Tadabbur

Tadabbur Surah Nuh 1-5 l Pengutusan Nabi Nuh Kepada Kaumnya

Selama 950 tahun Nabi Nuh AS berdakwah kepada kaumnya, tapi bagaimana hasilnya? Kaum Nuh adalah bapak kemusyrikan. Mereka menjadikan berhala-berhala sebagai Tuhan tempat meminta kebaikan dan tempat menolak bala. Berhala menjadi tempat bergantung segala sesuatu dalam kehidupan mereka. Mereka meminta dan memanggil berhala-berhala itu dengan beragam nama. Kadang dengan nama Wadda, Suwaa’, dan Yaghuts. Kadang dengan nama Ya’uq, atau Nasr.

KH Bachtiar Nasir yang rutin mengisi kajian Tadabbur di Masjid Raya Pondok Indah, Jakarta Selatan, setiap hari selasa, kali ini sampai pada pembahasan surat Nuh. Sebagaimana sebelum-sebelumnya, pertemuan pertama tiap kali pindah surat beliau hanya mentadabburi secara global. Hal itu dimaksudkan agar jamaah pada pertemuan berikutnya akan lebih faham dan mudah megerti jika ditadabburi secara rinci.

 

MENGENAL NABI NUH AS

إِنَّا أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَىٰ قَوْمِهِ أَنْ أَنْذِرْ قَوْمَكَ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya (dengan memerintahkan): “Berilah kaummu peringatan sebelum datang kepadanya azab yang pedih”,

Tafsir Jalalayn

(Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, dengan memerintahkan, berilah peringatan) dengan memperingatkan (kepada kaummu sebelum datang kepada mereka) jika mereka tetap tidak mau beriman (azab yang pedih) siksaan yang menyakitkan di dunia dan akhirat.

Tadabbur

Nabi Nuh AS adalah Rasul pertama di muka yang diutus oleh Allah Swt. Kaum Nuh adalah kaum yang pertama kali melakukan kesyirikan di muka bumi. Melalui ayat ini, kita mendapatkan informasi bahwa Allah Swt. mengabarkan kepada kita bahwa Nabi Nuh diutus kepada kaumnya untuk memberi peringatan akan siksa-Nya. Peringatan itu dimaksudkan agar mereka kembali ke jalan yang benar sebelum azab itu ditimpakan kepada mereka. Jika mereka bertaubat dan beristigfar maka siksaan itu batal ditimpakan kepada mereka.

Sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya, berhala yang mereka sembah adalah kadang dengan nama Wadda, Suwaa’, dan Yaghuts. Kadang dengan nama Ya’uq, atau Nasr. Awalnya mereka adalah orang shalih. Tetapi setan berhasil mempengaruhi mereka secara halus untuk mengkultuskan orang shalih itu. Awalnya hanya berbentuk gambar, kemudian datang generasi selanjutnya dibuatlah patung, dan datang generasi selanjutnya akhirnya patung itu disembah dan muncullah kesyrikan pertama kali di muka bumi.

قَالَ يَا قَوْمِ إِنِّي لَكُمْ نَذِيرٌ مُبِينٌ

Nuh berkata: “Hai kaumku, sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang menjelaskan kepada kamu,

Tafsir Jalalayn

(Nuh berkata, “Hai kaumku! Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang menjelaskan kepada kalian.”) Jelas peringatannya.

Tadabbur

Dalam ayat ini sangat jelas perintah Allah kepada Nabi Nuh, yakni diperintahkan untuk berdakwah dengan menjelaskan peringatan itu secara jelas dan gamblang. Ini juga menjadi salah satu metode dakwah jika ingin terjung ke lapangan, tentu dengan semua resiko yang harus dihadapi. Seorang da’i harus tegas dan jelas ketika memberikan peringatan.

 

أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاتَّقُوهُ وَأَطِيعُونِ

(yaitu) sembahlah olehmu Allah, bertakwalah kepada-Nya dan taatlah kepadaku,

Tafsir Jalalayn

(Yaitu hendaknya) artinya aku perintahkan kepada kalian hendaknya (kalian menyembah Allah, bertakwalah kalian kepada-Nya dan taat kepadaku.)

Tadabbur

Ayat ini sangat jelas memerintahkan agar Nabi Nuh mengajak kaumnya agar hanya menyembah kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya. Respon dari ajakan itu adalah dengan meninggalkan semua yang diharamkan oleh Allah dan meninggalkan maksiat.

