TADABBUR AYAT KURSI (9) Bahagia Itu Berserah Diri kepada Allah

Persoalan kita sekarang secara keilmuan dan peradaban yaitu karena terpisahnya dimensi agama dengan ilmu pengetahuan. Sehingga ilmu pengetahuan kering dari nilai-nilai ruh. Celakanya itu menimpa para ilmuan Muslim. Makanya tidak sedikit guru besar atau pejabat tinggi, ternyata tidak bahagia. Karena kering jiwanya, tidak bahagia dengan ilmunya, bahkan ia menderita dengan ilmunya.

 Padahal banyak hal yang tidak kita ketahui tentang diri kita. Yang kita ketahui tentang diri kita hanya satu dimensi.  Kita ini terdiri pada ruh dan jasad. Kita ketawa, lapar dan haus, bukan karena kebutuhan jasad tetapi karena kebutuhan biologis yang di dalamnya terkandung pengaruh-pengaruh ruhiyah.

Kalau Allah tidak mengajarkan ilmu-Nya, kita bisa mati dalam keadaan musyrik. Sakit itu bagus, datang dari Allah. kita yang gagal memahami sakit. Musibah itu bagus tetapi kita yang salah paham. Ini adalah mekanisme kehidupan, ada yang muda dan yang tua. Ada yang sehat ada yang sakit. Ada yang terkena musibah ada yang tidak. Terkadang di balik sakit dan musibah itu, ada hidayah yang Allah berikan. Makanya tidak sedikit orang yang sadar dan bertaubat setelah sembuh dari sakitnya. Ada juga yang sadar setelah ditimpa musibah. Namun kita terkadang salah menerima cobaan.

Manusia itu kalau sedang mendapatkan rezeki dan kemuliaan, tidak sakit, tidak terlilit utang dan masalah, anak sehat dan keluarga baik-baik semua, maka dia beranggapan, “Tuhanku lagi sayang sama saya.” Akan tetapi jika suaminya pelit, tagihan banyak, dililit utang, ada yang sakit, lalu dia mengeluh dan bilang, “Allah tidak sayang sama saya.”

Kalau begitu cara menilai Allah, maka di kala dia sempit atau terlilit masalah, kondisi ini rawan bagi dia untuk kembali ke dukun. Dalam kondisi seperti itu, mungkin tidak memberi makan orang miskin. Kalau kita lagi susah, bukan karena Allah tidak sayang tetapi mungkin kita lagi pelit. Kalian itu mungkin terlalu cinta harta dan terlalu cinta warisan sehingga tidak berani bersedekah di jalan-Nya.

Ciri-ciri orang beriman itu tiga. “Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nma Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah bertawakkal” (Al-Anfal [8]: 2).

Bahagia itu berserah diri kepada Allah. Jadi hati dulu yang harus dihidupkan sebelum mengamalkan bacaan-bacaan yang disunnahkan. Ibnu Katsir mengatakan, orang mukmin yang sesungguhnya kebahagiaannya bukan dengan uang dan harta yang ada di tangannya. Kalau masih ada orang masih merasa pada zona aman, comfort zone-nya kalau tabungannya masih ada, hartanya masih ada, berasnya masih banyak, lalu dia tenang, berarti belum beriman. Keimanan orang beriman adalah kalau dia lebih percaya dengan apa yang ada di sisi Allah SWT. Itu baru benar imannya. Dia merasa bahagia kalau hanya bersandar kepada Allah dan lebih percaya dengan apa yang ada di tangan Allah ketimbang apa yang ada di tangannya sendiri.

