Tadabbur

Tadabbur Surat Ali-Imran : 37  I Membesarkan dan Mendidik Anak dengan Pengasuh yang Baik

KEMEROSOTAN ahlak dan moral yang menimpa generasi muda saat ini sangat memprihatinkan. Seakan tabir antara laki-laki dan wanita hanya bualan yang tertulis dalam Kitab suci, syariat hanya manuskrip yang dimuseumkan, idola mengarah pada tokoh alay, dan gaya hidup berkiblat ke budaya barat. Hal ini menjadi masalah yang perlu diperhatikan, dan pemegang kewenangan harus mengambil langkah tegas untuk mengeluarkan peraturan yang bisa merangkai kembali moral pemuda yang telah hancur berkeping-keping. Selain itu, peran orang tua juga berperan penting dalam pertumbuhan karakter anaknya.

Mendidik anak adalah salah satu hal yang paling penting dan esensial. Ketika Allah menitipkan anak kepada orangtuanya, maka Allah mempercayakan kehidupan anak tersebut di tangan orangtuanya, dan hati yang murni nya adalah batu berharga tanpa cacat, bebas dari ukiran atau bentuk. Lalu apakah kita ingin menghianati amanah itu?.

Jika orangtua terbiasa mendidik anaknya dengan baik, anak seperti ini akan beruntung di dunia dan akhirat, tentu orang tuanya, guru, dan pendidik akan berbagi dalam upahnya. Jika anak terbiasa dengan pendidikan dunia-oriented ia akan terjebak di tengah reruntuhan moral, dan para orang yang terlibat dalam pengasuhannya akan mendapatkan dosa juga.

Problem kemerosotan ahlak dan moral itu, Al-Qur’an datang dengan menawarkan solusi yang sudah pasti kebenarannya. Salah satu solusi yang ditawarkan itu adalah apa yang ditempuh oleh Hannah Binti Faqudz (Ibu Maryam). Pada edisi tadabbur sebelumnya (Kamis, 2 Nov 2017) KH Bachtiar Nasir telah menjelaskan tentang nazar, doa, dan curhatan Hannah kepada Tuhannya. kali ini akan terpampang dengan jelas bagaimana cara mendidik anak agar tidak terjebak di lembah dekadensi moral.

 

فَتَقَبَّلَهَا رَبُّهَا بِقَبُولٍ حَسَنٍ وَأَنْبَتَهَا نَبَاتًا حَسَنًا وَكَفَّلَهَا زَكَرِيَّا ۖ كُلَّمَا دَخَلَ عَلَيْهَا زَكَرِيَّا الْمِحْرَابَ وَجَدَ عِنْدَهَا رِزْقًا ۖ قَالَ يَا مَرْيَمُ أَنَّىٰ لَكِ هَٰذَا ۖ قَالَتْ هُوَ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ ۖ إِنَّ اللَّهَ يَرْزُقُ مَنْ يَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ

 

Maka Tuhannya menerimanya (sebagai nazar) dengan penerimaan yang baik, dan mendidiknya dengan pendidikan yang baik dan Allah menjadikan Zakariya pemeliharanya. Setiap Zakariya masuk untuk menemui Maryam di mihrab, ia dapati makanan di sisinya. Zakariya berkata: “Hai Maryam dari mana kamu memperoleh (makanan) ini?” Maryam menjawab: “Makanan itu dari sisi Allah”. Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab. (QS. Ali-Imran: 37)

 

Ada hal penting yang harus diperhatikan oleh setiap orang tua, bahwa tujuan memiliki anak tidak hanya untuk memuaskan kepentingan pribadi. Anak adalah amanah dari Allah, sehingga langkah yang diambil oleh Hannah adalah contoh terbaik yang bisa diterapkan di era penuh fitnah ini. Hannah bernazar akan menyerahkan anaknya kepada Allah (menjadikan pelayan Baitul maqdis) dan tidak akan mendidiknya menjadi anak yang berbuat syirik kepada Tuhannya. menyerahkan anak kepada Allah adalah cara yang paling benar untuk membahagiakan anak, dan cara yang paling salah adalah menyerahkan anak untuk mengabdi kepada manusia.

Sebelum anaknya lahir, Hannah mendoakan anaknya dengan doa terbaik dan bernazar kepada Allah. Doanya diterima oleh Allah dengan penerimaan terbaik. Kata bi (بِ) dalam ayat itu menunjukkan penegasan tentang penerimaan terbaik itu.

Secara Bahasa Maryam adalah pelayan, dsn itulah Hannah yang dikabulkaan. Sejak awal, Hannah telah memberikan nama kepada anaknya dengan nama yang sesuai dengan nazarnya. Untu itu, berdoalah untuk kebaikan anak kita dan sebagai orang tua jangan sampai tidak punya visi dalam mendidik anak.

Dalam keterangan ayat di atas, setelah doa Hannah diterima, Maryam kemudian ditumbuhkembangkan oleh Allah dengan pendidikan terbaik, diberikan guru yang terbaik pula, dan ditengaah lingkungan yang baik. Pemberian itu, semua berawal dari nazar dan doa wanita suci dan beriman.

Ada tiga faktor yang paling menentukan dalam perkembangan karakter, moral, dan ahlak anak, yaitu pendidikan di rumah, lingkungan yang baik, dan sekolah yang tepat atau berguru pada guru yang tepat. Ketiga faktor inilah yang diberikan Allah kepada Maryam. Untuk itu, jangan salah mencari sekolah untuk anak, perhatikan pergaulannya, dan di rumah beri ia asupan-asupan yang mengajaknyan untuk beriman kepada Allah.

Sama halnya dengan ilmu, sebenarnya ketiga poin di atas sudah mewakili ilmu, tapi ilmu sangat penting maka disebutkan secara khusus. Ilmu adalah cahaya. Jika pengcahayaan kepada anak itu kurang, maka anak akan mudah terserang penyakit yang menyimpang dari akidah dan ideologi.

Sampai pada level pernikahan, orang tua harus jelih memilihkan pasangan buat anaknya. Jika ia laki-laki maka harus memilihkan tanah yang subur buat anaknya, dan jika wanita maka harus mencarikan bibit terbaik buat anaknya. Tentu untuk menemukan itu, mulai dari mendidik dia agar menjadi tanah subur dan bibit unggul.

Mencarikan guru yang tepat buat anak. Inilah pesan penting dsri ayatbdi atas, anjuran untuk mencari guru yang terbaik untuk anak.  Zakaria adalah pemuka agama pada saat itu yang dipilih oleh Hannah untuk mendidik buah hatinya (Maryam).

Jika telah memperhatikan hal ini, maka tidak usah ragu dengan rezeki anak kita di mana pun ia berada. Sebagaimana Maryam, setiap kali Zakariyah masuk ke dalam mihrabnya maka dia menemukan buah-buahan yang bukan pada musimnya ada di mihrab Maryam. Ketika ditanya, ia menjawab, ini adalah rezeki dari Allah.

Jangan pernah ragu akan rezeki anak yang menuntut ilmu agama, karena Allah sendiri yang akan bertanggung jawab dan menjamin semua rezeki penuntut ilmu.

Tentu, keshalihan Maryam tidak begitu saja. itu didapatkan dari doa dan nazar ibundanya, mendidiknya dengan baik, mencarikan guru terbaik yang bisa mendekatkannya kepada Allah, dan akhirnya Maryam menjadi symbol wanita shalihah di dalam Al-Qur’an.

Sebarkan Kebaikan!

Tags
Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close