TADABBUR SURAH AR-RAHMAN (1)

Pada kesempatan ini, kita akan mengkaji dan mengambil hikmah serta menguak pelajaran dari pada Surah Ar-Rahman. Surah Ar-Rahman ini adalah Surah yang ke 55 dalam urutan mushaf Al-Qur’an, ayatnya berjumlah 78 ayat. Dinamakan dengan Surah Ar-Rahman karena Surah ini didahului, diawali atau dibuka dengan kalimat ayat pertama yaitu ar-Rohman yaitu Allah Yang Maha Pengasih.

            Keistimewaan Surah Ar-Rahman ini, yang paling menonjol kalau kita perhatikan, Surah ini terdiri dari 78 ayat, tetapi banyak sekali mengulangi satu kalimat yang terulang-ulang sampai 31 kali loh. Apa kalimatnya? Yaitu fabiayyi ala’i robbikuma tukadzdziban dengan nikmat Tuhan yang manakah, kamu semua itu mendustainya.

            Nah, kita akan mengkaji kandungan isi dari pada Surah Ar-Rahman ini secara global. Ini bukan pengajian Tafsir, tetapi ini adalah renungan-renungan dari saya pribadi, juga berdasarkan rekomendasi apa yang kita baca dari kitab-kitab Tafsir, dari perkataan para ulama, dan juga dari hikmah-hikmah yang tersebar  di dalam Surah Ar-Rahman ini.

Ini kenapa? Karena didorong rasa penasaran ingin tahu kenapa sih? Kenapa fabiayyi ala’i robbikuma tukazdzdziban diulang-ulang sebanyak 31 kali di dalam Surah yang jumlah ayatnya 78 ayat. Artinya ayat fabiayyi ala’i robbikuma tukadzdziban itu hampir separuh dari isi Surah ini, luar biasa. Kenapa bisa begitu? Nanti kita lihat ini ada ulama yang merenungi, menelaah kenapa fabiayyi ala’i robbikuma tukadzdziban ini terulang sebanyak 31 kali?

Ini para ulama ahli Tafsir, ahli Tadabbur menyatakan bahwa, dari 31 kata-kata fabiayyi ala’i robbikuma tukadzdziban ini, itu bisa dibagi menjadi 4 bagian. Bagian yang pertama, ada 8 kali terulang. Kemudian bagian kedua juga ada 8 fabiayyi ala’i robbikuma tukadzdziban yang terulang. Yang ketiga ada 7 yang terulang. Dan yang terakhir bagian keempat ada 8 fabiayyi ala’i robbikuma tukadzdziban ini yang terulang.

            Ini menarik sekali, kenapa? Karena pertama, Surah ini istimewa dimulai dengan kata-kata Ar-Rohman. Artinya ini Surah yang khusus, istimewa, yang gambarannya adalah tentang kasih sayang Allah subhanahu wata’ala. Tentang rahmat Allah yang begitu luar biasa kepada kita sebagai hamba Allah subhanahu wata’ala. Sudahlah dibuka dengan bismillahi ar rohman ar rohim dengan nama Allah yang maha pengasih dan penyayang. Diawali Surah ini dengan ar rohman ‘allamal qur’an kholaqal-insan ‘allamahul bayan dan seterusnya.

Yang isinya yaitu  pertama adalah

ٱلرَّحۡمَٰنُ ١  عَلَّمَ ٱلۡقُرۡءَانَ ٢  خَلَقَ ٱلۡإِنسَٰنَ ٣  عَلَّمَهُ ٱلۡبَيَانَ ٤ سورة الـرحـمـن,١-٤

Allah yang maha pengasih yang telah mengajarkan Al-Qur’an. Dia juga yang menciptakan manusia dan mengajarinya pandai berbicara.

            Nah, kita lihat, Surah Ar-Rahman ini, kenapa setelah Allah subhanahu wata’ala memulai Surah ini dengan kata ar rohman hanya satu kata. Ini juga sangat luar biasa istimewa. Biasanya kalau kita baca Surah-surah yang lain, selain huruf-huruf hijaiyyah muqoto’ah seperti yasin, alif lam mim itu ayat-ayat pertama di dalam Surah itu biasanya, gabungan kalimat membentuk satu ayat misalnya, Al-Fatihah saja alhamdu lillahi robbil ‘alamin itu ada 3 kata. Kemudian alhamdu lillahilladzi anzala ‘ala ‘abdihil kitab walam yaj’allahu ‘iwaja itu ada berapa kata dalam satu ayat? Nah tapi kalau Surah Ar-Rahman, ini luar biasa, itu ayat pertamanya hanya 1 kata dan ini bukan huruf konsonan mati seperti halnya yasin, alif lam mim, alif lam ro dan seterusnya. Ini satu kata yang menggambarkan sifat Allah subhanahu wata’ala yang maha rahmah, yang maha pengasih. Artinhya apa? Allah ingin mengingatkan kepada kita semua tentang kerahiman Allah subhanahu wata’ala bahwa Allah itu maha penyayang, maha pengasih kepada hamba-hambanya, kepada kita sebagai umat-umat manusia ini. Nah, kemudian dirincinya, dalam bentuk apa kasih saying Allah kepada kita manusia ini? Ini dirinci, dijelaskan secara gamblang, aitem-aitemnya, poin perpoin, bagaimana sih bentuk kasih sayang Allah subhanahu wata’ala?

