TADABBUR AYAT KURSI (3) Allah Tidak Mengantuk, Allah Tidak Tidur

Di dunia ini, siapa yang bisa melawan tidur dan rasa kantuk? Adakah orang yang mengeluh karena dia tidak pernah tidur selama satu bulan, dua bulan hingga bertahun-tahun? Misalnya, “Aduh, sudah satu tahun saya nggak pernah tidur.” Tidak tidur dalam sehari atau dua hari saja, biasanya tubuh seseorang sudah oleng atau kelelahan sehingga butuh waktu untuk tidur.

Dalam lanjutan Tadabbur Ayat Kursi yang ketiga, yaitu menyangkut sifat Allah yang agung yaitu tidak mengantuk tidak pula tidur. Pada bagian pertama dan kedua dalam Ayat Kursi dijelaskan bahwa tidak ada Tuhan selain Allah serta Allah Maha Hidup dan terus menerus mengurusi makhluk-Nya. Tibalah kita pada pembahasan yang menyebutkan bahwa Allah tidak mengantuk dan tidak pula tidur (Laa ta’khudzuhu sinatun walaa naum).

Hanya Allah yang tidak mengantuk, tidak tidur, tidak lalai, tidak pula terlena. Yang lalai dan terlena adalah manusia akibat kekosongan jiwanya dari Allah. Dia tidak yakin dengan Allah maka kehidupannya pun berantakan. Pikirannya tidak keruan. Hanya orang-orang yang lalailah yang menilai Allah sedang lalai. Padahal jika ia sadar, sungguh nikmat bersandar dan meminta pertolongan kepada-Nya. Bagaimana agar ia yakin, pelajari ayat-ayat Allah, sering mengaji, bagun tengah malam, bersedekah, memberi makan orang yang dikenal maupun tidak dikenalnya.

Mengantuk adalah permulaan tidur, dan tidur adalah istirahat total. Di sini gambarkan bahwa Allah tidak mengantuk tidak pula tidur untuk memberikan penjelasan bahwa Allah tidak tidur bukan karena Dia sudah tidur. Artinya Allah selama-lamanya tidak mengantuk dan tidur.

Tidur dan mengantuk, lalai dan terlena, lelah dan lemah, adalah sifat manusia. Tidur dan mengantuk adalah nikmat tetapi tak jarang juga menjadi sumber kelalaian yang mencelakakan. Misalnya, gara-gara mengantuk dan ketiduran, kita bisa kecolongan. Gara-gara diserang rasa kantuk, terjadi banyak kecelakaan di jalan raya. Gara-gara terlena sedikit, kejahatan . Gara-gara telat sedikit, ketinggalan pesawat. Tapi yakinlah, tidak ada nasi yang menjadi bubur kecuali karena kehendak Allah. Karenanya, daripada meratapi nasib, sebaiknya kita menyandarkan semuanya kepada Allah. Siapa pun kita yang menghadapi keterlanjuran, ucapkan qodarullah, wamaa syaa fa’al (takdir Allah, dan apa yang dikehendaki-Nya pasti dikerjakan).

Misalnya, seorang dokter yang keliru memberikan resep, lalu pasiennya komplain dan membawanya ke masalah hukum. Ini adalah kesalahan sebagai manusia biasa dan siapa pun bisa berbuat salah. Bisa saja ada keteledoran yang disengaja atau pun tidak, sehingga kita salah dan keliru. Sebagai orang yang beriman, akui kesalahan jika kita salah, baca istighfar, meminta maaf, dan bertaubat kepada Allah SWT.

Serahkan segala urusan kepada Allah.  Allah tidak akan lalai tetapi kitalah yang lalai. Jadi kalau terlanjur salah atau keliru, jangan putus asa. Kekeliruan yang paling besar adalah berputus asa. Kita pasrah kepada Allah dan berniat yang positif. Prasangka Allah ada pada prasangka hamba-Nya, kalau prasangka kita baik maka pasti Allah memberikan jalan terbaik. Jika ada niat jahat atau tindakan buruk, disitulah biasanya terjadi kekeliruan atau human error. Setelah kejadian, yakinilah adanya takdir Allah. Apa yang dikehendaki-Nya pasti terjadi.

Dari Abu Musa, dia berkata, Rasulullah SAW berdiri menerangkan kepada kami lima perkara dengan bersabda. Sesungguhnya Allah tidak pernah tidur, dan tidak seharusnya Dia tidur. Dia berkuasa menurunkan timbangan amal dan mengangkatnya, kemudian akan diangkat kepada-Nya, maksudnya akan dilaporkan segala amalan pada waktu malam, sebelum dimulai amalan pada waktu siang. Dan begitu juga amalan pada waktu siang, akan diangkat kepadanya sebelum dimulai amalan pada waktu malam. Hijabnya adalah cahaya. Menurut riwayat Abu Bakar, hijabnya adalah api. Andaikata Dia menyingkapkannya, pasti keagungan wajah-Nya akan membakar semua makhluk-Nya.

