Tadabbur Surat Al-Jinn

Jika jin saja tidak akan menyekutukan Allah karena takjub dengan petunjuk yang terkandung dalam al-Qur’an, lalu bagaimana kita dengan manusia?

قُلْ أُوحِيَ إِلَيَّ أَنَّهُ اسْتَمَعَ نَفَرٌ مِنَ الْجِنِّ فَقَالُوا إِنَّا سَمِعْنَا قُرْآنًا عَجَبًا

Katakanlah (hai Muhammad): “Telah diwahyukan kepadamu bahwasanya: telah mendengarkan sekumpulan jin (akan Al Quran), lalu mereka berkata: Sesungguhnya kami telah mendengarkan Al Quran yang menakjubkan, (QS. Al-Jin: 1)

Ayat ini menggambarkan satu peristiwa yang luar biasa ketika sekumpulan jin mendengarkan al-Qur’an dari Nabi Muhammad shallallohu alaihi wa sallam. Kemudian beliau diperintahkan untuk menyampaikan peristiwa itu. Imam as-Suyuti mengatakan dalam tafsirnya, Jalalain mengatakan, “jin dari Nashibin; demikian itu terjadi sewaktu Nabi saw. sedang melakukan salat Subuh di lembah Nakhlah, yang terletak di tengah-tengah antara Mekah dan Thaif. Jin itulah yang disebutkan di dalam firman-Nya, “Dan (ingatlah) ketika Kami hadapkan serombongan jin kepadamu.” (QS. Al-Ahqaf: 29) (lalu mereka berkata) kepada kaum mereka setelah mereka kembali kepada kaumnya: (“Sesungguhnya kami telah mendengarkan Alquran yang menakjubkan) artinya mereka takjub akan kefasihan bahasanya dan kepadatan makna-makna yang dikandungnya, serta hal-hal lainnya.”

Jadi, kalau jin saja sadar dan takjub terhadap kandungan al-Qur’an lalu bagaimana kita. Jika kita telusuri lebih mendalam tentang dari segi mana jin itu takjub terhadap al-Qur’an?

يَهْدِي إِلَى الرُّشْدِ فَآمَنَّا بِهِ ۖ وَلَنْ نُشْرِكَ بِرَبِّنَا أَحَدًا

(yang) memberi petunjuk kapada jalan yang benar, lalu kami beriman kepadanya. Dan kami sekali-kali tidak akan mempersekutukan seseorangpun dengan Tuhan kami, (QS. Al-Jin: 2)

Sekumpulan jin itu takjub terhadap al-Qur’an dari sisi petunjuknya, bahwa al-Qur’an itu memberi petunjuk kepada jalan yang benar. Setelah jin mengetahui bahwa al-Qur’an memberi pentunjuk mereka lalu beriman kepadanya. Bentuk keimanan bangsa jin adalah mereka berikrar tidak akan menyekutukan Allah subhana wa ta’aala dengan sesuatu apa-pun. Jika jin saja tidak akan menyekutukan Allah karena takjub dengan kandungan al-Qur’an, lalu bagaimana kita dengan manusia? terlalu banyak manusia yang menyukutukan Allah dengan menyembah jin.

وَأَنَّهُ تَعَالَىٰ جَدُّ رَبِّنَا مَا اتَّخَذَ صَاحِبَةً وَلَا وَلَدًا

dan bahwasanya Maha Tinggi kebesaran Tuhan kami, Dia tidak beristeri dan tidak (pula) beranak. (QS. Al-Jinn 3)

ini adalah deklarasi iblis yang tidak mau menyekutukan Tuhannya. Jin yang telah beriman itu mendeklarasikan bahwa Tuhan itu Maha Tinggi, Dia tidak beristeri dan tidak mempunyai keturunan. Seakan terbalik dengan sebagian manusia, bahwa ada sekolompok manusia di dunia yang mengatakan bahwa tuhan itu punya bapak dan anak atau sering dikenal dengan ideologi trinitas. Tentu hal ini menjadi kesesatan ideologi yang sangat dahsyat dan itu akan berdampak pada pada tatanan hidup pribadi dan lingkungan dia.