Yang pertama,

  عَلَّمَ ٱلۡقُرۡءَانَ ٢

Luar biasa, rahmat Allah yang pertama, kasih sayang Allah yang pertama, yang sangat begitu besar yang kita rasakan ini adalah Allah mengajarkan Al-Qur’an.. Allahu Akbar, subhanallah, walhamdulillah, wala ilaha illallah wallahu akbar. Qur’an yang diajarkan langsung oleh Allah subhanahu wata’ala kepada Rasulullah Muhammad solallahu ‘alayhi wasalam yang kemudian Rasulullah ajarkan kepada para sahabatnya, umatnya yang mengikuti beliau di masa generasi beliau masih hidup kemudian seterusnya sampai pada kita diajarkan oleh para ulama kepada kita yang masih hidup di saat ini.

Pengajaran Al-Qur’an inilah yang menjadi nikmat, karunia dan rahmat Allah yang pertama kali disebutkan di dalam Surah ini, subhanallah. ‘Allamal Qur’an dialah yang mengajarkan Al-Qur’an luar biasa. Artinya, Qur’an ini kitab yang Allah turunkan sebagai kitab pamungkas, sebagai risalah terahir, sebagai pedoman kehidupan bagi umat manusia ini yang langsung Allah ta’ala ajarkan. Tidak ada keraguan di dalamnya. Oleh sebab itu Allah berfirman,

ذَٰلِكَ ٱلۡكِتَٰبُ لَا رَيۡبَۛ فِيهِۛ هُدٗى لِّلۡمُتَّقِينَ ٢ سورة البقرة

Itulah kitab Al-Qur’an, yang tidak ada keraguan di dalamnya, menjadi petunjuk bagi orang yang bertaqwa kepada Allah subhanahu wata’ala luar biasa. Jadi, ‘Allamal Qur’an inilah nikmat yang pertama, Allah mengajarkan Al-Qur’an sebagai bukti cinta-Nya, bukti kasih saying-Nya kepada kita hamba-Nya.

            Oleh sebab itu, kalau kita belajar Al-Qur’an, kita membaca Al-Qur’an, begitu nikmat. Kenapa nikmat membaca Al-Qur’an?

Karena kita sedang membaca untaian-untaian rahmat dari Allah subh`a@nahu wata’a@la@. Kita membaca dan meresapi untaian-untaian rahmat dari Allah subhanahu wata’ala. Wujud kasih sayang Allah kepada kita umat manusia ini diwujudkan dengan Allah kirimkan Al-Qur’an, Allah kirimkan surat cintanya, surat sayangnya kepada kita sebagai manusia untuk menunjuki kita, untuk memberikan hidayah kepada kita melalui Al-Qur’an ini. Allah berikan seperangkat aturan, seperangkat system dalam beraqidah, beribadah, bermuamalah, dalam rangka menyelesaikan atau menjadi solusi bagi problem-problem yang dihadapi kita sebagai hamba Allah subhanahu wata’ala. Luar biasa sayangnya Allah subhanahu wata’ala.

Kita masih ingat bagaimana Nabi Ibrahim mengatakan alladzi kholaqani fahuwa yahdin nah petunjuk itulah Al-Qur’an, petunjuk itulah kalamullah, petunjuk itulah agama Allah subhanahu wata’ala. Maka kalau kita baca Qur’an, kita belajar Qur’an, kita merasakan kenikmatan membawa hawa yang positif, bukan hanya positif buat kita, tapi juga untuk orang di sekitar kita. Maka itu, Allah ta’ala berfirman, waidza quri’al qur’an fastami’ulahu wa ansitu la’allakum turhamun. Kalau Qur’an sedang dibaca, maka diam dan dengarkanlah agar kalian semua, mendapatkan rahmat dari pada Allah subhanahu wata’ala.

Nah, oleh sebab itu, kalau kita ingin mendapatkan rahmat, maka kita harus mengkaji Al-Qur’an, harus membaca Al-Qur’an, kenapa? Karena pada saat kita membaca Qur’an, seolah-olah kita sedang membaca surat cinta Allah kepada kita manusia yang lemah ini.

