Tadabbur

Tadabbur Surat Ali-Imran (50) I Al-Qur’an Sumber Kebenaran

PADA pertemuan sebelumnya telah dijelaskan perihal runtuhnya logika trinitas. Sebagaimana kita ketahui, mayoritas kaum Nabi Isa melakukan penyelewengan dalam menafsirkan Kitab injil. Mereka menganggap Isa adalah anak tuhan, dan bagian dari tuhan itu sendiri, atau lebih dikenal dengan istilah trinitas; tiga dalam satu, satu dalam tiga atau tak terpisahkan. Pada diri Isa juga ada unsur tuhan dan anak tuhan. Dipertuhankan dan menjadi anak tuhan, bagaimana ceritanya? Logika yang membingunkan ini dibantah oleh al-Qur’an dalam surat ali-Imran ayat 59.

Ayat 60 dalam surat yang sama merupakan penegasan bahwa apapun yang datang dari Allah adalah kebenaran. Hilangkanlah ragu dalam hati atas apa yang datang dariNya. Allah Swt. berfirman;

ٱلْحَقُّ مِن رَّبِّكَ فَلَا تَكُن مِّنَ ٱلْمُمْتَرِينَ

(Apa yang telah Kami ceritakan itu), itulah yang benar, yang datang dari Tuhanmu, karena itu janganlah kamu termasuk orang-orang yang ragu-ragu. (QS. Ali-Imran: 60)

Tafsir al-Jalalain

(Itulah yang benar yang datang dari Tuhanmu) menjadi khabar bagi mubtada yang dibuang berbunyi, ‘Peristiwa Isa.’ (Maka janganlah kamu termasuk orang-orang yang ragu-ragu!) atau menyangsikannya.

Tadabbur

seperti dijelaskan di atas ayat ini adalah penegasan bahwa Nabi Isa bukan tuhan. Ia adalah hamba yang diutus ke bumi untuk menegakkan kalimat tauhid dan mengajak umat manusia untuk bertauhid.

“Itulah yang benar, yang datang dari Tuhanmu,”  maksud dari penggalan ayat ini ialah bahwa apa yang telah diberitakan Allah kepada Nabi Muhammad Saw. tentang Nabi Isa itulah yang benar, bukan apa yang diungkapkan oleh orang-orang Nasrani bahwa Isa adalah tuhan. Tinggalkan segala ragu, nyalakan keyakinan dalam hati bahwa apa Qur’an adalah kebanaran. Jalan yang ditunjukkan oleh Qur’an adalah jalan kebenaran.

Saat ini intelektualitas kita seringkali dipermainkan oleh logika sesat yang mengatas namakan toleransi. Pernyataan semua agama sama misalnya. Pernyataan demikian ini akan melahirkan ragu dalam hati dan paling menyesatkan adalah seseorang bisa terserang penyakit kemunafikan atau kemusyrikan. Pada akhirnya hanya membiarkan orang-orang tersesat dalam kesesatannya.

Dalam dialog antar agama, al-Qur’an telah membimbing bahwa katakanlah, Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku”. (QS. al-Kafirun:6). Juga termaktub dalam surat Ali ‘Imran ayat 19 bahwa satu-satunya agama yang diridhai oleh Allah hanya Islam, dan barangsiapa yang mencari kebenaran dari selain islam maka ia tidak akan mendapatkannya.

Doktrin yang sering digaungkan bahwa sama-sama agama samawi sebenarnya adalah permainan retorika untuk meruntuhkan keyakinan orang Islam sedikit demi sedikit. Umat Islam percaya akan adanya kitab taurat, injil, maupun zabur, namun kepercayaan itu tertuju pada kitab aslinya, bukan kitab yang telah direkayasa oleh oknum yang tidak bertanggung jawab. Semua intisari kitab-kitab yang diturunkan oleh Allah sudah tertuang dalam al-Qur’an maka umat Muhammad tidak perlu lagi membaca kia tersebut, cukup mendalami al-Qur’an.

Untuk itu, apapun yang datang dari Qur’an pasti benar. Tidak ada keraguan atas kebenarannya, maka jangan sedikitpun membiarkan ragu merasuk ke dalam jiwa. *Ditulis dari Kelas Tadabbur Kamis Pagi oleh Ustadz Bachtiar Nasir, Kamis, (20/12/2018).

Sebarkan Kebaikan!

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close