Tadabbur

Tadabbur Surat Nuh Ayat 21-25 l Curahan Hati Nabi Nuh

KESABARAN itu sangat berat. Kita tidak akan bisa merasakan hikmah sabar jika tidak pernah mengamalkannya. Itulah sebabnya Allah mengatakan bahwa Dia bersama orang-orang yang bersabar. “Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al Baqarah: 153).

Walaupun demikian, manusia memiliki kapasitas kesabarannya masing-masing. Nabi Nuh termasuk golongan hamba yang mempunyai hati yang sangat lapang karena mampu bertahan selama 950 tahun mengajak kaumnya untuk beriman dan memohon ampun kepada-Nya.

Setelah mendapatkan penolakan dari kaumnya, bukannya beriman tapi malah mengingkari, maka Nabi Nuh yang juga sebagai manusia biasa mengadu dan mencurahkan isi hatinya kepada Allah Swt.. Dalam aduaanya dia memohon kepada-Nya agar orang musyik itu diberi balasan yang setimpal dengan perilaku mereka.

 

قَالَ نُوحٌ رَبِّ إِنَّهُمْ عَصَوْنِي وَاتَّبَعُوا مَنْ لَمْ يَزِدْهُ مَالُهُ وَوَلَدُهُ إِلَّا خَسَارًا. وَمَكَرُوا مَكْرًا كُبَّارًا

 

21- Nuh berkata: “Ya Tuhanku, sesungguhnya mereka telah mendurhakaiku dan telah mengikuti orang-orang yang harta dan anak-anaknya tidak menambah kepadanya melainkan kerugian belaka, 22. dan melakukan tipu-daya yang amat besar”.

Tafsir Jalalayn

21– (Nuh berkata, “Ya Rabbku! Sesungguhnya mereka telah mendurhakaiku, dan mereka telah mengikuti) orang-orang yang hina dan orang-orang yang miskin di antara mereka (orang-orang yang harta dan anak-anaknya tidak menambah kepadanya) maksudnya orang-orang yang rendah dan orang-orang miskin dari kalangan kaum Nabi Nuh itu, lebih senang mengikuti pemimpin-pemimpin yang diberi nikmat akan hal-hal tersebut, yakni banyak harta dan anaknya.

Lafal wuldun dengan didamahkan huruf waunya dan sukun pada lamnya, atau waladun dengan difatahkan kedua-duanya; kalau bentuk yang pertama menurut suatu pendapat, bahwa itu adalah bentuk jamak dari lafal waladun. Dalam arti kata disamakan dengan wazan lafal khasyabun yang jamaknya khusybun. Menurut pendapat yang lain, lafal wuldun mempunyai arti yang sama dengan lafal waladun, karena wazannya dianggap sama dengan lafal bukhlun dan bakhiilun (melainkan kerugian belaka) yaitu keangkaramurkaan dan kekafiran.

22- (Dan mereka melakukan tipu daya) yaitu para pemimpin mereka (yang amat besar.) Tipu daya mereka sangat besar, yaitu mereka telah mendustakan Nabi Nuh dan menyakitinya serta menyakiti orang-orang yang beriman kepadanya.

Tadabbur

Kaum Nabi Nuh lebih memilih mematuhi orang-orang yang sesat lagi menyesatkan karena pesona harta dan keturunannya semata. Inilah tantangan dakwah terbesar, yaitu adanya pembesar-pembesar kaum yang zalim yang menikmati keuntungan dari kondisi masyarakat yang rusak.

Tanpa mengikuti syariat, harta dan anak hanya menambah kerugian, tapi dengan syariat, harta dan anak-anak akan menguntungkan. Mengenai respon kaum Nuh ini, juga digambarkan dalam ayat lain, yaitu Allah Swt. berfirman:

“Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas, karena dia melihat dirinya serba cukup.” (QS. Al Alaq: 6-7)

وَقَالُوا لَا تَذَرُنَّ آلِهَتَكُمْ وَلَا تَذَرُنَّ وَدًّا وَلَا سُوَاعًا وَلَا يَغُوثَ وَيَعُوقَ وَنَسْرًا

  1. Dan mereka berkata: “Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) wadd, dan jangan pula suwwa’, yaghuts, ya’uq dan nasr”.