            Ketika kita membaca Qur’an, untaian-untaian hikmah, untaian-untaian rahmat Allah begitu hebatnya, ada dalam setiap guratan-guratan ayat dan firman yang ada dalam Al-Qur’an. Bukan hanya rahmat yang kita baca, tetapi juga, ketika kita baca itu situasi hawa yang ada disekitar kita juga membawa rahmat dari Allah subhanahu wata’ala.

وَنُنَزِّلُ مِنَ ٱلۡقُرۡءَانِ مَا هُوَ شِفَآءٞ وَرَحۡمَةٞ لِّلۡمُؤۡمِنِينَ وَلَا يَزِيدُ ٱلظَّٰلِمِينَ إِلَّا خَسَارٗا ٨٢ سورة الإسراء,٨٢

            Allah turunkan Al-Qur’an ini untuk menjadi apa? Salah satunya menjadi obat penenang hati, penenang jiwa, menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman kepada Allah subhanahu wata’ala.

Maka wajarlah kalau Allah subhanahu wata’ala menyatakan, Nabi yang membawa Al-Qur’an ini, yang diwahyukan kepada beliau Al-Qur’an ini adalah Nabi yang menjadi rahmat bagi seluruh alam semesta, wama arsalnaka illa rohmatan lil ‘alamin. Masya Allah, tidaklah kami utus engkau wahai Muhammad kecuali sebagai rahmat, sebagai kasih sayang, membawa misi rahmat dari Allah untuk seluruh alam semesta. Kenapa? Karena Rasulullah solallahu ‘alayhi wasalam membawa ajaran Al-Qur’an, membawa kalamullah, membawa firman Allah yang isinya adalah juga rahmat bagi seluruh alam semesta.

            Berikutnya nikmat bentuk kasih sayang Allah kepada kita, Allah sebutkan di dalam ayat yangketiga,

خَلَقَ ٱلۡإِنسَٰنَ ٣

Dia yang menciptakan manusia, luar biasa. Allah mengingatkan kepada kita bagaimana, nikmatnya yang begitu luar biasa yang kedua adalah nikmat penciptaan manusia ini yang Allah ciptakan itu adalah nikmat yang wajib dan harus kita syukuri dengan sebaik-baiknya.

            Penciptaan manusia ini sungguh ajaib, menandakan kasih sayang dan rahmat dari pada Allah subhanahu wata’ala. Karena manusia adalah diciptakan oleh Allah, sebagai Khalifah di muka bumi ini. Yang bertugas untuk memakmurkan dunia ini. Kita ingat, bagaimana Allah subhanahu wata’ala menyatakan, waidz qola rabbuka lil-mala’ikati qola inni ja’ilun fil ardhi kholifah. Ingatlah ketika Allah mengatakan kepada para malaikatnya, inni ja’ilun fil ardhi kholifah. Sesungguhnya aku hendak menjadikan di dunia ini seorang Khalifah yakni  manusia, yaitu Adam yang pertama kali diciptakan oleh Allah subhanahu wata’ala untuk memakmurkan dan mengelola dunia ini dengan sebaik-baiknya berdasarkan arahan dari Allah subhanahu wata’ala.

          Nah, kita mesti ingat tugas kita sebagai manusia yakni menjadi Khalifah untuk memakmurkan bumi, untuk memperbaiki bumi, untuk bisa memberikan kemaslahatan bagi dunia ini. Jangan kita jadi manusia ini justru menjadi apa? Yang dikhawatirkan oleh  malaikat ataj’alu fiiha man yufsidu fiha@ wa yuhlikal hartsa wan nasl kita malah membuat kerusakan dimuka bumi ini. Kita berbuat zalim, kita berbuat curang, maksiat itu salah satu bentuk-bentuk penodaan dan perusakan yang dilakukan manusia terhadap dunia  ini.

Dengan apa? Dengan bermaksiat kepada Allah itu adalah merusak dunia. Dengan menyekutukan Allah itu artinya kita merusak bumi ini. Dengan kita sombong, kita zalim kepada makhluk, terhadap sesama, terhadap hewan, tumbuh-tumbuhan, alam semesta, itu artinya kita juga berbuat kerusakan di muka bumi ini yang dilarang oleh Allah subhanahu wata’ala karena Allah menyatakan, wala tufsidu fil ardi  ba’da islahiha janganlah kalian berbuat kerusakan di muka bumi ini, setelah Allah perbaiki, perindah, setelah Allah tegakkan sistemnya dengan adil, dengan seimbang, luar biasa di muka bumi ini. Kita justru datang, bukannya sebagai khalifah, bukannya menjadi penegak kemaslahatan, bukannya kita menjadi rahmat bagi alam semesta, tapi justru kita semena-mena memperlakukan alam semesta ini, berbuat zalim pada diri kita dan bermaksiat kepada Allah, itu yang menyebabkan Allah kemudian marah dan murka kepada kita manusia yang tidak tahu diri ini.

Bersambung…

Sebarkan Kebaikan!