Tadabbur Surat Ali-Imran 14, Cinta terhadap Dunia

SUMBER bencana bagi manusia sesungguhnya datang dari diri dan keinginannya sendiri. Makanya orang yang paling besar masalahnya biasanya adalah orang yang paling banyak keinginannya. Beda dengan orang yang mengamalkan al-Qur’an, ia hanya menjadikan keinginan Allah SWT sebagai keinginannya. Begitulah seharusnya orang yang beriman, keinginannya selalu selaras dan sejalan dengan keinginan Allah SWT. Itulah jalan menuju kebahagiaan. Namun kita tidak bisa sampai ke jalan itu kecuali Allah memberikan taufik dan hidayah-Nya, yaitu bertemunya antara kehendak Allah SWT dan keinginan seorang hamba.

Inilah tadabbur Surat Ali-Imran Ayat 14 oleh KH Bachtiar Nasir, Pimpinan AQL Islamic Center:

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis ras, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia; dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (Surga).” (QS. 3:14)

Zuyywina Linnaasi hubbusy-syahwat: telah diperindah dalam pandangan manusia kecintaan terhadap apa-apa yang diingini (syahwat). Syahwat adalah kecintaan kepada apa-apa yang kita inginkan dan setiap keinginan yang terbetik dalam keinginan, ada yang positif dan ada pula yang negatif. Nah, keinginan kita lebih berat kemana, pada jalan kebaikan atau keburukan? Karena pada dasarnya, manusia mempunyai dua kecenderungan tersebut. Intinya, jika tidak dibimbing oleh hidayah Allah maka kecenderungan manusia lebih banyak negatif. Al-Qur’an Surat Asy-Sams ayat 8 berbunyi; “maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketaqwaannya.”

Karenanya, mencintai keindahan seharusnya diarahkan terhadap sumber yang menciptakan keindahan yaitu Allah SWT. Karenanya, saatnyalah kita telah hijrah dari mencintai sesuatu yang semu menuju kepada sesuatu yang abadi.

Dalam Surat Ali-Imran 14, ada  bagian yang menjadi magnet kecintaan bagi manusia, yaitu perempuan, anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang hiasan kecintaan pada manusia.

1. Ketertarikan terhadap Wanita
Sebagaimana dalam kisah Nabi Yusuf AS, tipu daya perempuan itu sangat luar biasa. Juga dalam Surah al-Falaq, tukang sihir yang diisyaratkan adalah an-Nisa, karena memang kebanyakan tukang sihir itu adalah perempuan. Jika terkait dengan fitnah dunia maka yang nomor satu itu bukan harta, bukan pula anak, tetapi wanita.

Semua ini diinformasikan oleh Allah SWT bukan untuk memojokkan perempuan dan menempatkan perempuan di tingkat yang rendah. Akan tetapi, agar kita mampu menempatkan diri, baik bagi seorang laki-laki maupun perempuan. Hal ini perlu diketahui oleh suami, anak laki-laki, saudara laki-laki dan juga seorang ayah. Al-Qur’an menggambarkan bahwa tipu daya perempuan itu sangat berbahaya. Sehingga memerlukan pembinaan yang kuat.

Makanya para ayah diingatkan, “Kalau Anda mempunyai dua anak perempuan kemudian mendidiknya dengan baik, maka dia akan menjadi pintu surga bagimu.” Ini adalah tekanan khusus dalam mendidik anak-anak perempuan. Seorang anak perempuan itu mampu menggoda laki-laki dan dia tidak merasa sedang menggoda. Makanya disebutkan, cinta syahwat yang paling tinggi adalah perempuan.

2. Cinta kepada Anak
Banyak orang tua yang rela mengeluarkan banyak uang untuk anak-anaknya, tapi untuk menyumbang anak yatim perlu waktu lama dan pertimbangan. Orangtua mampu melakukan apa saja demi mencintai anak-anaknya. Seharusnya, anak adalah jembatan menuju surga sehingga apapun akan dilakukan oleh orangtua demi mendekatkan diri kepada Allah dan Rasul-Nya. Sebaliknya, menjauhkan diri dan anak dari segala yang menjadi murka Allah SWT.

3. Harta yang Banyak
Harta mana yang cenderung menjadi prioritas manusia? Minaz zahabi walfiddhah wal khailil musawwamah wal an’aam wal-harts.
Harta banyak yang paling disukai manusia itu adalah emas, kemudian perak, kuda pilihan (kendaraan). Rasulullah itu rumahnya sangat sederhana tapi kendaraannya adalah yang terbaik karena kedaraan itu digunakan untuk berjuang. Nama kuda beliau selalu sesuai dengan spesifikasinya. Makanya kendaraan untuk perjuangan harus kendaraan yang terbaik karena urusannya dengan jihad.

Sangat beda orang yang mengoleksi kendaraan untuk memuaskan hawa nafsu dengan orang membeli kendaraan untuk perjuangannya.
Setelah kendaraan maka manusia juga menyenangi hewan ternak, secara simbol bisa saja berternak supaya aset semakin banyak. Setelah itu manusia juga menyukai sawah, ladang, dan kebun-kebun.

Setelah Allah SWT menjelaskan kesenangan-kesenangan di atas Dia lalu mentup ayat dengan zalika mataaul hayatid-dunyaa. Jadi kesenangan dunia itu hanya berputar pada tiga poin besar di atas. Maka bersyukurlah orang yang telah melampaui itu. Jika dilihat dari kacamata dunia, ketiga poin inilah ukuran sukses. Tapi tiap orang punya barometer sukses atau kebahagiaannya sendiri, tergantung bagaimana ia menyikapai kehidupan. Al-mataa adalah kenikmatan yang sedikit dan akan hilang. Makanya Allah mengekspresikan kenikmatan akhirat tidak memakai kata mataa tapi kata ragadan. Ragadan itu nikmat yang banyak dan abadi. Orang yang hanya memperhatikan kenikmatan dunianya maka setelah matinya ia akan sengsara. Semakin tinggi obsesi Anda terhadap kenikmatan dunia maka semakin tinggi pula tingkat kekecewaanmu. Allah SWT menutup ayat di atas dengan penegsan, Wallahu indahu husnul maab. “Dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik”. *muhajir

Sebarkan Kebaikan!