Tadabbur Surat Al-Baqarah : 218 I Kunci Hidup Sukses dan Bahagia

Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Al-Baqarah : 218)

Dari ayat ini ada beberapa rumus untuk bahagia, yaitu;

  1. Menjadikan iman menjadi induk, sedangkan hijrah dan jihad sebagai pelengkap atau cabang utamanya.

Dampak bagi orang yang konsisten terhadap keimanannya adalah akan menjadi orang yang bahagia, jalan hidupnya terhormat, dan mengantarkan kepada kesuksesan. Ada tiga perbuatan tanda orang mulia dan bahagia hidupnya, yaitu iman, hijrah, dan jihad.

  1. Seseorang yang berhijrah

Suasana hijrah adalah suasana baru. Iman akan selalu teruji saat hijrah. Jika tidak berjihad untuk berhijrah maka bisa futur (kembali ke masa zaman sebelum hijrah). Perubahan dalam berhijrah berarti berjihad tanpa henti untuk terus maju menjadi yang terdepan.

  1. Orang yang berjihad

Selain berjihad melakukan hijrah masih banyak jihad lainnya. Jihad sebagai bentuk menjaga agama Allah.

Maka lihatlah sekeliling kita apakah mereka melakukan tiga unsur diatas (iman, hijrah,jihad). Orang-orang tersebut adalah orang yang hidupnya beruntung, bahagia dan terhormat.

Untuk lebih memahami, kita akan coba menjelaskan satu persatu makna di atas. Ada beberapa makna iman, yaitu;

  1. Iman sebagai dasar ditolak dan diterimanya amalan ibadah. Seseorang bisa melakukan kebaikan tetapi kebaikannya tidak ada bernilai ibadah, jika tanpa iman.
  2. Iman juga menentukan calon penghuni surga. Orang yang bisa menembus dan merasakan kenimkatan surga adalah orang yang mempunyai iman di dalam hatinya. Salah satu ciri orang beriman adalah tidak membedakan amalan wajib dan sunnah, semua dikerjakan.

Kemudian selanjutnya adalah hijrah. Hijrah adalah meninggalkan semua yang dicintai, yang disukai dalam hati, untuk mencapai ridha Allah. Meninggalkan harta, keluarga, sahabat, untuk mendekatkan diri kepada Allah. Berhijrah itu berat karena harus berhijrah dari zona nyaman ke zona asing yang tidak nyaman.

  • Hijrah fisik setelah mekah dikuasai, setelah itu hijrah dari maksiat ke taat
  • Berhijrah itu berat tetapi Rasulullah memilih utuk hijrah ke Madinah dan wafat di sana.
  • Berhijrah itu walau merasa asing teruslah berjuang untuk menjadi lebih baik.
  • Berhijrah awalnya tidak merasa nyaman, dulu berhijrah tidak nyaman karena standar ukurannya fisik (karena berperang). Perasaan tidak nyaman itu diawal saja lama kelamaan akan terbiasa.
  • Seseorang yang berhijrah harus paham bahwa sebagai hamba Allah harus patuh kepada perintah-Nya. Rezeki yang diterima dari Allah dan kembalikan lagi untuk jalan-Nya. Kita telah diberikan Al-Qur’an.
  • Jangan jadikan harta dan fisik sebagai ukuran untuk berhijrah. Karena kebahagiaan itu ketika kita sama sama mendekat kepada Allah. Maka sungguh-sungguhlah dijalan hijrah.

Kemudian jihad. Jihad adalah mengeluarkan segenap potensi diri dan untuk konsisten di jalan lurus. Jihad juga harus berjuang melawan tekanan, tuduhan, dan hinaan, kemudian konsisten sampai ke fase kebahagiaan dan kemuliaan.

Orang yang bersungguh-sungguh berharap kepada Allah adalah orang yang konsisten di jalan-Nya. Allah akan catat orang orang yang berhijrah dan berjihad, dan Dia akan memampukan di mana bumi dipijaknya. Rahmat Allah akan selalu tercurah untuk orang yang berhijrah.

Nabi ibarahim pernah berkata, “sesungguhnya aku berpindah ke tempat yang Allah suruhkan kepadaku, harta bukanlah tujuan kami untuk pergi. Berhijrah ke tempat dimana Allah memerintahkan untuk berpindah, karena aku yakin disaat Allah memerintahkan aku berpindah maka akan ada hikmah dalam setiap kejadian.”

Ikuti saja apa yang telah Alah perintahkan. Jangan mengukur Allah dengan akal ketika ingin beriman, berhijrah, dan berjihad, karena keajaiban selalu menjadi rahasia-Nya.

Setelah menjelaskan factor-faktor penyebab kebahagiaan, maka akan dijelaskan juga fakto penyebab untuk menjadi orang besar. Setidaknya ada tiga hal, yaitu dalam kehidupannya membawa misi dari Dzat yang Maha Besar, dalam keseharianya selalu membesarkan Dzat yang Maha Besar, dalam memberi berikanlah yang besar untuk Dzat yang Maha Besar.

Hidup kita akan diukur dari berapa besar kebaikan kita dan seberapa besar yang mengikuti kebaikan itu. Untuk itu seorang mukmin harus yakin bahwa; (1) Mukmin akan memang karena pertolongan Allah, (2) Mukmin yang berada dijalan Allah akan mendapatkan cinta dan rahmat-Nya, (3) Mukmin haru selalu mau  mencari rahmat Allah, bahwa Rahmat-Nya lebih luas dari apa yang manusia bisa bayangkan, (4) Mukmin ketika gagal harus cepat bangkit, carilah rahmat-Nya kembali (beriman berhijrah dan berjihad), (5) Mukmin yang merasa hebat dan memiliki banyak amalan jangan merasa cukup puas dengan amalannhya. Bisa melakukan ibadah itu karena Rahmat Allah. Bisa bersedekah itu juga karena Rahmat Allah, (6) Mukmin dalam proses perjalanannya pernah melakukan kesalahan, tapi Allah Maha mengampuni. Biasanya bkesalahan dalam proses perjalanan tersebut karena mengukur Allah dengan akal. *tadabbur kamis malam, AQL Islamic Center, Tebet Utara, Jakarta. 

Sebarkan Kebaikan!