TADABBUR AYAT KURSI (5) Dalam Perkara Kecil Pun, Minta Pertolongan Allah

Ibrahim bin Adam didatangi seorang Khalifah ketika berada di depan Ka’bah. Khalifah saat itu sudah lama mendengarkan kesalehan pemuda tersebut. Begitu bertemu di depan Kak’bah,  Khalifah menjabat tangan Ibrahim. Khalifah tulus menemuinya dan dia butuh dukungan, punya aset dan kekuasaan. Khalifah menawarkan diri, apa yang bisa saya bantu? Kata Ibrahim: “Maaf tuan, malu saya meminta kepada tuan, lebih-lebih berada di rumah Allah SWT.”

Tersinggunglah Khalifah ini dan janjian lagi bertemu di luar setelah shalat. “Ibrahim, sekarang kita sudah  berada di luar rumah Allah. Apa yang bisa saya bantu buat kamu?”

Tentu yang ingin dia bantukan adalah mengenai kehidupan di dunia. Lalu Ibrahim berpikir sejenak. “Terima kasih Tuan. Paduka dalam doa saya kepada pemilik langut dan bumi ini, aku malu meminta dunia. Lalu kenapa aku harus meminta dunia kepada tuan yang tidak memiliki dunia? Apalagi akhirat. Bahkan kepada pemilik tujuh lapis langit dan bumi, aku malu meminta dunia? Mohon maaf Tuan.”

Orang seperti ini, adalah orang yang dicintai Allah dan dicintai manusia. Beda dengan orang yang kemaruk kepada dunia. Mereka berharap dunia kepada orang yang tidak memiliki dunia, hina di depan manusia, dibenci pula di depan Allah. Sedikit saja niat untuk mengemis kepada makhluk, saat itu Allah langsung miskinkan dia.

 Lihat itu pengemis di depan masjid, lihat pengemis di dalam masjid. Lihat para pejabat meminta-minta jabatan. Lihat para pengusaha meminta-minta proyek. Lihat para koruptor, tidak punya malu mengemis. Ketemu orang kaya bawaannya ingin minta. Orang seperti ini akan dihinakan Allah SWT. Anaknya baru saja lulus, orangtuanya langsung mencari nomor kontak teman-teman lamanya. Cari pekerjaan buat anaknya. Meminta-minta sampai membawa apa saja agar apa yang diinginkannya dikabulkan. Bahkan ada yang menyogok. Ada yang menindas orang lain, demi untuk mencapai tujuannya.

Dalam Ayat Kursi disebutkan: “Man dzaal-ladzii yasyfa’u indahu illaa bi idznihi.” Artinya, siapakah yang dapat, artinya tidak ada yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya kecuali dengan izin-Nya. Kata “siapakah yang dapat” seperti tanda tanya tetapi tanda tanya ini berarti tidak ada atau tidak seorang pun yang bisa. Artinya, tiada yang bisa memberi syafaat di sisi Allah tanpa izinnya. Syafaat adalah pertolongan. Satu-satunya cara untuk mendapatkan pertolongan Allah adalah dengan izin-Nya. Yang namanya pertolongan itu, hanya dengan izin Allah. Ingat, tidak ada yang bisa memberikan kepastian kecuali dengan izin-NyaAllah. Seorang ibu, sekali pun yang melahirkan anak, tidak bisa berkehendak sepenuhnya terhadap anak yang ia kandungnya selama sembilan bulan kecuali dengan izin Allah. Tidak ada yang bisa membantu kita untuk selamat dari siksa neraka tanpa pertolongan Allah SWT.

Karena Allah yang memiliki langit dan bumi, hanya Allah pula yang bisa memberikan syafaat atau pertolongan. Karenanya, biasakan memohon kepada Allah dan meminta izin-Nya. Dalam perkara kecil pun, ingat Allah dan mohonlah pertolongan-Nya. Seperti dalam kondisi tali sandal jepit pun yang terputus, mintalah pertolongan Allah.

Jangan berharap kepada manusia karena tidak ada yang bisa memberikan pertolongan selain Allah. Jadi jangan langsung kepada makhluk, tetapi minimal di dalam hati. Mohonlah kepada Allah dulu. Misalnya mau nebeng teman karena searah jalan pulang, minimal mohon kepada Allah dulu. “Ya Allah, semoga Engkau memberikan pertolongan-Mu melalui pemilik kendaraan itu.” Baru setelah itu, sampaikan kepada orang yang dimaksud. Atau kalau misalnya kita yang dimintai bantuan, katakan Bi-Iznillah (dengan izin Allah). Jangan sok yakin dulu karena belum tentu kita bisa memberikan bantuan. Tetapi dengan izin Allah, apa pun bisa kita berikan kepada orang lain.

Sebarkan Kebaikan!