Ada lima kaidah penting dari hadits ini. Kalau kita yakin bahwa Allah tidak lalai dan tidak pernah tidur, kita bisa berdoa sepanjang waktu, kapan saja kita mau. Kalau menunggu didoakan sama ustadznya, ustadznya bisa tertidur bisa juga lupa. Jadi langsung saja kepada Allah. orang yang sedih di waktu malam lalu berdoa, orang yang meminta menjelang subuh, ada yang berdoa setelah subuh, ada yang berdoa saat akan berangkat kerja, ada yang kesilitan di siang hari lalu berdoa, ada yang berharap agar urusan selesai hari itu juga, semuanya dilayani langsung oleh Allah. Orang yang tanahnya tidak laku-laku, tenang saja karena Allah Maha Tahu. Allah Maha Tahu harga tanah yang akan kita jual dengan harga yang cocok dan tepat buat kita, dan tanah kita tidak akan dibangun tempat maksiat meski harganya mahal. Semua berangkat dari hal sederhana.

Kedua, Allah berkuasa menurunkan dan berkuasa mengangkat timbangan amal. Kalau tim auditor, tidak bisa mengurangi atau menambah penilaian dalam sebuah pemeriksaan. Kapan dia menilai atau mengurangi penilaiannya, pada saat itu juga dia berlaku curang. Menguntungkan pihak lain atau merugikan pihak lain, itu masuk kategori kecurangan. Apalagi jika diiming-mingi imbalan. Penilaiannya sudah berdosa karena berbuat curang, lalu ia berdosa lagi karena menerima suap. Belum lagi jika dihitung berapa kerugian yang dialami bagi orang-orang yang terzhalimi atas kecurangan tersebut. Begitu juga dengan hasil uang haram yang dibagi-bagikan kepada keluarga atau orang lain. Bayangkan, satu dosa karena berbuat curang saja, ternyata berimbas kemana-mana yang menimbulkan efek domino.

Sebuah ilustrasi dalam dunia pekrjaan. Misalnya, di satu kantor, ada dua karyawan yang sama-sama bekerja di satu bidang atau kompartemen. Karena levelnya sama, tahun masuknya juga sama, maka gajinya pun sama. Apa yang membedakan keduanya? Tentu kualitas dari kedua orang tersebut. Jika gajinya tetap saja sama padahal yang satunya rajin dan satunya lagi malas, timbangan amalnya di sisi Allah pasti beda.

Si rajin bisa saja dizalimi dan si malas dipromosikan berdasarkan penilaian subjektif atasan atau karena unsur ketidakadilan, tetapi Allah Maha Adil. Allah tidak tidur, dan hitung-hitungan Allah tidak akan pernah meleset. Keberkahan gaji orang yang rajin beda dengan orang yang tidak rajin. Berkahnya orang yang kreatif tidak sama dengan yang tidak kreatif. Ini bahasa sederhana agar kita bersemangat dalam melakukan kebaikan dan memberi manfaat.

 Allah berkuasa untuk menurunkan atau mengangkat sebuah timbangan amal seseorang. Orang yang memberikan bantuan secara sembunyi-sembunyi dan terang-terangan, tergantung keikhlasannya. Sesuai niatnya sehingga tidak penting apakah sembunyi-sembunyi atau terang-terangan (sirran wa’alaaniyatan). Orang yang memberikan bantuan secara terang-terangan harus ikhlas begitu juga yang sembunyi-sembunyi. Jika alasan yang sembunyi-sembunyi karena takut mendapatkan pujian atau takut riya, tentu ini jalan yang terbaik.

Kalau itu yang menjadi semangat orang dalam bekerja, bahwa Allah pasti mencatat semua kebaikan kita, tidak perlu korupsi. Hidup ini pasti bahagia. Di akhirat pun pasti tenang. Allah berkuasa menurunkan dan menaikkan timbangan amal, kita berbuat baik saja. Makanya jika memberikan bantuan lalu orang berterima kasih kepada kita, jangan lupa berdoa: Kataballahu fii miizanil hasanaat. “Semoga Allah memperberat timbangan amalan kita di akhirat.” Kepada anak-anak juga harus diomongin. Yang berhak masuk surga adalah orang yang berat timbangan amalnya.

Ketiga, amalannya akan diangkat kepada-Nya. Maksudnya akan dilaporkan segala amalan pada waktu malam, sebelum dimulai amalan pada waktu siang. Perbanyaklah beramal saleh. Catatan kebaikan itu tidak akan ditunda-tunda. Standard audit Allah dan manusia jauh berbeda. Kalau Allah tidak akan menunda-nunda laporan kebaikan manusia di muka bumi. Kalau standar audit manusia, ada laporan bulanan, laporan per semester, atau laporan tahunan. Neracanya juga begitu. Kalau catatan amalan, dilaporkan secara detil sebelum malam tiba, atau sebelum datangnya waktu siang. Begitu cepat, karenanya segeralah beramal.

Keempat, hijabnya adalah cahaya. Pembatas Allah SWT adalah cahaya. Semakin dekat kepada Allah semakin dekat dan semakin cepat kita mendapatkan cahaya-Nya. Kelima, andaikata cahaya itu disingkap, pasti keagungan wajah-Nya akan membakar semua makhluknya. Allahu Akbar.  (bersambung)

Sebarkan Kebaikan!