Tadabbur

Tadabbur Surat Ali Imran: 40-41 l Rahasia Kekuatan Doa

KETIKA Zakariah dipanggil oleh malaikat saat sedang sujud, ia diberi kabar gembira yang berasal dari Dzat yang Maha Kuasa dan Maha berkehdak atas segala sesuatu. Malaikat mengabarkan bahwa Zakaria akan diberi anak.

Malaikat berkata, sesungguhnya Allah membawa berita gembira buat kamu dengan Yahya. Siapa Yahya? Dia adalah hamba Allah yang membenarkan kalimat yang datang dari Allah, seorang panutan dan teladan, mampu menahan diri dari keinginan hawa nafsu, seorang nabi dan berasal dari keturunan orang yang shalih.

Jika ingin menjadi seperti zakariah, maka jadilah orang yang benar, belajar yang benar, mengerjakan yang benar, mengajarkan yang benar, bersabar di atas kebenaran, dan bersabar memperjuangkan kebenaran.

قَالَ رَبِّ أَنَّىٰ يَكُونُ لِي غُلَامٌ وَقَدْ بَلَغَنِيَ الْكِبَرُ وَامْرَأَتِي عَاقِرٌ ۖ قَالَ كَذَٰلِكَ اللَّهُ يَفْعَلُ مَا يَشَاءُ

40- Zakariya berkata: “Ya Tuhanku, bagaimana aku bisa mendapat anak sedang aku telah sangat tua dan isteriku pun seorang yang mandul?”. Berfirman Allah: “Demikianlah, Allah berbuat apa yang dikehendaki-Nya”.

  • Tafsir Jalalain

(Kata Zakaria, “Wahai Tuhanku! Betapa aku akan mendapatkan anak) atau putra (sedangkan aku sudah sangat tua) maksudnya aku telah hampir mencapai akhir usiaku, yakni 120 tahun   dan istriku pun seorang yang mandul.”) usianya sudah 98 tahun. (Firman Allah,) soalnya (“Demikianlah) Allah menciptakan seorang anak laki-laki dari kamu berdua (Allah berbuat apa yang dikehendaki-Nya.”) karena tidak ada suatu pun yang tidak disanggupi-Nya. Untuk membuktikan kekuasaan besar ini Zakaria diilhami-Nya pertanyaan untuk dijawab. Tatkala dirinya sudah amat rindu untuk bertemu dengan anak yang diberitakan itu.

  • Tadabbur

Ada tiga tembok kemustahilan yang menghalangi Zakaria untuk mendapat anak; faktor fisik, faktor umurnya yang sudah tua, dan istrinya yang mandul. Jika diukur dengan logika manusia Zakaria tidak mungkin mendapatkan anak. Sebab, hukum kausalitas tidak ada. Tetapi, segala sesuatu yang terjadi di muka bumi ini semua atas kehendak Allah. Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, Zakaria menjadi bukti kekuatan doa yang berisi harapan kepada Allah.

Poin penting dari ayat ini adalah menguatkan keimanan kita bahwa segala sesuatu yagn terjadi di muka bumi ini atas kehendak Allah Swt. Dia Maha berkehendak atas segala sesuatu. Sebagaimana Zakaria, timbul rasa putus asa dalam dirinya, tapi dia tidak kehilangan harapan. Jibril datang kepadanya menyampaikan berita gembira, “Demikianlah, Allah berbuat apa yang dikehendaki-Nya”.

Buang presepsi bahwa segala sesuatu terjadi harus berdasarkan hukum kausalitas, tapi ada keajaiban Allah di balik sesuatu yang terjadi itu. Artinya, segala sesuatu yang terjadi di muka bumi ini tergantung kehendak Allah Swt., dan tidak ada manusia yang mampu menggapai ‘logika’ Tuhan. Intinya, semua yang terjadi di muka bumi ini berdasarkan kehendak Allah. Al Masyiatullah. Boleh jadi ada sesuatu yang mustahil secara hukum kausalitas, tapi karena Masyiatullah sehingga kemustahilan itu runtuh.

Untuk itu, kita dianjurkan mengucapkan In Sya Allah disetiap cita-cita dan rencana kita, agar kita mendapatkan pertolongan Allah dalam menggapainya.

  • Surat Ali Imran Aya 41

قَالَ رَبِّ اجْعَلْ لِي آيَةً ۖ قَالَ آيَتُكَ أَلَّا تُكَلِّمَ النَّاسَ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ إِلَّا رَمْزًا ۗ وَاذْكُرْ رَبَّكَ كَثِيرًا وَسَبِّحْ بِالْعَشِيِّ وَالْإِبْكَارِ

41- Berkata Zakariya: “Berilah aku suatu tanda (bahwa isteriku telah mengandung)”. Allah berfirman: “Tandanya bagimu, kamu tidak dapat berkata-kata dengan manusia selama tiga hari, kecuali dengan isyarat. Dan sebutlah (nama) Tuhanmu sebanyak-banyaknya serta bertasbihlah di waktu petang dan pagi hari”.

