Tadabbur Kamis Pagi l Carilah Kebenaran Bukan Pembenaran

HIDUP tak selamanya sesuai logika manusia, bahkan dalam banyak kejadian logika manusia runtuh di hadapan keajaiban Allah Swt.. Sebagaimana kisah Nabi Muhammad SAW. yang bisa membelah bulan. Itu hanya salah satu bukti keajaiban yang meruntuhkan logika manusia. Akan tetapi, inti dari semua itu adalah bukti kemaha kuasaan Allah Swt. bahwa untuk beriman kepada-Nya jangan terlalu menggunakan hukum sebab akibat. Artinya, Jadilah orang yang selalu mengatakan yang benar, jangan selalu membenarkan kenyataan.

Iradah (Kehendak) Allah Swt. tidak selamanya bisa diukur dengan hukum sebab akibat. Kemampuan akal sangat terbatas. Misalnya dalam kasus Nabi Zakaria. Tiga tembok kemustahilan yang terdapat dalam kasus itu; umur zakaria telah rentah dan fisik yang sudah lemah serta istrinya mandul. Secara akal manusia Zakaria tidak mungkin lagi memiliki anak. Namun yang terjadi tetaplah kuasa Allah. Zakaria diberitahu oleh malaikat pasca ia berdoa kepada-Nya bahwa ia akan memperoleh anak yang namanya lansung dari Allah Swt. yaitu Yahya.

Logika manusia semakin tersesat ketika dihadapkan dengan kasus Maryam. Wanita suci tak pernah tersentuh oleh lelaki mana pun, tapi dengan keajaiban-Nya ia hamil dan dikarunia Isa Al Masih. Tentu hanya keimanan tingkat tinggi yang mampu memahami makna di balik keajaiban Zakaria dan Maryam. Jika manusia menerima ketetapan Allah dengan keimanan maka dia akan diperlihatkan keajaiban-keajaiban yang tidak bisa difahami oleh manusia yang menuhankan akalnya.

Untuk lebih memahami hal ini, Suatu ketika Umar bin Khattab berkeliling meninjau wilayah perkampungannya. Di tengah perjalanan, Umar melihat seorang budak kecil yang sedang menggembala puluhan kambing.

Dalam benaknya, Umar ingin menguji kepintaran budak kecil si penggembala kambing tersebut. Umar lalu mendekati budak itu dan mengutarakan niatnya untuk membeli sebuah kambing yang digembala si bocah.

“Nak, kambingmu saya beli satu boleh?” tanya Umar mengawali perbincangannya.

“Saya ini budak, saya tidak memiliki kewenangan untuk menjual kambing ini. Semua kambing milik majikan saya tuan,”jawab si penggembala dengan kejujurannya.

“Meski milik majikanmu, kalau saya beli satu nanti kamu laporan kepada majikan bahwa kambing yang kamu gembala dimakan macan satu ekor,” timpal Umar menguji dengan pura-pura mengajari sikap berbohong.

Dalam pikiran umar, si budak ini pasti akan melepaskan satu ekor untuk dijual kepadanya. Namun tak diduga si Budak kecil ini memberikan jawaban lain.

“Saya tidak mau melakukan itu tuan, karena semuanya nanti bisa kelihatan. Meski juragan (pemilik kambing) tidak tahu tetapi Allah akan mengerti dan mengetahui yang saya lakukan,” jawab si budak tegas.

Mendengar jawaban itu, Umar seketika menangis seraya menepuk-nepuk bangga di pundak punggung si budak. Dari peristiwa ini, Umar mendapat ilmu dari bocah penggembala.

Di mana Allah? Kira-kira demikian jawaban budak kecil itu. Logika manusia sering membenarkan hal-hal yang korup dalam pikirannya. Hal itu terjadi karena tidak kuatnya keimanan kepada Allah yang Maha Mengetahui.

Umar kemudian meminta kepada budak kecil itu untuk dipertemukan dengan majikannya. Ia kemudian dibebaskan dan dibelikan kambing yang banyak. Budak ini jangankan memiliki benda, terhadap dirinya sendiri ia tidak memiliki. Tetapi keimanan yang mewarnai jalan pikirnya, ia diberi balasan di dunia. Menolak satu kambing haram lalu dibalas dengan kambing halal dalam jumlah yang banyak.

Selain kisah pertemuan budak kecil dengan Umar, juga ada kisah seorang mantan budak kurus yang dimerdekakan oleh tuannya. Namanya Mubarak. Setelah merdeka, dia bekerja pada seorang pemiliki kebun sebagai buruh. Suatu hari, sang tuan mengunjungi kebunnya bersama dengan beberapa sahabatnya. Dipanggillah Mubarak, “petikkan kami beberapa buah delima yang manis!,” pintanya.

Bergegaslah Mubarak melaksanakan perintah sang tuan. Dia memetik beberapa buah delima dan diserahkannya kepada sang majikan dan beberapa sahabatnya tadi.

Namun, ketika majikannya mencicipi delima yang dipetik Mubarak, tak satupun ada yang manis. Semuanya masam. Sang majikan marah dan menanyai mubarak, “apa kamu tak bisa membedakan delima yang manis dan yang masam?”

