ArtikelTadabbur
Trending

Tadabbur Surat Nuh l Totalitas dan Kesabaran Dalam Berdakwah #1

Pengutusan Nabi Nuh Kepada Kaumnya

Selama 950 tahun Nabi Nuh AS berdakwah kepada kaumnya, tapi bagaimana hasilnya? Kaum Nuh adalah bapak kemusyrikan. Mereka menjadikan berhala-berhala sebagai Tuhan tempat meminta kebaikan dan tempat menolak bala. Berhala menjadi tempat bergantung segala sesuatu dalam kehidupan mereka. Mereka meminta dan memanggil berhala-berhala itu dengan beragam nama. Kadang dengan nama Wadda, Suwaa’, dan Yaghuts. Kadang dengan nama Ya’uq, atau Nasr.

KH Bachtiar Nasir yang rutin mengisi kajian Tadabbur di Masjid Raya Pondok Indah, Jakarta Selatan, setiap hari selasa, kali ini sampai pada pembahasan surat Nuh. Sebagaimana sebelum-sebelumnya, pertemuan pertama tiap kali pindah surat beliau hanya mentadabburi secara global. Hal itu dimaksudkan agar jamaah pada pertemuan berikutnya akan lebih faham dan mudah megerti jika ditadabburi secara rinci.

Mengenal Nabi Nuh As.

إِنَّا أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَىٰ قَوْمِهِ أَنْ أَنْذِرْ قَوْمَكَ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya (dengan memerintahkan): “Berilah kaummu peringatan sebelum datang kepadanya azab yang pedih”,

Nabi Nuh AS adalah Rasul pertama di muka yang diutus oleh Allah Swt. Kaum Nuh adalah kaum yang pertama kali melakukan kesyirikan di muka bumi. Melalui ayat ini, kita mendapatkan informasi bahwa Allah Swt. mengabarkan kepada kita bahwa Nabi Nuh diutus kepada kaumnya untuk memberi peringatan akan siksa-Nya. Peringatan itu dimaksudkan agar mereka kembali ke jalan yang benar sebelum azab itu ditimpakan kepada mereka. Jika mereka bertaubat dan beristigfar maka siksaan itu batal ditimpakan kepada mereka.

Sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya, berhala yang mereka sembah adalah kadang dengan nama Wadda, Suwaa’, dan Yaghuts. Kadang dengan nama Ya’uq, atau Nasr. Awalnya mereka adalah orang shalih. Tetapi setan berhasil mempengaruhi mereka secara halus untuk mengkultuskan orang shalih itu. Awalnya hanya berbentuk gambar, kemudian datang generasi selanjutnya dibuatlah patung, dan datang generasi selanjutnya akhirnya patung itu disembah dan muncullah kesyrikan pertama kali di muka bumi.

قَالَ يَا قَوْمِ إِنِّي لَكُمْ نَذِيرٌ مُبِينٌ

“Nuh berkata: “Hai kaumku, sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang menjelaskan kepada kamu,”

Dalam ayat ini sangat jelas perintah Allah kepada Nabi Nuh, yakni diperintahkan untuk berdakwah dengan menjelaskan peringatan itu secara jelas dan gamblang. Ini juga menjadi salah satu metode dakwah jika ingin terjung ke lapangan, tentu dengan semua resiko yang harus dihadapi. Seorang da’i harus tegas dan jelas ketika memberikan peringatan.

أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاتَّقُوهُ وَأَطِيعُونِ

“(yaitu) sembahlah olehmu Allah, bertakwalah kepada-Nya dan taatlah kepadaku,”

Ayat ini sangat jelas memerintahkan agar Nabi Nuh mengajak kaumnya agar hanya menyembah kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya. Respon dari ajakan itu adalah dengan meninggalkan semua yang diharamkan oleh Allah dan meninggalkan maksiat.

