Tadabbur Surah Nuh 6-9 l Karakter Penolak Kebenaran

Kita tentu sudah tahu, dalam perjalan dakwah tidak ada kata mulus untuk sampai ke finish. Pasti ada tantangannya. Besarnya ujian yang kita hadapai tergantung dari keikhlasan kita mengemban dakwah. Demikianlah yang dialami oleh Nabi Nuh AS, kesabaran dan keikhlasan yang tinggi untuk mengajak kaumnya kembali kepada Allah Swt. Sebagaimana pada pembahasan sebelumnya, jika kaumnya mau bertakwa maka mereka diampuni, tapi jika durhaka maka mereka akan diazab.

 

فَلَمْ يَزِدْهُمْ دُعَائِي إِلَّا فِرَارًا

maka seruanku itu hanyalah menambah mereka lari (dari kebenaran). 

Tafsir Jalalayn

(Maka seruanku itu hanyalah menambah mereka lari) dari iman.

Tadabbur

Ini adalah karakter kaum Nabi Nuh AS. Ketika mereka diajak kepada Allah, tapi mereka berpaling dan lari dari kebenaran itu. Tentu lari di sini mempunyai arti yang banyak, menjauh, tidak mau menerima kebenaran dan lain sebagainya. Bahkan sampai saat ini, sifat kaum Nuh masih ada, misalnya menemukan orang yang diajak untuk menghadiri majelis taklim tapi mereka enggan untuk menghadiri. Memang hidayah itu mahal. Sehingga orang yang mampu menerima ajakan kepada Allah adalah orang pilihan dan telah mempunyai karakter orang shalih.

Ibnu Katsir menyebutkan dalam tafsirnya, (“Tetapi seruanku itu hanya menambah mereka lari.”) yaitu setiap kali aku menyeru mereka agar mendekatkan diri kepada kebenaran, mereka justru melarikan diri darinya dan menjauhinya.

 

وَإِنِّي كُلَّمَا دَعَوْتُهُمْ لِتَغْفِرَ لَهُمْ جَعَلُوا أَصَابِعَهُمْ فِي آذَانِهِمْ وَاسْتَغْشَوْا ثِيَابَهُمْ وَأَصَرُّوا وَاسْتَكْبَرُوا اسْتِكْبَارًا

Dan sesungguhnya setiap kali aku menyeru mereka (kepada iman) agar Engkau mengampuni mereka, mereka memasukkan anak jari mereka ke dalam telinganya dan menutupkan bajunya (kemukanya) dan mereka tetap (mengingkari) dan menyombongkan diri dengan sangat.

Tafsir Jalalayn

(Dan sesungguhnya setiap kali aku menyeru mereka, agar Engkau mengampuni mereka, mereka memasukkan anak jari mereka ke dalam telinganya) supaya mereka tidak dapat mendengar seruanku (dan menutupkan bajunya ke mukanya) supaya mereka tidak melihatku (dan mereka tetap) dalam kekafiran mereka (dan menyombongkan diri) tidak mau beriman (dengan sangat.)

Tadabbur

Disebutkan bahwa kaum Nuh ketika mendengar dakwah, mereka meletakkan jemarinya di telinga mereka, dan menutupi muka dengan pakaian mereka.

Kata (وَأَصَرُّوا) artinya menyombongkan diri, kemudian ditambah setelahnya kata اسْتِكْبَارًا وَاسْتَكْبَرُوا) artinya takabbur setakabbur takabburnya. Yang bisa menghapus dosa itu semua hanya taubat, istigfar, dan ibadah ketaatan lainnya. karena apda hakikatnya, semua amalan baik itu mendatangkan ampunan kepada Allah Swt. Untuk itu, para pendakwah setelah mengetahui kalakuan kaum Nuh, maka harus memasang kesabaran yang lebih tebal lagi.

 

ثُمَّ إِنِّي دَعَوْتُهُمْ جِهَارًا

Kemudian sesungguhnya aku telah menyeru mereka (kepada iman) dengan cara terang-terangan,

Tafsir Jalalayn

(Kemudian sesungguhnya aku telah menyeru mereka dengan terang-terangan) dengan sekuat suaraku.

Tadabbur

Dakwah nabi nuh itu sudah sangat ntearang terangan. Ini juga salah satu stategoi dakwah,m di aman akondisim mansuia yang jauh kepada Allah, terkadang peringatan yang lantang juga harus dilakukan untuk memperingatkan mer,eka.

 

ثُمَّ إِنِّي أَعْلَنْتُ لَهُمْ وَأَسْرَرْتُ لَهُمْ إِسْرَارًا

kemudian sesungguhnya aku (menyeru) mereka (lagi) dengan terang-terangan dan dengan diam-diam,

Tafsir Jalalayn

(Kemudian sesungguhnya aku telah mengeraskan kepada mereka) suaraku (dan pula telah membisikkan) suaraku atau seruanku (kepada mereka dengan sangat rahasia.)

Tadabbur

Dalam berdakwah memang betuh strategi agar penyampaiannya bisa diterima dengan baik. Begitu juga dengan Nai Nuh AS, di lain waktu dia berdakwah dengan terang-terangan dan suara yang lantang, tapi di lain waktu dia berdakwah dengan rahasia. Tapi nyawa dakwah adalah ikhlas, gigih, sabar, dan tawakkal, juga menggunakan narasi dan intonasi yang kuat dan tepat.

Misalnya, dalam mendakwahi anak agar taat kepada Allah Swt. carilah waktu yang tepat dan suasana yang tepat. dakwahilah dia dengan penuh kasih sayang, dengan kata-kata yang lembut, dan jangan sampai dia merasa tersakiti hatinya yang malah membuat dia jengkel dan semakin jauh dari Allah Swt. Intinya, kesabaran, keikhlasan, kegigihan, dan tawakkal.

*Gubahan M

 

Sebarkan Kebaikan!