TADABBUR AYAT KURSI (6) Menggapai Ilmu Allah dengan Izin-Nya

Ya’lamu maa baina aidiihim wamaa khalfahum. Dia mengetahui apa yang di hadapan mereka, dan apa yang di hadapan mereka. Artinya, urusan dunia atau akhirat. Walaa yuhiituuna bisyaein min ilmihi, sedangkan mereka tidak mengetahui suatupun dari ilmunya. Artinya, manuia tidak tahu sedikitpun apa yang dieketahui oleh Allah. Illaa bimaa syaa, melainkan apa yang dikehendakinya untuk diketahui melalui perintah dari para rasul. Kalau mau ilmu tentang Allah, tempuhlah  lewat Rasul. Kalau mau tahu dari rasul, baca hadits nabi SAW.

Ilmu itu ada empat yaitu pengethuan masa lalu, sekarang, akan datang, dan pengetahuan tentang yang belum terjadi dan kalau terjadi bagaimana kejadiannya. Yang berat itu adalah yang keempat. Kalau ilmu masa lalu dan masa kini bisa dibaca, ilmu masa depan bisa diprediksi melalui ilmu futuristik. Orang yang peka dengan alam sekitarnya biasanya tajam kesadarannya dan dalam pengetahuannya. Apalagi jika punya kemampuan berpikir dengan baik untuk menyingkap hal yang tersembunyi. Maka prediksi-prediksi masa depan bisa diketahui berdasarkan pengetahuan, pengalaman, dan pemikiran yang tajam.

Kalau ilmu yang keempat, ini yang tidak kita punya. Ilmu yang belum terjadi dan kalau terjadi, kita tidak tahu seperti apa kejadiannya. Ilmu ini hanya diketahui oleh Allah SWT. Misalnya, tentang perkara ghaib yang tidak pernah kita tahu seperti kalau kitsa sudah masuk dalam kubur. Perkra-perkara ghaib ini hanya Allah SWT yang tahu. Dalam ayat kursi, manusia tidak akan mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Jadi ilmu itu sumbernya dari Allah. Jangan pernah berpikir  kalau ilmu itu didapatkan dari sekolah terbaik atau dari guru dan pakar yang terhebat.

Manusia itu tidak akan pernah bisa sampai kepada yang ditujunya kecuali ilmu pengetahuan. Namun, manusia tidak akan mendapatkan ilmu pengetahuan sedikit pun keuali dengan izin Allah SWT. Karenanya, tidak pantaslah bagi seorang yang berilmu tetapi sombong dengan keilmuannya. Ingat, sangat mudah bagi Allah untuk mencabut ilmu-ilmu yang sudah diberikan kepada kita.

Disinilah ketersesatan manusia, dikiranya dapat menempuh jalan menuju Allah tetapi tidak menggunakan cara-cara yang diajarkan sesuai petunjuk Al-Qur’an dan As-Sunnah. Dikiranya sumber ilmu itu adalah buku, sekolah, guru, pakar, ahli, dan lainnya. Dikiranya sumber ilmu itu diramu dari akal dan pemikirannya sehingga banyak sekali orang yang berargumentasi tentang ajaran-ajaran agama melalui akal dan persepsinya.

Pernah mendengar cerita Khidir dan Nabi Musa AS? Jadi sebelum peristiwa  pembocoran perahu, Khidir dan Musa diperlihatkan dengan seekor burung yang sedang mematuk-matuk ke air laut. Khidir memang peka dan berkata kepada Musa. “Ketika burung-burung ini mematuk laut, apa isi laut berkurang?”

Jawabannya, sedikit pun tidak. Ilmu Allah itu seperti samudera tak bertepi. Berapa pun yang kamu ambil dari ilmu Allah, tidak akan berpengaruh bagi Allah. Ini adalah pra-kondisi bagi Musa sebelum Khidir membocorkan perahu tanpa alasan. Meski begitu, Musa tetap gusar begitu Khidir membocorkan perahu. Padahal Khidir sudah memberikan prolog mengenai ilmu Allah. Keilmuan Khidir memang dalam dan kesadarannya sangat tajam. Namun, semua itu didapatkan Khidir dengan izin Allah. Khidir mendapatkan ilmu dari sisi Allah. Kalau orang sudah tahu bahwa dalam menuntut ilmu, tiada yang bisa didapatkan sedikit pun tanpa izin Allah, maka dia sudah berada pada jalan yang benar.

Allah Pemberi Syafaat sekaligus mengetahui apa yang telah lalu atau yang akan datang. Kita tidak akan tahu apa yang terjadi pada diri kita besok. Bagi kita besok adalah ghaib. Tapi bagi Allah tidak ada yang gaib. Semuanya sudah diketahui sebelum dan sesudahnya. Yang namanya aib, dosa, tau kesalahan, walupun kita sembunyi, walaupun kita tutupi, walau pun Indonesia bukan negara Islam yang harus dihukum penduduknya yang bersalah berdasarkan hukum Islam, Allah punya cara untuk menjatuhkan hukuman.

Misalnya hukum rajam bagi orang yang berzina, meskipun tidak dicambuk fisiknya berdasarkan hukum Islam, tetapi cambukan di hatinya bisa saja sepanjang masa. Lihat saja orang-orang Syiah. Betapa orang-orang Syiah menistakan Aisyah, istri Nabi. Setiap hari Asyura, orang-orang Syiah itu menuduh Aisyah sebagai pezina. Padahal Allah sudah sebutkan dalam Al-Qur’an, Walladzi ayyadaka binaslihi wabil mu’miniin (Dialah yang telah menolong Rasulullah dan membelanya bersama orang-orang yang beriman). Dituduhlah Aisyah berzina, Hafsah juga dituduh berzina. Yang aneh, di Iran, orang seperti itu (Syiah) dianggap orang suci padahal mereka menuduh Aisyah.

Padahal dalam Islam, menuduh orang berzina tanoa mendatangkan saksi harus dicambuk dengan 80 kali cambukan. Pertanyaannya, upacara apa yang dilakukan oleh orang-orang Syiah di Iran, kalau setiap hari Asyura. Mereka cambuk diri mereka secara massal sampai berdarah-darah. Bahkan ada yang menggores kepalanya dan banyak yang meninggal. Jadi saat 1 Syura, mereka dicambuk dengan cara mereka sendiri. bahan ada yang harus merayap ke kuburan Husen sampai berdarah-darah. Allah yang menggerakkan sehingga orang-orang Syiah itu menyiksa diri.

Lihat, usai mereka shalat, mereka melaknat Abu Bakar dan para sahabat Rasulullah. Padahal dalam Al-Qur’an dijelaskan, ketika Rasulullah di bukit Tsur, berkata kepada sahabatnya jangan takut dan jangan bersedih sesungguhnya Allah bersama kita. Tetapi mereka menistakan Abu Bakar.

Orang yang beriman, langkah hidupnya yakin dan mantap. Kalau sudah mendapatkan ilmu dari Allah dan Rasul-Nya, lalu itu yang dia jalankan dan amalkan, dia tidak akan bingung dalam menghadapi berbagai goncangan dalam hidupnya. Dia yakin sekali kepada Allah dengan ilmu-Nya yang seluas langit dan bumi. (bersambung)

Sebarkan Kebaikan!