  • Tafsir jalalain

(Maka katanya, “Wahai Tuhanku! Berilah aku suatu ciri.”) atau tanda bahwa istriku telah hamil. (Firman-Nya, “Tandanya ialah bahwa kamu tidak dapat berbicara dengan manusia) artinya terhalang untuk bercakap-cakap dengan mereka tetapi tidak terhalang untuk berzikir kepada Allah swt. (selama tiga hari) dan tiga malam (kecuali dengan isyarat) atau kode (dan sebutlah nama Tuhanmu sebanyak-banyaknya serta bertasbihlah) maksudnya salatlah (di waktu petang dan pagi.”) di penghujung siang dan di akhir malam.

  • Tadabbur

Begitulah sifat dasar manusia, sama halnya Nabi Ibrahim AS, sebenarnya sudah beriman hanya saja meminta tanda kepada Tuhannya untuk mempertebal keyakinannya. sebab walau bagaimana pun manusia sangat susah untuk keluar dari logikanya sendiri dan sepakat dengan ‘logika’ Allah. Sehingga Zakarian meminta tanda agar jalannya kuat untuk memahami bagaimana Allah mengatur kehidupan ini.

Tanda-tanda yang diberikan Allah kepada Zakaria adalah, dia tidak bisa bicara kepada manusia kecuali hanya dengan isyarat. Tetapi, Allah memampukan hatinya untuk bertasbih sebanyak-banyaknya.

Zakaria dikondisikan tidak bisa bicara selama tiga hari, tapi khusus urusan bertasbih dia dimampukan. Hal ini juga yang menjadi tanda orang beriman, tidak banyak bicara tapi banyak zikir dan bertasbih. Berdasarkan ayat di atas, waktu yang paling tepat untuk memperbanyak tasbih adalah pagi dan petang.

Mengenai keutamaan bertasbih di awal pagi dan petang itu, Rasulullah SAW pernah mengajarkan kepada istrinya untuk membaca tasbih yang jika itu dibaca balasannya akan berkali lipat. Rasulullah SAW bersabda:

عن جويرية أم المؤمنين رضي الله عنها أن النبي صلي الله عليه وسلم خرج من عندها بكرة حين صلي الصبح وهي في مسجدها ثم رجع بعد أن أضحى وهي جالسة فقال : (( ما زلت علي الحال التي فارقتك عليها ؟ )) قالت نعم ، قال النبي صلي الله عليه وسلم : (( لقد قلت بعدك أربع كلمات وثلاث مرات لو وزنت بما قلت منذ اليوم لوزنتهن : سبحان الله وبحمده ، عدد خلقه ورضا نفسه وزنة عرشه ومداد كلماته

Dari Juwairiyah (Ummul Mukminin) RA, bahwasannya Nabi SAW ketika keluar darinya (rumah istrinya-Juwairiyah) di saat pagi hari ketika beliau shalat Subuh, sedang dia berada di tempat shalatnya. Kemudian Rasulullah SAW pulang setelah shalat Dhuha sementara Ummul Mukminin sedang duduk (di tempat shalatnya), beliau SAW bertanya, ”Masihkah engkau dalam keadaan yang tatkala aku tinggalkan?” Ummul Mukminin menjawab, ”Ya, benar.” Lalu beliau bersabda, ”Aku telah mengucapkan empat kalimat tiga kali setelahmu, seandainya kalimat-kalimat itu ditimbang dengan apa yang kamu ucapkan mulai hari ini, pasti (kalimat-kalimat itu) akan lebih berat, yaitu : “Subhanallahi wa bihamdihi, ‘adada khalqihi, wa zinata ‘arsyihi, wa midaada kalimaatihi” (Maha Suci Allah, aku memuji-Nya sebanyak bilangan makhluk-Nya, sejauh kerelaanNya, seberat timbangan ’Arsy-Nya, dan sebanyak tinta tulisan kalimat-Nya) [Diriwayatkan oleh Muslim 44/17, Tirmidzi 67/13, Abu Dawud 369/4, Ibnu Majah 423/2]

 

سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ: عَدَدَ خَلْقِهِ، وَرِضَا نَفْسِهِ، وَزِنَةَ عَرْشِهِ وَمِدَادَ كَلِمَاتِهِ (Dibaca 3 x pada pagi hari dan sore)

*Gubahan M

 

Sebarkan Kebaikan!

Tags
Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close