Tadabbur

Tadabbur Surat Al-Baqarah : 219-220 I Fikih Pembinaan Anak Yatim Menurut Al-Qur’an

(219) Mereka bertanya kepadamu tentang khamr dan judi. Katakanlah, “Pada keduanya itu terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar daripada manfaatnya.” Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah, “Yang lebih dari keperluan” Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada kalian supaya kalian berpikir, tentang dunia dan akhirat. 

(220) Dan mereka bertanya kepadamu tentang anak yatim. Katakanlah, “Mengurus urusan mereka secara patut adalah baik, dan jika kalian bergaul dengan mereka, maka mereka adalah saudara kalian; dan Allah mengetahui siapa yang membuat kerusakan dari yang mengadakan perbaikan. Dan jikalau Allah menghendaki, niscaya Dia dapat mendatangkan kesulitan kepada kalian. Sesungguhnya Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.”

  • Tadabbur Al-Baqarah : 219-220

Dari surah Al-Baqarah diatas dijelaskan bahwa saat itu Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam ditanya tentang tiga hal yakni;

  1. Tentang khamar dan judi.

Maka dikatakan bahwa keduanya adalah dosa besar, dan tidak ada kebaikan didalam keduanya

2. Apa yang harus di infaqkan.

Sesuatu yang diinfaqkan adalah sesuatu yang berasal dari kelebihan kebutuhan pokok. Yakni dari pendapatan yang didapatkan setelah dipotong dengan kebutuhan pokok, kelebihan dari itulah yang dapat di infaqkan. Jangan menunggu menjadi orang yang bermanfaat untuk berbagi dan jangan menunggu kaya untuk bersedekah.

3. Mereka bertanya tentang anak yatim.

Mengurus kebutuhan yatim secara patut. Artinya memberikan yatim bukan hanya pemberian secara materi saja, tetapi juga kasih sayang, perhatian dan pendampingan yang baik di dalam kesehariannya. Pemberian itu juga harus menganggap dan memperlakukan yatim dengan baik seperti saudara kadung.

Jangan kau dekati harta anak yatim kecuali dengan cara yang benar, jangan sampai harta anak yatim terbengkalai dan habis begitu saja (memanfaatkan harta anak yatim seperti menginvestasikan dan hasilnya dikembalikan untuk yatim tersebut). Jika orang kaya yang menjadi pengelolah harta anak yatim, maka ia tidak diperbolehkan untuk mendekati harta anak yatim tersebut. Tetapi, jika dalam pengelolaan harta anak yatim itu, dan ternyata penegelolah juga membutuhkan biaya karena tidak mampu, maka diperbolehkan untuk mengambil, tapi hanya untuk mencukupi kebutuhan, jangan sampai menzalimi dan hanya mengambil secara wajar saja.

Perlakuan terhadap anak yatim itu sesungguhnya Allah Maha mengetahui siapa saja orang yang menzalimi anak yatim. Allah telah menjelaskan bagaimana mengatur harta anak yatim (ketika diberikan amanah) dan bagaimana berhubungan dengan mereka. Pergaulilah mereka dengan akhlak yang baik dan bermuamalah mereka dengan mereka dengan cara yang baik. Jika harta mereka perlu dikelola, kelolalah dengan syariat yang benar dan beri keuntungan bagi kehidupan yatim ke depan, dan jika berinteraksi anggaplah mereka seperti saudara kandung. Jangan pernah memandang rendah anak yatim, karena mereka juga ciptaan Allah yang memiliki hak yang sama untuk hidup secara layak.

Rasulullah adalah teladan terbaik tentang tata cara berinteraksi dengan anak yatim. Banyak hadis yang menunjukkan hal itu. Salah satunya adalah, sebagaimana sabda beliau yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari;

Dari Sahl bin Sa’ad r.a berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Saya dan orang yang memelihara anak yatim itu dalam surga seperti ini.” Beliau mengisyaratkan dengan jari telunjuk dan jari tengahnya serta merenggangkan keduanya.” (HR. Bukhari)

  • Pelajaran penting Al-Baqarah : 219-220
  1. Angjuran untuk memikirkan dunia dan akhirat.
  2. Bagaimana mengurus anak yatim (mengurusi mereka dengan patut).
  3. Bagaimana berinteraksi dengan yatim (seperti saudara kandung).
  4. Allah mengetahui siapa yang berbuat kerusakan siapa yang melakukan perbaikan.
  5. Allah berkehendak mendatangkan kesulitan atau kemudahan.
  6. Allah Maha Perkasa dan Bijaksana.

