ArtikelTadabbur
Trending

Tadabbur Surat Nuh l Totalitas dan Kesabaran Dalam Berdakwah #2

Esensi Dakwah Nabi Nuh

Setelah menjelaskan sosok Nabi Nuh dan respon kaumnya terhadap dakwah yang beliau bawa, pada artikel ini akan dijelaskan konten dakwahnya. Intinya adalah mengajak mereka untuk memohon ampun kepada Allah, kemudian mengenalkan kepada mereka bahwa Allah itu ghafaar. Mengenalkan bahwa Allah itu Maha Pengampun itu sangat penting, agar mereka termotivasi dan bersemangat untuk kembali ke jalan yang benar dan diridhai.

Esensi dakwah yang disampaikan oleh Nabi Nuh AS terdapat dalam ayat 10 – 14 pada surat Nuh. Allah Swt. befirman:

فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا

Maka aku katakan kepada mereka: ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, -sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun-,

يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا

Niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat,

وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا

Dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.

مَا لَكُمْ لَا تَرْجُونَ لِلَّهِ وَقَارًا

Mengapa kamu tidak percaya akan kebesaran Allah?

وَقَدْ خَلَقَكُمْ أَطْوَارًا

Padahal Dia sesungguhnya telah menciptakan kamu dalam beberapa tingkatan kejadian.

Untk mencapai surga Allah Swt. bukan perkara mudah, butuh perjuangan dan pengorbanan. Pengorbanan butuh keikhlasan, kesabaran, dan tawakkal kepada-Nya. Dengan demikian derajat kita akan diangkat menjadi orang yang beriman dan bertakwa. Sehingga kita ditempatkan bersama orang-orang shalih di surga kelak.

Sebagaimana disebutkan sebelumnya bahwa ada dua poin konten dakwah Nabi Nuh AS, yaitu mengajak umatnya untuk beristigfar dan mengenalkan bahwa Allah itu Maha Pengampun sehingga mereka bersemangat untuk kembali ke jalan yang benar. Walau pada akhirnya hanya orang-orang yang diberi hidayah yang mampu merespon dengan baik seruan Nuh. Tapi tugas para da’i itu hanya menyampaikan, hidayah itu urusan Allah Swt.

Dari ayat yang membicarakan konten dakwah Nabi Nuh ini kita mengambil pelajaran untuk bisa diperaktekkan pada saat ini. Zaman ketika materialisme dan hedonisme sangat kuat mempengaruhi gaya hidup manusia. Misalnya ketika mengajak anak kita untuk cinta kepada Allah, maka terlebih dahulu dikenalkan siapa itu Allah. Ketika mengajak anak untuk bersedekah, maka kenalkan bahwa Allah itu Maha Kaya. Mengajak anak kita untuk rajin beribadah dan memohon ampun atas dosa, maka kenalkan bahwa Allah itu Maha Kasih Sayang dan Maha pengampun.

Dua konten dakwah ini sangat penting, agar umat tidak putus asa dan terus termotivasi untuk kembali kepada Allah. seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, kurikulum Nuh ini sangat tepat diterapkan dalam berdakwah di tengah benturan paham sesat yang berusaha menghancurkan umat Islam. Sebab, jika umat ini sudah taat kepada Allah, maka Dia akan memberikan keberkahan.

Seperti yang diumpamakan dalam ayat di atas, ketika kita taat kepada Allah maka Dia akan mengirimkan hujan lebat. Hujan lebat adalah perumpamaan sebab pada waktu itu dalam riwayat disebutkan sedang kemarau hebat. Arti dari Allah mengirimkan hujan lebat itu adalah, orang yagn sering beristigfar kepada-Nya, maka keberkahan akan dilimpahkan kepadanya.

Untuk itu, dalam semua kondiso kehidupan libatkanlah Allah di dalamnya. Seperti yang telah disebutkan bahwa hujan lebat berarti, orang yang rajin beristigfar akan diberi rezeki yang tiada henti. Rezeki tentu tidak hanya berupa harta yang melimpah, tapi juga berupa kesehatan, sahabat yang shalih, dan tentu rezeki yang paling bersar adalah iman.

Teruslah bertasbih dan beristigfar, jangan pernah putus asa dari rahmat Allah. Di mana pun berada, kapajn pun, dan dalam kondisi dan keadaan apa pun maka ingatlah kepada Allah. Allah Swt. berfirman:

أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d : 28)

Rumah yang selalu di dalamnya hidup istigfar dan tasbih serta ibadah kepada Alla, maka diberikan ketenangan dalam rumah itu. Rumah rasa surgawi. Sebenarnya, jika Negara ini mau makmur persiden cukup mengingatkan rakyatnya untuk selalu beristigfar kepada Allah. Dengan narasi dan intonasi yang kuat dan tepat maka pasti rakyat itu akan memohon ampun kepada-Nya, dan akhirnya terciptalah bangsa yang damai dan sejahtera, serta diberkahi oleh Allah Swt.

kenapa harus memohon ampun? Padahal Dia sesungguhnya telah menciptakan kamu dalam beberapa tingkatan kejadian. (QS. Nuh: 14)

(أَطْوَارًا) artinya tahap. Allah menciptakan manusia secara bertahap. Mulai dari Adam yang diciptakan lansung dari tanah. Kemudian anak cucunya yang sebanarnya juga berasal dari tanah, sebab air mani itu berasal dari saripati tumbuhan, dan tumbuhan berasal dari tanah. Manusia adalah mahluk paling sempurna bentuknya, sebaik-baik bentuk di antara mahluk Allah yang lain. Hal ini juga memberi kesan kepada kita agar tidak berlaku sombong di atas muka bumi, karena di atas kita berpijak sebenarnya dari situlah kita diciptakan. Untuk itu, perbanyaklah istigfar agar Allah memasukkan kita di dalam surga-Nya di akhirat kelak.