“Selama ini Anda tak pernah mengizinkan saya makan barang sebuahpun, bagaimana saya bisa membedakan yang delima yang manis dan yang masam?,” jawab Mubarak.

Sang tuan merasa kaget dan tak percaya, bertahun-tahun bekerja di kebun itu, tapi Mubarak tak pernah makan satu buahpun. Maka ia menanyakan hal itu kepada tetangga-tetangganya. Mereka semua menjawab, Mubarak tak pernah makan delima barang sebuahpun.

Singkat cerita, selang beberapa hari, sang tuan datang menemui Mubarak untuk dimintai pendapatnya. “Aku hanya punya seorang anak perempuan, dengan siapa aku harus menikahkannya?”

Orang Yahudi menikahkan karena kekayaan.  Orang Nashrani menikahkan karena ketampanan. Mubarak menjawab dengan tenang, “tuan, orang Yahudi menikahkan karena kekayaan, orang Nashrani menikahkan karena ketampanan, orang  Jahiliyah menikahkan karena nasab kebangsawanan, sedangkan orang Islam menikahkan karena ketakwaan. Tuan termasuk golongan mana silahkan tuan menikahkan putri tuan dengan cara mereka!”

Orang  Jahiliyah menikahkan karena nasab kebangsawanan. Sedangkan orang Islam menikahkan karena ketakwaan.

Pemilik kebun itu berkata, “demi Allah, aku hanya akan menikahkan putriku atas dasar ketakwaan. Dan aku tidak mendapati laki-laki yang lebih bertakwa kepada Allah melebihi dirimu. Maka aku akan menikahkan putriku denganmu.”

Mubarak menjaga dirinya dari makan buah delima di kebun yang dia bekerja di sana karena belum pernah diizinkan oleh pemiliknya, namun akhirnya Allah anugerahkan kebun itu beserta pemiliknya kepadanya. Balasan memang sesuai dengan amal. Barangsiapa meninggalkan sesuatu karena Allah, niscaya Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik.

Mubarak menjaga dirinya dari makan buah delima di kebun yang dia bekerja di sana karena belum pernah diizinkan oleh pemiliknya, namun akhirnya Allah anugerahkan kebun itu beserta pemiliknya kepadanya.

Seorang Arab Badui menceritakan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah memegang tanganku kamudian mengajariku sebagian yang telah Allah ajarkan padanya. Beliau bersabda,

 

إِنَّكَ لَنْ تَدَعَ شَيْئًا اتِّقَاءَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ إِلَّا أَعْطَاكَ اللَّهُ خَيْرًا مِنْهُ

 

“Sesunguhnya, tidaklah engkau meninggalkan sesuatu karena rasa takut kepada Allah ‘Azza wa Jalla melainkan Allah akan memberikan kepadamu yang lebih baik darinya. ” (HR. Ahmad)

Maka dari rumah tangga yang dibina Mubarak atas dasar ketakwaan tadi, lahirlah seorang syaikhul Islam, ulama besar, muhaddits ternama, mujahid yang pemberani, seorang kaya yang dermawan; Abdullah Ibnul Mubarak rahimahullah.

Orang-orang yang selalu bersama Allah maka dia akan merasakan keajaiban kun fayakun. Logika manusia sering menolak teori kun fayakun ini. teori ini terjadi dengan cepat dan pasti kebaikan.

Menyoal keimanan seseorang. Alangkah baiknya jika mengisahkan dua istri nabi yang durhaka. Istri Nabi Nuh dan Istri Nabi Luth. Walaupun suaminya seorang nabi tapi itu tidak cukup membuatnya beriman.

Sahabat Ummi, Rasulullah SAW. pernah mengabarkan bahwa penduduk neraka kebanyakan adalah wanita, padahal sebenarnya hanya ada 4 syarat bagi perempuan untuk memastikan diri mendapat undangan ke surga dari pintu yang manapun yang ia sukai, sebagaimana yang Rasulullah sabdakan:

Rasulullah SAW bersabda, “Apabila seorang wanita (istri) itu telah melakukan shalat lima waktu, puasa bulan Ramadhan, menjaga harga dirinya dan mentaati perintah suaminya, maka ia diundang di akhirat supaya masuk surga berdasarkan pintunya mana yang ia suka (sesuai pilihannya),” (HR. Ahmad, Ibnu Hibban dan Thabrani).

4 syarat ini jika diingkari maka akan menjadi alamat untuk masuk neraka. Para istri harus tau jika suami sudah putus asa untuk menasihati maka cepatlah bertaubat sebelum penyesalan hanya angan dalam gatamorgana. Jangan seperti istri Nabi Nuh dan Nabi Luth, disampingnya seorang pembawa risalah tapi ia enggan untuk menerima cahaya itu. Untuk itu sebagai penutup, Jadilah orang yang selalu mengatakan yang benar, jangan selalu membenarkan kenyataan. *Disaring dari Majelis Tadabbur Kamis Pagi, AQL Islamic Center, (8/3/18).

*MN

Sebarkan Kebaikan!