Tadabbur

Tadabbur Surah Ali Imran Ayat 47 l Ciri-Ciri Wanita Bertakwa

MALAIKAT menginformasikan bahwa Maryam akan memiliki anak yang bernama Isa yang diberi kelebihan khusus oleh Allah. Nabi Isa adalah manusia yang terhormat di dunia, mempunyai derajat mulia di sisi Allah dan dimuliakan. Selain itu, dia juga diberikan kemampuan untuk berbiacara ketika masih dalam buaian, dan cara biacaranya sefasih orang dewasa. Dia juga termasuk hamba yang shalih dan salah satu rasul utusan Allah Swt.

 

قَالَتْ رَبِّ أَنَّىٰ يَكُونُ لِي وَلَدٌ وَلَمْ يَمْسَسْنِي بَشَرٌ ۖ قَالَ كَذَٰلِكِ اللَّهُ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ ۚ إِذَا قَضَىٰ أَمْرًا فَإِنَّمَا يَقُولُ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ

 

Maryam berkata: “Ya Tuhanku, betapa mungkin aku mempunyai anak, padahal aku belum pernah disentuh oleh seorang laki-lakipun”. Allah berfirman (dengan perantaraan Jibril): “Demikianlah Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. Apabila Allah berkehendak menetapkan sesuatu, maka Allah hanya cukup berkata kepadanya: “Jadilah”, lalu jadilah dia. (QS. Ali Imran: 47)

Pada suatu hari ketika Maryam sedang mengambil air, tiba-tiba saja ada seorang pemuda rupawan mendekatinya. Maryam belum pernah melihat pemuda itu sebelumnya. Pemuda itu sangat tampan dengan raut wajah bercahaya serta berambut ikal.

“Aku diperintah Allah SWT untuk menyampaikan pesan kepadamu,” ujar pemuda berbadan tegap itu.

Tentu saja Maryam sangat ketakutan dengan kehadiran pemuda asing tersebut. Sebagai seorang gadis, ia takut sekali jika si pemuda itu hendak berbuat yang tidak baik kepadanya.

Dengan hati berdebar-debar, Maryam memberanikan dirinya untuk bertanya.

“Siapakah engakau sebenarnya?” tanya Maryam sambil berusaha menyembunyikan ketakutannya.

“Aku adalah Malaikat Jibril, Allah SWT mengutusku untuk menyampaikan pesan kepadamu,” jawab pemuda jelmaan Malaikat Jibril itu.

“Sesungguhnya aku berlindung dari padamu kepada Tuhan Yang Maha Pemurah. Jika engkau seorang yang bertakwa,” terang Maryam mencoba memberanikan diri.

“Pesan apakah itu wahai Malaikat Jibril?” tanya Maryam.

“Allah SWT memerintahkan kepadaku untuk menyampaikan pesan bahwa engkau tidak akan lama lagi akan mengandung. Selanjutnya engkau akan melahirkan anak laki-laki yang baik hatinya, saleh di dunia dan di akhirat,” jelas Malaikat Jibril dengan santun.

Maryam Terperanjat. Terang saja Maryam terperanjat kaget, bagaimana mungkin dirinya yang masih perawan ting ting ini juga belum bersuami bisa mengandung dan kemudian melahirkan seorang anak.

“Jangan ragu wahai hamba Allah, yakinlah bahwa kejadian itu merupakan sesuatu yang sangat mudah bagi Allah SWT,” jelas Malaikat Jibril yang mencoba menenangkan Maryam.

Malaikat Jibril kemudian meniup tubuh Maryam sebelum kemudian berlalu. Tak berapa lama kemudian, Maryam pun mengandung. Ketika akan melahirkan tiba, Maryam menuju tempat asalnya yang bernama An Nashirah atau yang sering disebut Nazaret.

Di bawah pohon kurma yang rindang di Bethlehem itulah Maryam melahirkan seorang bayi yang kelak akan menjadi Utusan Allah SWT. Dialah Nabi Isa as. Maryam sangat bersedih dengan kejadian yang dialaminya. Malaikat Jibril pun menyuruhnya agar Maryam tidak bersedih hati. Makanan dan minuman untuk Maryam dan puteranya telah disediakan oleh Allah SWT, yakni buah kurma masak dan juga air bersih dari anak sungai yang megalir di dekat Maryam.

Janganlah takut, Allah SWT akan menjagamu,” kata Malaikat Jibril.

Maryam kenudian menggendong bayinya dan membawanya kembali ke kaumnya. Mengetahui Maryam memiliki seorang anak, maka gemparlah kaumnya mengetahui peristiwa yang terjadi pada diri Maryam.