 

Memahami Hikmah di Balik Penciptaan Langit dan Bumi

Ayat 16-20 ini  mengajak untuk merenungi ciptaan Allah SWT.. Tidak sekedar melihat dengan mata biolgis saja, tapi menghadirkan mata hati untuk memahami hikmah di balik penciptaan langit dan bumi.

أَلَمْ تَرَوْا كَيْفَ خَلَقَ اللَّهُ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ طِبَاقًا. وَجَعَلَ الْقَمَرَ فِيهِنَّ نُورًا وَجَعَلَ الشَّمْسَ سِرَاجًا

“Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah menciptakan tujuh langit bertingkat-tingkat? Dan Allah menciptakan padanya bulan sebagai cahaya dan menjadikan matahari sebagai pelita?”

Dalam ayat ini, Nabi Nuh mengarahkan kepada kaumnya untuk merenungkan keagungan Allah Swt. melalui ayat-ayat kauniyah yang ada di jagat raya. Langit yang berlapis-lapis yang menjadi atap kehidupan; juga matahari dan bulan yagn sinarnya menerangi kehidupan umat manusia. siapakah yang mengadakan semua mahluk raksasa itu? Siapakah selain Allah yang mentapkan aturan-aturan terhadapa mereka (posisinya, jaraknya, kecepatannya, dan sebagainya), yang tidak sekali pun benda-benda itu menyimpan darinya.

Satu hal yang pasti adalah bahwa semua ciptaan Allah di jagat raya ini diperuntukkan kepada manusia. Lapisan atmosfir untuk menyaring cahaya matahari. Tumbuh-tumbuhan yang dijadikan sebagai makanan, diolah jadi tempat tinggal, dan sebagainya.

وَاللَّهُ أَنْبَتَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ نَبَاتًا. ثُمَّ يُعِيدُكُمْ فِيهَا وَيُخْرِجُكُمْ إِخْرَاجًا

Dan Allah menumbuhkan kamu dari tanah dengan sebaik-baiknya, 18. kemudian Dia mengembalikan kamu ke dalam tanah dan mengeluarkan kamu (daripadanya pada hari kiamat) dengan sebenar-benarnya.

Penciptaan manusia digambarkan seperti tanaman yang tumbuh dari tanah. Hakikat ini dimaksudkan, agar hati mereka merasakan adanya kekuasaan Allah yang menentukan mereka dari tanah dan mengembalikan mereka ke tanah lagi. lalu membangkitkan mereka lagi pada kali lain untuk kemudian menghisabnya.

Memang, dari tanah akan dikembalikan ke tanah, tapi perjalanan manusia tidak berhenti di tanah. Ada hal besar yang harus dipertanggungjawabkannya kemudian. Setelah itu, adakalanya naik ke surga, dan adakalanya terbenam dalam neraka.

وَاللَّهُ جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ بِسَاطًا. لِتَسْلُكُوا مِنْهَا سُبُلًا فِجَاجًا

“Dan Allah menjadikan bumi untukmu sebagai hamparan, 20. supaya kamu menjalani jalan-jalan yang luas di bumi itu”.

Allah mendekatkan gambaran akan nikmat-Nya terhadap manusia; tentang bagaimana bumi dihamparkan, jalan-jalan yang dilapangkan. Sebenarnya, bagi seseorang yang melakukan perenungan, setiap kali bertambah pengetahuannya tentang hakikat kehidupan ini, maka ia akan selalu menjumpai sisi yang baru, dan berarti telah menjangkau ufuk yang lebih jauh lagi.

Apabila seorang hamba Allah membuka matanya untuk mebaca ayat-ayat Al-Qur’an, maka dengan itu, dia telah mensyukuri nikmat Allah Swt. dalam menciptakan alam semesta. Karena mata tak akan melihat tanpa asupan makanan, makanan tidak ada kalau tidak ada tanah, tanah tidak akan bisa menumbuhkan makanan tanpa hujan, hujan tidak akan  ada tanpa matahari dan bulan, matahari dan bulan pun tidak akan ada jika taka da langit, langit pun tidak akan ada kalau tidak ada malaikat-malaikat yang menjaga keseimbangannya, dan malaikat-malaikat pun tidak akan mampu menjaga kalau bukan karena Allah. Sebaliknya, apabila mata digunakan, satu kedip saja kepada maksiat maka semua mahluk mengutuknya.

Sebarkan Kebaikan!

Tags
Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close