Jangan kau dekati harta anak yatim kecuali dengan cara yang benar. Orang yang memakan harta anak yatim bagai memakan api neraka dan ia akan kekal didalamnya. Karena hal tersebut, maka para sahabat sangat ketakutan mengenai hal ini dan mereka menanyakan kepada Rasulullah, sehingga Rasulullah memberikan batasannya sebagai mana atas petunjuk Allah.

Rasulullah bersabda bahwa pergauilah anak yatim itu dengan akhlak yang baik, bermuamah dengan baik, jangan mengelolah harta mereka yang tidak sesuai dengan syariat-Nya, dan lebih baik dikelola dari pada didiamkan. Mengelola dengan cara mengembangkan sehingga keuntungannya juga bisa diberikan kepada yatim. Tak kalah penting yang harus diperhatikan adalah jika berinteraksi maka perlakukan yatim seperti memperlakukan saudara sendiri.

Hal yang harus diperhatikan dalam mengurusi yatim adalah memenuhi kebutuhan psikis mereka. Karena kewajiban kita bukan hanya memenuhi kebutuhan materi mereka saja. Alasan memenuhi kebutuhan psikis itu karena selama ini mereka tidak mendapatkan perhatian, kasih sayang, pendidikan dari orang yang mereka cintai (sosok oarang tuanya). Kita harus bisa berperan menggantikan orangh tuanya.

Infaq kepada yatim lebih utama dari pada infaq kepada anak orang yang tidak mampu. Karena secara perhatian anak yang kurang mampu masih memiliki orang tua yang bisa memberikan perhatian dan kasih sayang. Mereka masih punya tempat untuk bercerita berbeda dengan anak yatim. Beban yang berat bagi yatim karena tidak memiliki tempat untuk mengadukan apa yang mereka rasakan. Yatim tidak bisa menyampaikan perasaannya yang terpendam selama ini. Kalaupun ada terkadang tidak tepat, jadi wajar jika mereka menjadi perangai yang kurang perhatian dan ingin diperhatikan. Sebenarnya mereka itu tidak nakal hanya saja kita yang kurang sabar menghadapinya. Hal ini harus kita pahami bersama. Dalam jiwa yatim adal kekosongan, tugas kitalah yang mengisi kekosongan itu.

Yatim adalah sosok orang lain yang kita jadikan saudara kandung, tapi bisa juga yatim yang berasal dari garis keturunan keluarga sendiri. Jika saudaramu kelaparan maka yang lebih dahulu dimintai pertanggung jawaban adalah saudaranya sendiri. Maka saling perhatian dan membantulah kalian sesama saudara.

Kunci kebahagiaan sebenarnya ada pada shalat. Menghadirkan kekhusyuan dalam shalat lalu menumpahkan semua beban hidup saat sujud. Tetapkanlah waktu khusus untuk berdua-duaan dengan Allahdan terus memupuk hubungan Allah subhanahu wa ta’aala. Jika hubungan sudah baik dengan Allah maka rahmat-Nya, kasih sayang-Nya, perhatian-Nya akan tercurah kepada kita.

Silaturahmilah dengan orang kerabat, kemudian atur waktu untuk bertemu dengan keluarga. Maka dengan begitu hablun minannas (hubungan dengan manusia) akan terjaga dan baik. Makanlah makanan yang baik dan halal. Nikmati hidup kita dan berusahalah membahagiakan orang-orang di sekitar kita (anak yatim, fakir miskin, dan duafa).

