Tadabbur

Tadabbur Surah Nuh Ayat 1-4 l Hikmah Diutusnya Para Rasul

  • Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya (dengan memerintahkan): “Berilah kaummu peringatan sebelum datang kepadanya azab yang pedih”, 

  • Nuh berkata: “Hai kaumku, sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang menjelaskan kepada kamu,

  • (yaitu) sembahlah olehmu Allah, bertakwalah kepada-Nya dan taatlah kepadaku,

  • Niscaya Allah akan mengampuni sebagian dosa-dosamu dan menangguhkan kamu sampai kepada waktu yang ditentukan. Sesungguhnya ketetapan Allah apabila telah datang tidak dapat ditangguhkan, kalau kamu mengetahui”.

 

Berangkat dari kisah Nabi Nuh as. sebagai rasul pertama di muka bumi. Esensi dari dakwah Nabi Nuh adalah memberi peringatan, mengajak untuk menyembah Allah Swt. dan memohon ampun kepada-Nya. Di lapangan, memberi peringatan atau nahi mungkar lebih berat jika dibandingkan dengan mengajak pada kebaikan. Misalnya, orang akan geram jika diancam azab neraka, dan mudah menerima jika diceritakan kenikmatan surga. Walaupun berat nahi mungkar harus tetap dijalankan apaun resikonya.

Nabi Nuh adalah salah satu rasul yang diberikan ilmu retorika dalam berdakwah, tidak hanya memberi peringatan tapi juga menjelaskan. Nuh diberi kefasihan dalam menjelaskan risalah yang dibawanya. Diberikan kekuatan kata yang tinggi untuk memuaskan kaumnya. Dia diberikan kemampuan logika yang taja, sehingga mampu memuaskan keringnya pikiran kaumnya. Semua skill teknik berdakwah telah diberikan dan mentalnya pun telah dikuatkan.

Nabi Nuh as seperti digambarkan dalam ayat di atas, dia berdakwah siang dan malam. Hal iin menunjukkan optimisme tinggi, di mana ada kesempatan ia sampaikan peringatan kepada kaumnya, dalam semua kondisi yang memungkinkan ia mengajak sebagai bentuk cinta kepada kaumnya.

Tapi yang menarik adalah walaupun Nabi telah dibekali skill dakwah dan telah menggunakan semua cara tapi hanya segelintir yang merespon dengan baik ajakan beliau. Di sini kita mendapatkan pesan moral bahwa tugas para nabi dan rasul serta para ulama hanya memberi peringatan dan mengajak untuk beriman, soal hidayah itu wilayah Tuhan. Para rasul hanya mengajak tapi tidak mampu memberi hidayah. Jika telah mengajak dan yang diajak menerima atau tidak itu urusan Allah Swt.

Bukti bahwa hidayah adalah hak Allah bisa dilihat pada respi istri Nabi Nuh. Sekalipun suaminya adalah pembawa risalah tapi ia buta akan cahaya yang dibawa oleh suaminya. Bahkan Nabi Muhammad SAW tidak mampu memberi hidayah kepada pamannya, padahal dialah yang membela Rasulullah ketika diancam oleh kafir Quraisy. Jadi para nabi dan rasul hanya-lah penyampai risalah bukan pemberi hidayah.

Tujuan dakwah itu, sebagaimana esensi dakwah Nabi Nuh, adalah mengajak untuk menyembah kepada Allah. Setelah itu, mengajak bertakwa dalam bentuk implementasi kehidupan sehari-hari. Untuk mudah mencapai tingkat takwa maka cukup mengikuti jalan yang dilalui oleh para rasul.

Allah mengutus para nabi dan rasul agar kita kembali kepada-Nya. Manusia hanya menyembah kepada Allah, melaksanakan semua perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya. Allah menghendaki alam semesta kiamat pada waktunya. Awan merespon apa yang dikerjakan oleh manusia, dan semua mahluk yang ada di muka bumi ini merespon tingkah laku manusia sebagai khalifah. Sehingga jika Allah tidak mengirim Rasul-Nya maka alam semesta akan kiamat bukan pada waktunya. Jika Allah tidak menekan manusia dengan peringatan dan berita gembira maka dunia ini sudah hancur dengan perang nuklir dan kerusakan lainnya. Ini adalah kacamata logika, tujuannya adalah agar manusia benar dalam menjalani hidup.

Allah adalah sumber risalah. Dia-lah yang telah menciptakan manusia dan membekali fitrahnya dengan potensi untuk mengenal dan menyembah-Nya. Maka, ketika mereka menyimpang dari fitrah itu, Dia pun mengutus rasu-rasul-Nya kepada mereka untuk mengembalikan mereka kepada ajaran-Nya.

Risalah Allah swt. adalah bukti Maha Kasih Sayang-Nya kepada manusia. Dia tak rela manusia masuk dalam penderitaan dan azab akibat dari perbuatannya yang salah dan menyimpang dari nilai-nilai fitrahnya. Nabi dan rasul diutus oleh Allah sebagai pemberi peringatan yang terang-menderang, tanpa ada kesamaran, kebimbangan atau sesuatu yang disembuyikan.

Nabi Nuh, dengan risalahnya, datang memberi manfaat kepada kaumnya. Manfaat sangat nyata, tapi orang yang sakit sulit mengerti manfaat obat, terasa pahit meski sangat manis. Seruan Nabi Nuh as (dan semua nabi yang lain) yakni ibadah kepada Allah, berarti meniadakan sekutu bagi-Nya, lalu bertakwa, berarti membentuk perisai bagi diri kaumnya; serta taat kepada Rasul-Nya, yaitu mematuhi syariat Rasul-Nya. Dengan ketiga hal ini barulah kehidupan benar-benar akan berjalan mengikuti petunjuk Allah Swt. tanpa melenceng sedikit pun.

Beribadah hanya kepada Allah, takut pada-Nya dan mentaati Rasl-Nya adalah fitrah manusia, mestinya tak berat diterima dan nikmat dikerjakan. Allah Maha Pengampun akan memaafkan dosa-dosa yang telah lalu, asalkan mereka mau mengikuti seruan Rasul-Nya. Adapaun bila mereka berpaling, maka tiada seorang pun yang kuasa menghalangi ketetapan Allah Swt. Buah dari mengikuti petunjuk risalah adalah diampuni dosa hingga bisa hidup merdeka, tenang, dan diberikan umur yang diberkahi. *Ditulis dari Majelis Tadabbur Selasa Pagi di Masjid Pondok Indah, Jakarta Selatan, 13 Maret 2018.

*MN

Sebarkan Kebaikan!

Tags
Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close