وَأَنَّهُ كَانَ يَقُولُ سَفِيهُنَا عَلَى اللَّهِ شَطَطًا

Dan bahwasanya: orang yang kurang akal daripada kami selalu mengatakan (perkataan) yang melampaui batas terhadap Allah, (QS. Al-Jinn: 4)

Dalam ayat ini jin membongkar rahasia teman-temannya bahwa yang kurang akal dari golongan mereka selalu mengatakan perkataan yang melampaui batas terhadap Allah Subhanahu wa Ta’aala. Sama halnya dengan bangsa jin, dari kalangan manusia banyak yang dengan sengaja menantang tuhan. Masih basah dalam ingatan kita tentang statemen dari seorang pejabat penting di Negeri ini bahwa, “Tidak usah marah dengan orang atheis karena Tuhan sendiri tidak bertuhan”. Ini adalah contoh orang-orang yang kehilangan akal dalam menilai sesuatu.

وَأَنَّا ظَنَنَّا أَنْ لَنْ تَقُولَ الْإِنْسُ وَالْجِنُّ عَلَى اللَّهِ كَذِبًا

dan sesungguhnya kami mengira, bahwa manusia dan jin sekali-kali tidak akan mengatakan perkataan yang dusta terhadap Allah. (QS. Al-Jinn: 5)

Manusia dan jin yang beriman tidak akan mengatakan perkataan yang dusta terhadap Allah Subhanahu wa Ta’aala. Dalam sejarah intelektual manusia kita akan sampai pada satu lembar sejarah filsafat bahwa pernah ada orang yang dengan sombong mengatakan “Tuhan telah mati karena Tuhan sudah saya bunuh”, statemen ini dimunculkan oleh Friedrich Wilhelm Nietzsche. Ia menjadi tokoh utama munculnya pembaharuan dari filsafat modern menuju filsafat post-modern. Pemikirannya yang radikal dan kontroversial  menjadi perbincangan hangat yang tidak ada habisnya. Tentu hal ini adalah perkataan dusta yang melampaui batas tentang Tuhan yang Maha Agung.

وَأَنَّهُ كَانَ رِجَالٌ مِنَ الْإِنْسِ يَعُوذُونَ بِرِجَالٍ مِنَ الْجِنِّ فَزَادُوهُمْ رَهَقًا

Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan. (QS. Al-Jinn: 6)

Ada manusia yang bekerja sama dengan jin untuk meminta perlindungan. Akibat dari perbuatan itu maka bertambahlah dosa dan kesalahan mereka. Maka lebih banyak negatif ketika meminta pertolongan kepada jin daripada positifnya, walaupun kelihatan bermanfaat bagi dirinya tapi pada hakikatnya sangat merugikan. Ketika krisis moneter menimpa Indonesia pada tahun 90-an, pada saat itu jin sangat laku dijual untuk menjadi penolong-penolong dari selain Allah. Sampai saat ini kerjasama yang dilakukan oleh orang-orang tertentu dengan jin masih marak.

وَأَنَّهُمْ ظَنُّوا كَمَا ظَنَنْتُمْ أَنْ لَنْ يَبْعَثَ اللَّهُ أَحَدًا

Dan sesungguhnya mereka (jin) menyangka sebagaimana persangkaan kamu (orang-orang kafir Mekah), bahwa Allah sekali-kali tidak akan membangkitkan seorang (rasul)pun, (QS. Al-Jinn: 7)

Di sinilah penyesatan dimulai ketika manusia disesatkan dari ajaran Rasulullah shallallohu alaihi wa sallam. Karakter Rasul itu dibunuh demikian juga para ulama yang menjadi ahli waris para Nabi agar manusia menjauhi al-Qur’an.

Sebarkan Kebaikan!