Selanjutnya Allah memerintahkan untuk taat kepada-Nya, yaitu taat kepada apa saja yang Dia perintahkan dan menjauhi apa yang Dia larang.

يَغْفِرْ لَكُمْ مِنْ ذُنُوبِكُمْ وَيُؤَخِّرْكُمْ إِلَىٰ أَجَلٍ مُسَمًّى ۚ إِنَّ أَجَلَ اللَّهِ إِذَا جَاءَ لَا يُؤَخَّرُ ۖ لَوْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

Niscaya Allah akan mengampuni sebagian dosa-dosamu dan menangguhkan kamu sampai kepada waktu yang ditentukan. Sesungguhnya ketetapan Allah apabila telah datang tidak dapat ditangguhkan, kalau kamu mengetahui”.

Tafsir Jalalayn

(Niscaya Allah akan mengampuni sebagian dosa-dosa kalian) huruf min di sini dapat dianggap sebagai huruf zaidah, karena sesungguhnya Islam itu mengampuni semua dosa yang terjadi sebelumnya; yakni semua dosa kalian. Sebagaimana dapat pula dianggap sebagai min yang mengandung makna sebagian, hal ini karena mengecualikan hak-hak yang bersangkutan dengan orang lain (dan menangguhkan kalian) tanpa diazab (sampai kepada waktu yang ditentukan) yaitu ajal kematiannya. (Sesungguhnya ketetapan Allah) yang memutuskan untuk mengazab kalian, jika kalian tidak beriman kepada-Nya (apabila telah datang tidak dapat ditangguhkan, kalau kalian mengetahui) seandainya kalian mengetahui hal tersebut, niscaya kalian beriman kepada-Nya.

Tadabbur

Orang yang bertakwa kepada Allah pasti akan diamouni dosa-dosanya. Tapi ada yang menarik di sini, karena Allah menggunakan kata (مِنْ) sebagian, artinya sebagian dari dosa-dosa kalian. Dalam kitab tafsir disebutkan bahwa, Kata min di sini, ada yang mengatakan sebagai tambahan. Tetapi pendapat yang mengatakan sebagai tambahan tersebut dalam itsbat [penetapan] hanya sedikit sekali. Darinya muncul ungkapan bahasa Arab: “Qad kaana min matharin.”

Ada juga yang berpendapat kata min itu berarti ‘ain, dengan pengertian: Dia akan memberikan ampunan atas dosa-dosa kalian. Dan pendapat tersebut menjadi pilihan Ibnu Jarir.

Dan ada yang berpendapat kata tersebut dimaksudkan untuk menyatakan sebagian [tab’idh]. Artinya mengampuni dosa-dosa besar kalian yang Dia menjanjikan siksaan kepada kalian jika kalian melakukannya.

Ketakwaan adalah sebab diampuninya dosa. Sebaliknya, tanpa ketakwaan di dalam jiwa, Allah akan mengazabnya. Maka berbahagialah orang yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya.

 

قَالَ رَبِّ إِنِّي دَعَوْتُ قَوْمِي لَيْلًا وَنَهَارًا

Nuh berkata: “Ya Tuhanku sesungguhnya aku telah menyeru kaumku malam dan siang,

Tafsir Jalalayn

(Nuh berkata, “Ya Rabbku! Sesungguhnya aku telah menyeru kaumku malam dan siang) terus-menerus tanpa mengenal waktu.

Tadabbur

Dalam tafsir Ibnu Katsir disebutkan, “Yakni aku tiada hentinya menyeru mereka siang dan malam karena menjalankan perintah-Mu dan mencari pahala ketaatan kepada-Mu.” Pekerjaan dakwah Nabi Nuh AS adalah siang dan malam. Hal ini meunjukkan dakwah Nuh tanpa mengenal waktu, di mana saja, kapan saja, dan semua situasi dan kondisi dimanfaatkan. Jalan Nabi dan Rasul itu sangat berat, dan inilah jalan yang paling banyak ditinggalkan oleh manusia. Bahkan saat ini banyak orangtua yang mendidik anaknya hanya dunia-oriented. Padahal berdakwah itu tidak harus berceramah, yang penting mengajak manusia kepada Allah dengan profesi kita, apa pun itu. *Majelis Tadabbur Masjid Raya Pondok Indah, Jakarta Selatan, Selasa (13/2/18).

*Gubahan M

 

Sebarkan Kebaikan!

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close