Selanjutnya Allah memerintahkan untuk taat kepada-Nya, yaitu taat kepada apa saja yang Dia perintahkan dan menjauhi apa yang Dia larang.

يَغْفِرْ لَكُمْ مِنْ ذُنُوبِكُمْ وَيُؤَخِّرْكُمْ إِلَىٰ أَجَلٍ مُسَمًّى ۚ إِنَّ أَجَلَ اللَّهِ إِذَا جَاءَ لَا يُؤَخَّرُ ۖ لَوْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

“Niscaya Allah akan mengampuni sebagian dosa-dosamu dan menangguhkan kamu sampai kepada waktu yang ditentukan. Sesungguhnya ketetapan Allah apabila telah datang tidak dapat ditangguhkan, kalau kamu mengetahui”.

Orang yang bertakwa kepada Allah pasti akan diamouni dosa-dosanya. Tapi ada yang menarik di sini, karena Allah menggunakan kata (مِنْ) sebagian, artinya sebagian dari dosa-dosa kalian. Dalam kitab tafsir disebutkan bahwa, Kata min di sini, ada yang mengatakan sebagai tambahan. Tetapi pendapat yang mengatakan sebagai tambahan tersebut dalam itsbat [penetapan] hanya sedikit sekali. Darinya muncul ungkapan bahasa Arab: “Qad kaana min matharin.”

Ada juga yang berpendapat kata min itu berarti ‘ain, dengan pengertian: Dia akan memberikan ampunan atas dosa-dosa kalian. Dan pendapat tersebut menjadi pilihan Ibnu Jarir.

Dan ada yang berpendapat kata tersebut dimaksudkan untuk menyatakan sebagian [tab’idh]. Artinya mengampuni dosa-dosa besar kalian yang Dia menjanjikan siksaan kepada kalian jika kalian melakukannya.

Ketakwaan adalah sebab diampuninya dosa. Sebaliknya, tanpa ketakwaan di dalam jiwa, Allah akan mengazabnya. Maka berbahagialah orang yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya.

قَالَ رَبِّ إِنِّي دَعَوْتُ قَوْمِي لَيْلًا وَنَهَارًا

“ berkata: “Ya Tuhanku sesungguhnya aku telah menyeru kaumku malam dan siang,

Dalam tafsir Ibnu Katsir disebutkan, “Yakni aku tiada hentinya menyeru mereka siang dan malam karena menjalankan perintah-Mu dan mencari pahala ketaatan kepada-Mu.” Pekerjaan dakwah Nabi Nuh AS adalah siang dan malam. Hal ini meunjukkan dakwah Nuh tanpa mengenal waktu, di mana saja, kapan saja, dan semua situasi dan kondisi dimanfaatkan. Jalan Nabi dan Rasul itu sangat berat, dan inilah jalan yang paling banyak ditinggalkan oleh manusia. Bahkan saat ini banyak orangtua yang mendidik anaknya hanya dunia-oriented. Padahal berdakwah itu tidak harus berceramah, yang penting mengajak manusia kepada Allah dengan profesi kita, apa pun itu.

Karakter Penolak Kebenaran

Kita tentu sudah tahu, dalam perjalan dakwah tidak ada kata mulus untuk sampai ke finish. Pasti ada tantangannya. Besarnya ujian yang kita hadapai tergantung dari keikhlasan kita mengemban dakwah. Demikianlah yang dialami oleh Nabi Nuh AS, kesabaran dan keikhlasan yang tinggi untuk mengajak kaumnya kembali kepada Allah Swt. Sebagaimana pada pembahasan sebelumnya, jika kaumnya mau bertakwa maka mereka diampuni, tapi jika durhaka maka mereka akan diazab.

فَلَمْ يَزِدْهُمْ دُعَائِي إِلَّا فِرَارًا

“Maka seruanku itu hanyalah menambah mereka lari (dari kebenaran).”