Ciri-ciri wanita yang bertakwa bisa kita simpulkan dari kisah pertemuan Maryan dengan malaikat di atas. Kemarahan wanita salehah berbeda dengan wanita biasa. ketika bertemu dengan jibril yang menjelma seorang laki-laki tampan, dia tidak ingin kehilangan kasih sayang Allah dan juga tidak mau menyakiti perasaan orang yang ada dihadapannya. Wanita salehah ketika digoda dia akan goyah dengan rayuan gombal. Hal itu bisa dicerna dari doanya ketika bertemu;

 

قَالَتْ إِنِّي أَعُوذُ بِالرَّحْمَٰنِ مِنْكَ إِنْ كُنْتَ تَقِيًّا

Maryam berkata: “Sesungguhnya aku berlindung dari padamu kepada Tuhan Yang Maha pemurah, jika kamu seorang yang bertakwa”. (QS. Maryam: 18).

Wanita bertakwa itu akan menggunakan keinginannya untuk mendapatkan manfaat, dan menggunakan emosinya untuk sesuatu yang membahayakan dirinya, atau menjauhi bahaya. Maryam marah, tapi karena takwa sehingga dia mapu mengontrol emosi dan tidak menyakiti hati ‘orang’ yang dimarahinya. “Jika kamu orang bertakwa maka jauhi saya” kira-kira demikian tafsiran ucapan Maryam ketika marah kepada laki-laki tampan di hadapannya (Jibril).

Ketakwaan atau kesalehan seorang wanita juga akan teruji ketika sendiri dan didatangi laki-laki tampan. Ini adalah kondisi yang sangat berat untuk dilalui bagi seorang perempuan, maka yang mampu menghindar maka bisa dipastika dia adalah wanita bertakwa. Takut meski dalam kesendirian dan tidak ada seorang pun yang bisa menghalanginya jika terbetik niat negatif.

Pelajaran lain yang bisa diambil dari kisah Maryam adalah mihrab. Ada dua bentuk mihrab dalam ayat ini. Pertama, mihrab yang melindinginya dari aktivitas dunia luar dan hanya berdua-duaan dengan Allah. Artinya, wanita bertakwa itu tidak akan keluar rumah kecuali untuk seseuatu yang sangat mendesak dan memang diharuskan keluar, hal itu demi menjaga kesucian dirinya. Kedua, mihran dalam artian pakaian. Maryam sangat menjaga kesucian dirinya dengan berpakaian yang sopan dan menutup aurat. Dia tidak membungkus tubuh, tapi menutupi sehingga tidak ada sedikitpun yang tampak.

Ketika Maryam berkata: “Ya Tuhanku, betapa mungkin aku mempunyai anak, padahal aku belum pernah disentuh oleh seorang laki-lakipun”. Takutnya wanita salehah kehilangan kasih sayang Allah adalah alamat dia dimuliakan di sisi-Nya. Tidak hanya mulia di akhirat, tapi jika sang Maha Cinta akan mengumumkan kepada semua mahluk-Nya bahwa dia mencintai wanita itu, maka cintalah dia.

Pelajaran selanjutnya adalah masyiatullah. Allah menghendaki yang tebaik dan itulah yang akan terjadi. Jibril berkata, jika Dia menghendaki sesuatu maka pasti akan terjadi. Sebagaimana disebutkan dalam surat Ali Imran ayat 47. Dia hanya menyebut kun maka terjadilah.

Orang beriman itu tidak bergantung sepenuhnya pada hukum sebab akibat, tapi hanya bergantung kepada Allah Swt. Jika hanya bergantung pada hukum sebab-akibat, maka kita akan memebenarkan kenyataan bukan menyatakan kebenaran. Selalu membenarkan kenyataan mengikuti keinginan maka akhirnya terperosok ke dalam impulsif. Implusif adalah dorongan untuk mencapai keinginan dan hanya mengikuti keinginan yang ada dalam dirinya. Tentu sifat ini sangat bertentangan dengan wanita bertakwa.

Oleh karena itu, jika ingin menjadi wanita yang mendapat derajat mulia di sisi Allah maka belajarlah dari kisah wanita paling mulia, Maryam salah satunya karena dalam riwayat juga disebutkan ada Aisiah, Khadija, dan Aisyah. Kisah yang ada adalam Al-Qur’an bukan hanya untuk dibaca tapi diselami maknanya dan diamalkan dalam keseharian kita. *Ditulis dari Majelis Tadabbur Kamis Pagi oleh KH Bachtiar Nasir, AQL Islamic Center, Kamis (15/3/2018).

*MN

Sebarkan Kebaikan!

Tags
Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close