Suatu ketika Rasulullah bertemu dengan anak yatim, beliau lalu mengelus dan merangkulnuya, berbuat baik kepadanya, membawa anak itu ke rumah beliau, lalu berkata kepada anak yatim itu, “wahai anakku, maukah engkau  bila aku menjadi ayahmu dan aisyah menjadi ibumu ?”. ” Kelak disurga nanti aku dan kalian (pengurus yatim) bagaikan jari telunjuk dan jari tengah (seperti itulah beliau memberikan isyarat.” (HR Bukhari)

Memelihara anak yatim adalah bukti cinta kepada Allah dan Rasul-Nya. Untuk kepengurusan anak yatim sebaiknya memisahkan harta dan makanan yang akan diberikan kepada mereka, karena dikawatirkan jika tercampur akan menjadi tidak amanah. Tetapi Allah lebih mengetahui niat kita, jika tidak mau bercampur dalam satu kepengurusan (rekening) kalian bisa memisahkan.

Pengelolaan yatim ini tidak main main ini Perkara dunia dan Akhirat. Dalam urusan dunia dan akhirat, jika kamu bisa mengambil kebaikan dalam urusan dunia dan akhirat. Allah menurunkan ayat Al An’am 152,

” Dan janganlah kamu dekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih bermanfaat, hingga sampai ia dewasa. Dan sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil. Kami tidak memikulkan beban kepada sesorang melainkan sekedar kesanggupannya. Dan apabila kamu berkata, maka hendaklah kamu berlaku adil, kendatipun ia adalah kerabat(mu), dan penuhilah janji Allah. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu ingat.”

Allah juga berfirman dalam surat Anisa

(2) Dan berikanlah kepada anak-anak yatim itu harta-harta mereka. Dan janganlah kalian mengganti yang buruk dengan yang baik, jangan mencampurkan harta mereka ke dalam harta kalian, sesungguhnya (perbuatan itu) merupakan dosa yang besar.

(3) Dan apabila kalian takut tidak bisa berbuat adil kepada anak-anak perempuan yang yatim (untuk kalian jadikan istri), maka nikahilah perempuan-perempuan (lain) yang kalian senangi, dua atau tiga atau empat. Bila kalian takut tidak bisa berbuat adil, maka nikahilah satu perempuan saja atau budak-budak kalian. Yang demikian itu lebih membuat kalian tidak berbuat zhalim.

Pisahkan harta/makanan dan lebihkanlah sedikit makanan itu (intinya dalam memberi jangan sampai kurang). Hal ini membuat berat para sahabat dan akhirnya mengadu kepada Rasulullah dan turunlah surah Al-baqarah 220.

Meluangkan waktu untuk berfikir untuk yatim maka efeknya akan dunia akhirat. Mendiamkan harta anak yatim tanpa mengelola sampai hartanya habis sama saja berlaku zalim. Berlaku zalim kepada yatim balasannya seperti memakan bara api neraka dan hidup kekal didalamnya. Para sahabat takut sehingga memisahkan harta anak yatim dengan harta mereka dan makanan mereka. Rasulullah pun memberikan petunjuk kepada mereka agar mengatur harta anak yatim itu dengan baik.

Harta yatim jangan sampai terbengkalai dan jangan sampai akibat terbengkalai akan membahayakan yatim.

“Dan ujilah anak yatim itu sampai mereka cukup umur untuk kawin. Kemudian jika menurut pendapatmu mereka telah cerdas (pandai memelihara harta), maka serahkanlah kepada mereka harta-hartanya. Dan janganlah kamu makan harta anak yatim lebih dari batas kepatutan dan (janganlah kamu) tergesa-gesa (membelanjakannya) sebelum mereka dewasa. Barang siapa (di antara pemelihara itu) mampu, maka hendaklah ia menahan diri (dari memakan harta anak yatim itu) dan barangsiapa yang miskin, maka bolehlah ia makan harta itu menurut yang patut. Kemudian apabila kamu menyerahkan harta kepada mereka, maka hendaklah kamu adakan saksi-saksi (tentang penyerahan itu) bagi mereka. Dan cukuplah Allah sebagai Pengawas (atas persaksian itu).” (QS Anisa : 6).

Sebarkan Kebaikan!

Tags
Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close