatkan hamba-hamba-Mu, dan mereka tidak akan melahirkan selain anak yang berbuat maksiat lagi sangat kafir.

Jika kejahatan sudah mencapai puncaknya, dan para pelakunya sudah bebal dari nasihatpara da’i, apakah lagi yang tersisa? Bertawakal kepada Allah dan berdoa kepada-nya untuk ‘turun tangan lansung’ menghabisi para pendurhaka. Doa orang yang dizalimi itu pasti didengar oleh Allah.

Nabi Nuh berdoa kepada Allah agar tidak membiarkan seorang pun dari mereka untuk menetap di bumi ini atau di satu tempat tinggal. Dalam kitab tafsir Ibnu katsir disebutkan bahwa Adh-Dhahhak mengatakan: “Satu tempat tinggal pun.” As-Suddi mengatakan: “Beberapa tempat tinggal yang menempati satu tempat tinggal.”

Maka Allah pun mengabulkan permintaannya, sehingga Dia membinasakan mereka semua (orang kafir) yang ada di muka bumi ini sampai anak kandungnya sendiri yang memisahkan diri dari ayahnya. Lalu Allah menyelamatkan semua orang yang menaiki bahtera, yang mereka semua beriman kepada Nuh. Mereka itulah orang-orang yang oleh Allah, Nuh diperintahkan untuk membawanya.

رَبِّ اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِمَنْ دَخَلَ بَيْتِيَ مُؤْمِنًا وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَلَا تَزِدِ الظَّالِمِينَ إِلَّا تَبَارًا

Ya Tuhanku! Ampunilah aku, ibu bapakku, orang yang masuk ke rumahku dengan beriman dan semua orang yang beriman laki-laki dan perempuan. Dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang zalim itu selain kebinasaan”.

Doa Nabi Nuh yang menimpa memohon ampunan bagi dirinya menunjukkan adab kenabian yang sadar akan kelemahan dan keterbatasannya sebagai manusia. di samping itu, doanya juga memohon keselamatan bagi orang-orang mukmin.

Nabi Nuh meratap, sesuai namanya nuh (meratap), seakan-akan ada kesal dalam hatinya kepada kaumnya hingga meminta disegerakan azab untuk mereka, padahal beliau tidak melakukan itu, karena mereka akan diazab tanpa didoakan pun. Karena Nabi Nuh menutup doanya dengan memohon ampunan, khawatir ada doanya yang keluar dari raswa kesal, buka karena Allah.

Pelajaran yang sangat penting dari sini adalah Nabi Nuh tidak lupa mendoakan kedua orangtuanya, setiap orang yang bertamu ke rumahnya, dan juga mendoakan orang-orang yang beriman kepada Allah Swt. agar diberi ampunan. Indah bukan? Maka jangan pernah melupakan orangtuamu, tetangga, kerabat, dan orang yang beriman di setiap doa-doamu.

Sebarkan Kebaikan!

Tags
Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close