Tadabbur Surat Al-Jin : 18 I Adab-Adab di Dalam Masjid yang Harus Diterapkan Seorang Muslim

Melihatlah ke atas untuk urusan akhiratmu dan melihatlah ke bawah untuk urusan duniamu maka hidup akan tenteram.

 

وَأَنَّ الْمَسَاجِدَ لِلَّهِ فَلَا تَدْعُوا مَعَ اللَّهِ أَحَدًا

 

Dan sesungguhnya mesjid-mesjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyembah seseorangpun di dalamnya di samping (menyembah) Allah. (QS. Al-Jin: 18)

 

  • Tafsir Jalalain

(Dan sesungguhnya mesjid-mesjid itu) atau tempat-tempat shalat itu (adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kalian menyembah) di dalamnya (seseorang pun di samping Allah) seumpamanya kalian berbuat kemusyrikan di dalamnya, sebagaimana yang telah dilakukan oleh orang-orang Yahudi dan orang-orang Nasrani, yaitu apabila mereka memasuki gereja dan sinagog mereka, maka mereka menyekutukan-Nya.

  • Tadabbur Ayat

Huruf Li (ل) yang melekat pada ayat ini menunjukkan kepemilikan, artinya hanya milik Allah. (فَلَا تَدْعُوا) artinya kita dilarang untuk meminta kepada selain Allah. Kemudian kata (أَحَدًا) adalah tunggal, karena kata satu itu bisa saja satu dalam satu tempat tapi ada lagi di tempat lain, misalnya seseorang punya rumah satu di Depok, satu di Jakarta, dan satu di Sulawesi. Allah itu jauh lebih pencemburu dari hamba-Nya, maka jangan pernah sekutukan  Dia. Sebagaimana kaum Quraisy terdahulu, mereka menyembah berhala di rumah Allah (masjid), sehingga mereka digelari jahiliyah (orang-orang yang bodoh).

Masjid adalah tempat didirikannya peribadatan kepada Allah, khususnya shalat. Kata masjid dalam ayat di atas memakai alif lam menunjukkan tempat yang biasa digunakan untuk shalat. Perbedaan antara masjid dan mushallah adalah, jika mushallah tidak didirikan di sana shalat jum’at, hanya untuk shalat berjamaah saja.

Di dalam masjid itu kita hanya diperintahkan untuk beribadah kepada-Nya dan tidak boleh ada dua aktivitas di dalamnya, yaitu menyembah berhala dan thagut. Kafir Quraisy dahulu, mereka membuat sesembahan selain Allah di rumah-Nya. Sama halnya menyembah thagut. Thagut adalah semua yang disembah selain Allah. Misalnya, membesar-besarkan seseorang di dalam masjid melebihi sanjungan kepada-Nya, walau pun itu pendiri masjid bahkan ulama sekali pun, kita tidak boleh memujanya melebihi pujaan kita kepada-Nya, karena perbuatan itu bisa menjadi thagut. Sebab, di dalam masjid itu kita hanya diperintahkan untuk membesarkan dan mengagungkan nama-Nya.

(وَأَنَّ الْمَسَاجِدَ لِلَّهِ) kata masjid di sini dilekatkan dengan lafzul jalalah, para ulama mengatakan bahwa jika masjid itu dilekatkan dengan Allah maka hal untuk littasyrif (untuk memuliakan masjid itu). Tetapi, jika dilekatkan selain Allah sebagai bentuk nama hal itu dinamakan litta’rif (untuk pengenalan), misalnya Masjid muhammadiyah, masjid NU, dan lain-lain.

(فَلَا تَدْعُوا) kita dilarang dalam masjid untuk meminta permohonan perlindungan atau pengharapan kepada selain Allah, karena masjid itu tempat khusus untuk mengagungkan Allah subhanahu wa ta’aala. Sehingga ada juga larangan untuk berdagang di areal ibadah masjid.

(مَعَ اللَّهِ أَحَدًا) seumpama kalian berbuat kemusyrikan kepada-Nya sebagaimana yang telah dilakukan oleh kafir Quraisy bahwa mereka menyekutukan Allah di rumah ibadah, tentu hal ini adalah penghinaan kepada-Nya. Satu-satunya agama yang tidak perantara dalam beribadah dengan Tuhannya hanya Islam. salah satu hikmahnya juga kenapa seluruh permukaan bumi dijadikan tempat sujud (masjid). Sementara umat selain muslim itu tidak bisa beribadah kecuali jika berada di tempat ibadahnya.*Tadabbur Selasa Pagi di Mesjid Raya Pondok Indah, Jakarta Selatan, 7 Nov 2017.

Sebarkan Kebaikan!