Orang yang beriman itu tidak takut melepaskan semua yang kelihatan di depannya di jalan Allah. Itu ciri orang yang beriman, yaitu hanya kepada Allah dia bertawakkal. Kira-kira kita berada pada posisi mana? Kalau jauh dari Allah, ibadahnya tidak khusyu, baca Qur’an lagi malas, sedekahnya pelit, padahal badannya sehat dan cita-citanya hanya ingin kaya saja. Takut miskin, takut kehilangan jabatan dan pekerjaan, takut dengan masa depan anak-anaknya, dan lainnya, berarti dia bermasalah. Orang beriman itu baru bisa dikatakan beriman kalau lebih percaya kepada yang di tangan Allah ketimbang di tangannya sendiri. Lebih percaya untuk bersandar kepada Allah ketimbang bersandar kepada siapa pun di dunia.

Jika keimanan seperti ini sudah hadir dalam diri kita, mungkin belum selesai dibacakan Ayat Kursi, setannya sudah kabur duluan. Karena energi keikhlasan yang dimiliki itulah yang menjauhkan dirinya dari gangguan setan. Ada nggak orang belum sampai ke dokter sudah sembuh? Ya ada, karena sugestinya yang tinggi. Atau belum minum obat, anaknya sudah sembuh. Padahal baru saja disentuh, belum diapa-apain. Tetapi ayat-ayat Allah bukan sugesti melainkan kebutuhan ruhiyah. Ada dimensi di luar fisik yang memang sangat kuat pengaruhnya.

Ayat Kursi bukan ayat pengusir setan. Terlebih lagi jika yang membacakannya adalah orang-orang yang di dalam hatinya tidak ada keyakinan kepada Allah. Banyak orang yang kelihatan fisiknya sehat, tetapi ditinggalkan oleh anak dan istrinya karena tidak tawakkal kepada Allah. Dia lebih merasa nyaman dengan dunianya tetapi tidak merasa nyaman bersandar kepada Allah. ini sakit berbahaya, dan di antara penyakit yang paling berbahaya adalah ketika hatinya tidak merasakan getaran. Tidak ada rasa takut dan harap serta  tidak ada pasrah kepada-Nya. ini bahaya karena tidak lebih dari bangkai yang berjalan. Kuburan yang berkeliaran. Setan pun senang dengan orang seperti ini. Karenanya, ada istilah, jika setan mengusir setan, maka ayat apa pun yang ia bacakan tidak akan mampu mengusir setan.

Karenanya, ketika ada orang yang membacakan Ayat Kursi kepada orang yang kerasukan atau kesurupan, jinnya malah tertawa. Atau bisa jadi jinnya justru mengoreksi tajwid orang yang membacakan Ayat Kursi itu. Yang paling bahaya lagi, ketika ia membacakan Ayat Kursi, bukannya takut kepada Allah tetapi malah dia takut kepada setan.  Jika ada orang yang seperti itu, berarti imannya masih error. Mari memperbaiki diri dengan penuh keikhlasan dan keyakinan kepada Allah, sehingga hidup kita di dunia ini mendapatkan keberuntungan dan selamat di akhirat.

Ketika iblis diperintahkan turun dari surga ke bumi karena enggan bersujud kepada Adam, Allah tidak memerintahkan iblis untuk sujud menyembah Adam, tetapi sebagai sujud penghormatan kepada Adam. Di balik perintah itu, Allah menguji ketaatan iblis, namun iblis ingkar dengan kesombongan dan keangkuhannya. Iblis bukannya taat tetapi justru menyombogkan diri karena merasa lebih baik dari Adam dari sisi materi.

Yaitu, materi penciptaan iblis dari api dan materi Adam yang diciptakan dari tanah. Iblis memandang dirinya lebih lebih baik dibanding Adam secara materi, padahal penilaian Allah bukan sisi materi. Disinilah iblis terjebak dan akhirnya ia pun menjebak ummat manusia untuk selalu memandang dunia ini dari sisi materi belaka. Dari sinilah sumber ilmu materialisme dan kapitalisme yang banyak dijalankan oleh manusia di muka bumi ini. Beda dengan konsep Islam. Islam mengajarkan hakikat sebuah ilmu dan hakikat sebuah perintah, bukan melihat sisi-sisi permukaan yang menipu.

Sebarkan Kebaikan!