Ini adalah karakter kaum Nabi Nuh AS. Ketika mereka diajak kepada Allah, tapi mereka berpaling dan lari dari kebenaran itu. Tentu lari di sini mempunyai arti yang banyak, menjauh, tidak mau menerima kebenaran dan lain sebagainya. Bahkan sampai saat ini, sifat kaum Nuh masih ada, misalnya menemukan orang yang diajak untuk menghadiri majelis taklim tapi mereka enggan untuk menghadiri. Memang hidayah itu mahal. Sehingga orang yang mampu menerima ajakan kepada Allah adalah orang pilihan dan telah mempunyai karakter orang shalih.

Ibnu Katsir menyebutkan dalam tafsirnya, (“Tetapi seruanku itu hanya menambah mereka lari.”) yaitu setiap kali aku menyeru mereka agar mendekatkan diri kepada kebenaran, mereka justru melarikan diri darinya dan menjauhinya.

وَإِنِّي كُلَّمَا دَعَوْتُهُمْ لِتَغْفِرَ لَهُمْ جَعَلُوا أَصَابِعَهُمْ فِي آذَانِهِمْ وَاسْتَغْشَوْا ثِيَابَهُمْ وَأَصَرُّوا وَاسْتَكْبَرُوا اسْتِكْبَارًا

“Dan sesungguhnya setiap kali aku menyeru mereka (kepada iman) agar Engkau mengampuni mereka, mereka memasukkan anak jari mereka ke dalam telinganya dan menutupkan bajunya (kemukanya) dan mereka tetap (mengingkari) dan menyombongkan diri dengan sangat.”

Disebutkan bahwa kaum Nuh ketika mendengar dakwah, mereka meletakkan jemarinya di telinga mereka, dan menutupi muka dengan pakaian mereka.

Kata (وَأَصَرُّوا) artinya menyombongkan diri, kemudian ditambah setelahnya kata اسْتِكْبَارًا وَاسْتَكْبَرُوا) artinya takabbur setakabbur takabburnya. Yang bisa menghapus dosa itu semua hanya taubat, istigfar, dan ibadah ketaatan lainnya. karena apda hakikatnya, semua amalan baik itu mendatangkan ampunan kepada Allah Swt. Untuk itu, para pendakwah setelah mengetahui kalakuan kaum Nuh, maka harus memasang kesabaran yang lebih tebal lagi.

ثُمَّ إِنِّي دَعَوْتُهُمْ جِهَارًا

“Kemudian sesungguhnya aku telah menyeru mereka (kepada iman) dengan cara terang-terangan,”

Dakwah nabi nuh itu sudah sangat ntearang terangan. Ini juga salah satu stategoi dakwah,m di aman akondisim mansuia yang jauh kepada Allah, terkadang peringatan yang lantang juga harus dilakukan untuk memperingatkan mer,eka.

ثُمَّ إِنِّي أَعْلَنْتُ لَهُمْ وَأَسْرَرْتُ لَهُمْ إِسْرَارًا

“kemudian sesungguhnya aku (menyeru) mereka (lagi) dengan terang-terangan dan dengan diam-diam,”

Dalam berdakwah memang betuh strategi agar penyampaiannya bisa diterima dengan baik. Begitu juga dengan Nai Nuh AS, di lain waktu dia berdakwah dengan terang-terangan dan suara yang lantang, tapi di lain waktu dia berdakwah dengan rahasia. Tapi nyawa dakwah adalah ikhlas, gigih, sabar, dan tawakkal, juga menggunakan narasi dan intonasi yang kuat dan tepat.

Misalnya, dalam mendakwahi anak agar taat kepada Allah Swt. carilah waktu yang tepat dan suasana yang tepat. dakwahilah dia dengan penuh kasih sayang, dengan kata-kata yang lembut, dan jangan sampai dia merasa tersakiti hatinya yang malah membuat dia jengkel dan semakin jauh dari Allah Swt. Intinya, kesabaran, keikhlasan, kegigihan, dan tawakkal.

Sebarkan Kebaikan!

Tags
Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close