Tadabbur
Trending

Tadabbur Surat Al-Ma’arij (1-4) | Menantang Azab Allah adalah Perilaku Kekufuran

AZAB adalah perkara yang pasti, namun masih ada segolongan orang yang bernai menantangan Azab karena kesombongannya. Pada sesi tadabbur kali ini, Pimpinan AQL Islamic Center Ustadz Bachtiar alis UBN mengupas surat al-Ma’arij ayat 1-4. Allah Swt. berfirman,

“Seseorang telah meminta kedatangan azab yang akan menimpa, orang-orang kafir, yang tidak seorangpun dapat menolaknya, (yang datang) dari Allah, Yang mempunyai tempat-tempat naik. Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan dalam sehari yang kadarnya limapuluh ribu tahun.” (QS. al-Ma’arij: 1-4)

Tadabbur

Ayat 1:

Hakikat akhirat adalah salah satu dari hakikat-hakikat yang sulit dimengerti oleh orang-orang musyrik Arab. Sehingga mereka menghadapinya dengan penuh keheranan, keterkejutan dan merasa aneh. sikapnya ini, maka di antara mereka ada yang meminta kedatangan adzab tersebut. Tetapi sebenarnya orang-orang musyrik Arab yang meminta didatangkan adzab tersebut lebih karena didorong oleh sikap mereka yang ingkar lagi sombong.

Adzab itu pasti, menyoalnya menjadi salah satu bukti kepastiannya. Karena, dengan itu, berarti menjadi ada orang yang akan diadzab dengan adzab itu. lbarat bom nuklir yang dimiliki oleh sebuah negara, sebenarya bisa saja senjata itu tidak akan pernah diledakkan, tapi dengan kemunculan para pelanggar hukum dan perusak yang menyoal keberadaannya, bom itu terdesak diledakkan.

Ayat 2:

Adzab Allah pasti menimpa orang-orang kafir, dan mereka tidak mempunyai penolong seorang pun, yaitu yang kuasa mengelakkan mereka agar adzab tidak jadi datang, atau menghilangkannya tatkala adzab tersebut sudah datang.

Adzab Allah, ketika telah datang, tidak bisa dieelakkan dan tidak akan salah sasaran. Ibarat peluru kendali yang terus akan mengejar target sampai dapat, meski target bersembunyi di benteng yang kuat.

Ayat 3:

lni adalah suatu ungkapan tentang ketinggian dan keluhuran dari Sang Khaliq, yang berkuasa atas seluruh makhluknya.

Alam semesta beserta semua makhluk yang ada di dalamnya diciptakan bersistem yang terhubung ke Allah. Ibarat mesin canggih yang dikendalikan oleh seseorang dengan remot kontrol. Perintah Allah tak perlu menunggu waktu untuk sampai pada makhluk-makhluk-Nya, dan tidak ada yang bisa mengelak, baik berupa nikmat maupun adzab.

Ayat 4:

Saat Kiamat terjadi, berlakulah peristiwa-peristiwa yang sangat dahsyat. Allah Swt. tidak menyingkap keseluruhan tabirnya, kecuali sedikit. Di antaranya, kedahsyatan harinya yang takaran satu harinya setara lima puluh ribu tahun di bumi, serta kesibukan para malaikat menghadap Allah Rabbul ’Alamin.

Bukan sinyal atau gelombang, atau apapun yang lalu-lalang ke Allah guna mengantarkan perintah-Nya dalam mengatur semesta, melainkan para malaikat dan Jibril yang Iebih cepat dari apapun.

Ada pelajaran penting dari sesi tadabbur kali ini, yaitu kemuliaan hanya jika bersama al-Qur’an. Malaikat jibril diangkat menjadi imam para malaikat karena dialah yang membawa wahyu al-Qur’an. Nabi Muhammad Saw. menjadi penghulu para nabi karena diturunkan kepadanya al-Qur’an. Ramadhan sama saja dengan bulan lainnya, tapi ia menjadi bulan suci karena di dalamnya turun al-Qur’an. Bahkan benda mati, kertas misalnya, wajib ditempatkan di tempat yang paling tinggi jika terdapat di dalamnya tulisan al-Qur’an. Jadi ukuran kemuliaan itu adalah al-Qur’an. satu-satunya jalan menuju kemuliaan adalah jalan yang ditunjukkan oleh al-Qur’an. Ingin hidup mulia? Hiduplah bersama al-Qur’an. *Ditulis dari tadabbur Ustadz Bachtir Nasir di Masjid Pondok Indah, Jakarta Selatan, Selasa, (8/1/2019).

Sebarkan Kebaikan!

Tags
Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close