Tadabbur
Trending

Tadabbur Surat Almaa’rij | Karakter Dasar Manusia dalam Alquran

PEMBAHASAN sebelumnya telah dijelaskan mengenai penyesalan orang-orang kafir di hari kiamat kelak. Demi menyelamatkan dirinya dari azab Allah, andai bisa, mereka rela mengorbankan orang-orang paling terdekatnya untuk menjadi tebusan dirinya. Namun, Allah menegaskan, hal itu tidak akan terjadi. orang-orang kafir pasti akan merasakan akibat dari perbuatannya.

Tadabbur kali ini, pimpinan AQL Islamic Center Ustadz Bachtiar Nasir menjelaskan bahwa pada ayat 19 sampai ayat 28 surat Almaa’rij, Allah Swt. membocorkan sifat dasar manusia. seperti kita ketahui bhwa tak satupun manusia di dunia ini yang mempunyai rupa yang sama, kembar? pasti memiliki perbedaan tertentu. Perihal sidik jari manusia, dari Adam hingga kini tak ada satupun yang sama. Akan tetapi, dari semua perbedaan itu ternyata Qur’an mengungkap bahwa manusia itu mempunyai watak asli yang sama. Allah Swt. berfirman:

 “Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah,” (QS. Almaarij : 19-20)

Watak Asli manusia adalah berkeluh kesah ketika ditimpa kesusahan dan kesedihan. Ia mengira bahwa kesedihannya itu bersifat kekal, dan tiada yang dapat menghilangkannya. Ia juga mengira bahwa masa-masa yang akan datang akan menjadi petaka baginya. Memang tidak ada yang sanggup menghilangkan sifat buruk tersebut kecuali Allah Swt. sang pencipta manusia.

Manusia diciptakan Allah sedemikian rupa bukan untuk celaka tapi untuk sebuah kualitas yang menjadi impiannya.

“Dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir.” (QS. Almaarij : 21)

sifat buruk manusia yang lain adalah sangat kikir terhadap kebaikan jika ia mendapatkannya. Ia mengira bahwa kebaikan dan keberhasilannya itu semata buah jerih payahnya sendiri. Akibatnya, ia menjadi tawanan bagi kekayannya, dan menjadi budak dari kerakusannya. Inilah gambaran manusia yang kosong dari iman: selalu berkeluh kesah dalam kondisinya: berkeluh kesah saat susah, dan berkeluh kesah saat memperoleh kebaikan atau kesenangan.

Pada dasarnya taka da manusia yang ingin mendertia, tapi keinginan tidak menderita justru seringkali menjadi penyebab penderitaanya, sesederanakan keinginan, nikmati apa yang ada, dan berbagi dengan sesame, niscaya tidak akan menderita. Di ayat ini, solusi keluhan dan obat galau di sebutkan secara jelas seperti berikut :

Pertama, shalat. Allah Swt. berfirman, “Kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat, yang mereka itu tetap mengerjakan shalatnya,” (QS. Al,aarij: 22-23)

Yang selamat dari sifat-sifat buruk manusia hanyalah orang-orang mukmin, yang mereka itu yang tak pernah putus menyadari akan hubungan dirinya dengan Allah. ia senantiasa bermunajat kepada Allah dalam shalatnya yagn khusyu.

Kedua, menafkahkan harta. Kualitas manusia dan keterbatasannya dari penderitaan ada dalam shalatnya.

“dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu, bagi orang (miskin) yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa (yang tidak mau meminta),” (QS. Almaarij: 24-25)

Kesadaran tentang adanya hak di dalam hartanya bagi orang miskin yang meminta-minta maupun tidak, adalah kesadaran akan karunia Allah bagi diri seseorang sekaligus bentuk perikemanusiaan yang menyelemakannya dari belenggu kekikiran dan kerakusan.

Ingin harta tak hilang dan terus bertambah, maka sedekahlah, atau paling tidak, keleuarkan zakat dan sedekahnya.

Ketiga, percaya hari pembalasan dan takut adanya adzab.

“Dan orang-orang yang mempercayai hari pembalasan,” (QS. Almaarij: 26)

Orang yang yakin adanya hari pembalasan, ia akan beramal dengan timbangan langit, bukan timbangan bumi.

Orang yang bermasa depan cerah adalah orang yang yakin akan hari pembalasan.

Dan orang-orang yang takut terhadap azab Tuhannya. Karena sesungguhnya azab Tuhan mereka tidak dapat orang merasa aman (dari kedatangannya).” (QS. ALmaarij: 27-28)

Ini merupakan bentuk kewasapadaan yang penuh kesadaran dan perasaan mengenai kekurangan diri di hadapan Allah, meski ia rajin dan banyak beribadah. Ia takut sewaktu-waktu hatinya berpaling lantas ia layak mendapatkan azab. Sebab amal seseorang memang bukanlah yang mengantarkan dirinya masuk surga, tapi semata-mata atas rahmat Allah Swt..

Adzab akhirat tak putus-putus, sebagaimana nikmat surga juga tak putus-putus, tak bisa dikerjakan dengan amal yang putus-putus, atau maksiat yang tak putus-putus.

Sebarkan Kebaikan!

Tags
Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close