Tafsir Jalalayn

(Dan mereka berkata) kepada orang-orang yang menjadi bawahan mereka (“Jangan sekali-kali kalian meninggalkan tuhan-tuhan sesembahan kalian dan jangan pula sekali-kali kalian meninggalkan wadd) dapat dibaca waddan dan wuddan (dan jangan pula suwa’, yaghuts, ya’uq dan nasr”) nama-nama tersebut adalah nama-nama berhala-berhala mereka.

Tadabbur

Kezaliman para pembesar kaum dalam menentang dakwah, dibandingkan dengan penentangan kalangan awam, tentu jauh berbeda efeknya. Para pembesar itu mampu membuat makar yang besar serta memprovokasi masyarakat untuk melawan dakwah.

Orang menjadi kuat karena imannya, bukan karena harta, kekuasaan, dan fisiknya. Kezaliman selalu berkaitan dengan benda-benda keramat dan kebodohan kolektif suatu masyarakat yang kemudian dipertahankan melalui otoritas orang-orang kuat yang merasa diuntungkan oleh keadaan. Sasaran dakwah adalah orang-orang kuat, tapi sering kali justru orang-orang lemah yang beriman, kemudian menjadi orang kuat dan mengalahkan orang kuat tapi bertahan dalam kemusyrikannya.

 

وَقَدْ أَضَلُّوا كَثِيرًا ۖ وَلَا تَزِدِ الظَّالِمِينَ إِلَّا ضَلَالًا. مِمَّا خَطِيئَاتِهِمْ أُغْرِقُوا فَأُدْخِلُوا نَارًا فَلَمْ يَجِدُوا لَهُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْصَارًا

 

  1. Dan sesudahnya mereka menyesatkan kebanyakan (manusia); dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang zalim itu selain kesesatan. 25. Disebabkan kesalahan-kesalahan mereka, mereka ditenggelamkan lalu dimasukkan ke neraka, maka mereka tidak mendapat penolong-penolong bagi mereka selain dari Allah.

Tafsir Jalalayn

24- (Dan sesungguhnya mereka telah menyesatkan) dengan nama-nama tersebut (kebanyakan manusia) karena mereka telah memerintahkan manusia untuk menyembahnya (dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang lalim itu selain kesesatan) ayat ini diathafkan kepada lafal qad adhalluu, yakni merupakan doa Nabi Nuh setelah Allah mewahyukan kepadanya, bahwasanya sekali-kali tidak ada orang yang mau beriman di antara kaummu, melainkan orang-orang yang telah beriman saja.

25– (Disebabkan) huruf maa di sini adalah huruf shilah atau penghubung (kesalahan-kesalahan mereka) menurut suatu qiraat dibaca khathii’aatihim dengan memakai huruf hamzah sesudah huruf ya (mereka ditenggelamkan) oleh banjir besar (lalu dimasukkan ke dalam neraka) yaitu mereka diazab sesudah mereka ditenggelamkan di bawah air (maka mereka tidak dapat menemukan selain) selain daripada (Allah, seseorang pun yang menolong mereka) yang dapat melindungi mereka dari azab.

Tadabbur

Akibat kelakuan para pembesar itu yang sangat buruk, pantaslah nabi mendoakan kebinasaan atas mereka di dunia dan juga di akhirat.

Di tengah masyarakat yang kufur itu ada yagn sesat dan ada yang menyesatkan atas nama kebaikan. Dakwah kemudian tak lagi menjadi solusi, tapi juga tak lantas menjadikan seorang dai berhenti berdakwah. Biar Allah yang bicara.

Ada seorang tokoh pernah membagi karakter manusia dalam merespon titah ilahi. 10 % adalah para penegak kebenaran, golongan ini akan terus maju apa pun resikonya. 10 % adalah penentang dakwah atau penginkar kebenaran, golongan ini akan terus membela kebatilan apa pun resikonya. 80 % sisanya adalah orang yang tergantung pada pemimpinnya, jika ternyata yang menang adalah penentang kebenaran maka mereka akan ikut dengan golongan ini, tapi jika yang menang adalah penegak kebenaran mereka juga akan  ikut.

*MN

Sebarkan Kebaikan!

Tags
Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close