TADABBUR AYAT KURSI (4) Ibadah Adalah Puncak Kenikmatan

Lahu Maafii ssamaawati wamaa fil ardhi. Dialah pemilik sekaligus penguasa bumi dan langit. Allah yang memiliki seluruh langit dan bumi tidak butuh makhluk-Nya. Apa yang kita butuhkan dari langit, diturunkanlah hujan. Apa yang kita butuhkan dari bumi, ditumbuhkanlah tumbuh-tumbuhan. Semuanya milik Allah. Betapa beruntungnya orang yang meminta kepada Allah karena Dia-lah yang Maha Memiliki dan betapa sengsaranya meminta kepada yang tidak memiliki. Karena itu, mintalah kepada pemilik bumi dan langit. Jangan berharap banyak dari orang lain yang sebenarnya mereka sendiri juga masih membutuhkan dan berharap.

Inilah konsep kepemilikan yang sesungguhnya. Semua yang ada di bumi ini adalah milik Allah SWT termasuk kita dan apa yang ada di sisi kita. Selain Allah, tidak ada yang memiliki dan Allah tidak membutuhkan mereka semuanya. Lam pada lahu adalah lam kepemilikan mutlak. Sebaliknya, kepemilikan manusia adalah lam nisbi. Contohnya, seorang ayah atau ibu yang punya anak, pada dasarnya anaknya itu bukan milik dia sesungguhnya. Dia adalah milik Allah SWT. Tugas sebagai orangtua hanya sebagai busur dan anak adalah anak panah. Tugas sebagai orangtua harus melepaskan anak panah itu. Orangtua hanya mengarahkan. Ke mana nanti ia menancap, terserah kepada Allah di mana ia ditancapkan.  Artinya, anakmu bukanlah anakmu tetapi ia adalah titipan Allah SWT.

Kalau ada yang ingin kebutuhannya dimudahkan dan dicukupkan kehidupannya, caranya cuma satu mantapkan diri kepada Allah. Ada teori yang butuh yang datang. Tetapi ada orang tidak punya apa-apa tetapi gengsi. Nah itu sifat buruk manusia. Yang parah lagi, dia yang butuh tetapi dia yang sombong kepada Alah.

Kenapa ada orang memiliki banyak kekayaan dari Allah tetapi dia tidak bahagia? Ini penyakit level tinggi. Ada orang sudah memiliki semuanya dan dia tahu milik Allah yang diberikan tetapi hidupnya sengsara? Intinya, karena dia tidak menikmati inti beribadah. Semua kenikmatan yang ada akan menjadi semu dan gersang karena dia belum belum merasakan nikmatnya beribadah. Dasar dan inti semua kenikmatan adalah ibadah. Jika seseorang sudah merasakan nikmatnya ibadah, dia akan larut dalam ibadahnya meski tidak ada orang lain yang melakukannya.

Misalnya seorang yang bangun tengah melam lalu menikmati ibadah shalat malam. Meski orang lain tertidur pulas, dia tetap memilih tinggal berlama-lama dalam ibadah karena dia merasakan apa yang tidak dirasakan oleh orang lain.

Orang kalau belum merasakan nikmatnya beribadah pasti mahal. Ada yang keliling dunia mencari kebahagian. Padahal kalau dia tahu nikmatnya dunia, cukup dengan memperbanyak ibadah. Bangun tengah malam lalu dia shalat, zikir, dan membaca Al-Qur’an. Saking nikmatnya, air matanya bercucuran karena mampu merasakan nikmat yang diberikan Allah Azza wa Jalla. Namun untuk mencapai itu, tidak mungkin bisa dilakukan dengan mencampur adukkan kebenaran dan kebatilan. Malamnya menikmati ibadah lalu siangnya merampok hak orang lain, tidak mungkin.

Ketika kemasiatan belum bisa ditinggalkan , maka sulit untuk menikmati ibadah kepada Allah Azza wa Jalla. Karenanya, hanya orang yang mampu meninggalkan kemaksiatan yang dimampukan untuk bangun shalat tengah malam secara terus menerus, sepanjang malam, sepanjang waktu selama hidup di dunia. Orang yang mampu meninggalkan semua maksiat, lalu berusaha dan istiqamah di jalan Allah, maka dialah yang mampu merasakan kenikmatan beribadah. Orang yang demikian inilah yang diberikan kecerdasan dalam berpikir dan bijaksana dalam setiap tindakannya.

Kalau ada orang yang tidak bisa menikmati lezatnya berzikir, shalat, mengaji, dan ibadah lain, mungkin karena masih ada kemaksiatan yang belum dia tinggalkan. Karenanya, orang yang tidak beres biasanya orang yang tidak bisa menikmati shalat dan ibadahnya. Tidak mungkin seseorang suami berbuat seorang jika shalatnya benar. Tidak mungkin seorang istri berkhianat jika ibadahnya sempurna. Karena orang yang sempurna ibadahnya tidak mungkin melakukan perbuatan yang merugikan kepada orang lain pun terlebih lagi bagi orang-orang yang dicintainya.

Jika sudah merasakan ibadah itu nikmat, Insya Allah makannya nikmat, pakaian apa saja yang dipakai pasti enak dan pas, rumah tangganya juga pasti damai dan nyaman. Lalu pandangannya sejuk, silaturahminya baik, menghormati orang lain yang dikenal mau pun tidak, dan suka memberikan manfaat kepada orang banyak. Silakan melengkapi semua kebutuhan hidup di dunia, tetapi kalau belum merasakan kenikmatan ibadah, semuanya semu dan sesaat. Rumah mewah, mobilnya banyak, bisnisnya di mana-mana, tetapi setiap hari kepalanya pusing. Melihat orang lain saja sudah curiga, apalagi kalau sudah bertemu. Pikirannya suntuk, dan dunianya disempitkan karena semuanya dipandang negatif. Itulah manusia. Orang yang tidak taat dalam beribadah, hatinya selalu perih. Sama seperti orang yang sariawan, senikmat apa pun makanan di hadapannya, tidak ada yang enak. (bersambung)

Sebarkan Kebaikan!