TADABBUR AYAT KURSI (2) Percikan Al-Hayyu dalam Kehidupan

Surat paling agung dalam Al-Qur’an adalah Surat Al-Fatihah. Karena di tujuh ayatnya, terdapat ayat-ayat yang mengulang-ulang pujian dan keagungan Allah Azza wa Jalla. Begitu juga dalam Ayat Kursi, keagungan Allah dan lafadz Allah diulang-ulang dalam satu ayat. Karenanya, Ayat Kursi adalah Ayatul A’zham atau ayat yang paling agung dalam Al-Qur’an yang berjumlah 6.236. Ayatul A’zham ini ditandai juga dengan dengan asma Allah yang paling agung yaitu Al-Hayyul Qayyum.

Disimpulkan bahwa Ayat Kursi adalah ayat agung karena di depannya ada Allahu Laa Ilaaha Illaa Huwal Hayyul Qayyuum. Al-Hayyu adalah Yang Maha Hidup, dan Muhyi adalah Yang Maha Menghidupkan. Selain itu, disebut Ayatullahi al-A’zham karena dimurnikan dari berbagai macam bentuk kesamaan dan kesetaraan, tidak ada yang hak disembah kecuali Allah.

Pada bagian ini, yang dibahas adalah makna per kata dari Ayat Kursi tentang sifat Al-Hayyu yaitu poin keempat dan sifat Allah Yang Maha Mengurusi Makhluk-Nya (Al-Qayyuum) pada poin keempat. Pembahasan tentang Allah sudah dibahas pada bagian pertama yaitu Allahu Laa Ilaaha Ilaa Huwa (Allah, tidak ada tuhan selain Dia) yang dibagi dalam tiga poin.

Al-Hayyu artinya yang terus menerus hidup (daaimul-baqa’). Allah Yang Maha Hidup, sifatnya bukan sekadar hidup, tetapi kehidupan-Nya dibarengi dengan ilmu-Nya, kehendak, dan kekuatan. Jadi Al-Hayyu adalah tidak hidup tanpa pengetahuan. Ada hidup tetapi sakadar hidup tidak memberikan manfaat. Allah Yang Maha Hidup dengan kehidupan yang dimilikinya mengetahui semua hamba dan ciptaan-Nya. Kehidupan Allah dibarengi dengan sifat-sifat (muttasifun bish shifat) pengetahuan, kehendak, dan kekuasaan. Allah Maha Bekehendak terhadap semua makhluk-Nya, Maha Berkuasa dan Menguasai makhluk-Nya.

Allah Maha Hidup berikut semua  komponen kehidupan yang sempuna. Al-Qayyuum adalah yang terus menerus mengurusi makhluk-Nya. Artinya Allah Maha Hidup sekaligus mengurusi semua makhluk-Nya dengan kekuatan, kekuasaan, kehendak, kepemilikan, kasih sayang-Nya. Allah mengurusi semuanya. Bahkan di dunia ini, pertolongan pun harus seizin Allah karena pertolongan itu mutlak datang dari-Nya.

Kapan tuhan itu mulai ada? Bukan kapan Anda mulai sadar tetapi sebelum langit dan bumi ini diciptakan, Allah sudah ada. Allah itu azali, dari belakang sampai sekarang sudah kekal. Allah juga abadi dari sekarang hingga ke depan tetap abadi. Jadi konsep Al-Hayyu itu adalah azali dan abadi, hidup dari awal hingga ke depan. Tidak ada permulaan penyembahannya sehingga tuhan tidak dilahirkan.

Pada penyembahan berhala, jelas sekali konsep ketuhanannya tidak konsisten. Tidak mungkin tuhan mulai disembah berdasarkan tanggal kelahirannya. Bagaimana mungkin Anda meminta panjang umur kepada tuhan yang sudah mati? Yang menjadi masalah adalah keyakinan sebagian orang sudah ikut dan terseret dalam konsep keyakinan orang kafir. Anehnya, ada orang Islam bertanya, apakah seorang muslim bisa mengucapkan Selamat Natal kepada Kaum Nashara? Tidak mungkinlah seorang muslim menyembah kepada Allah Yang Maha Hidup, di lain sisi mengakui kelahiran tuhan yaitu Natal. Tuhan tidak dilahirkan dan Tuhan tidak melahirkan. Tidak perlu merayakan hari kelahiran tuhan dan tidak perlu meratapi hari kematiannya. Betapa sengsaranya, bertuhan kepada sesuatu yang mati.

Bagi orang Islam, pengakuan Natal dalam bentuk ucapan dan lainnya, adalah menistakan konsep ketuhanan. Konsep ketuhanan kita itu konsisten. Tidak ada tuhan anak menjadi tuhan bapak, lalu tuhan anak jadi tuhan bapak. Suatu saat, mungkinkah anak Anda menjadi bapak, lalu Anda yang menjadi anak? Mustahil. Anak tetaplah anak, bapak tetaplah bapak.

Kita sebagai ummat Islam, hanya bersandar kepada Allah yang maha Hidup dan tidak pernah mati selama-lamanya. Nabi Isa Alaihis Salam adalah putra Maryam bin Imran. Nabi Isa AS adalah utusan Allah SWT yang membawa kebenaran dengan Kitab Injil. Nabi Isa AS membawa agama tauhid sebagaimana agama yang dibawa oleh Nabi Ibrahim AS, Nabi Musa AS. Setelah itu Nabi Muhammad SAW diutus sebagai pembawa agama yang sempurna yaitu Islam.

Yang tak kalah aneh lagi, bagi kita ummat Muhammad SAW, berhala-berhala dapat dibeli di toko. Sebelum dibeli, ada yang nungging, ada yang cacat, ada yang lehernya patah dan lainnya. Berhala dalam bentuk patung hanyalah buatan manusia dan tidak mungkin sempurna. Setelah dipilih dan dibayar, lalau dibawa ke rumah dan ditempatkan di pojok ruangan.  Dikasi bunga, wewangian, kemenyan, dan lainnya. Seolah-olah berhala-berhala itu bernyawa dan berkuasa. Di sekitarnya dikasi penerang lalu disembah. Bagaimana mungkin dia disembah kalau begini jalan ceritanya? Subhanalllahi ‘amma yasifuun. Maha Suci Allah terhadap apa yang mereka sifatkan kepada Allah.

Ada orang hidup, tapi hidupnya terbaring di atas ranjang rumah sakit. Ada yang dibantu dengan alat pernapasan. Dia hidup, tetapi ada yang tidak sadar, ada yang tidak mengenali orang lain. Pengetahuan, kesadaran, kekuasaan, dan kehendaknya pada saat itu hilang. Kita hidup tetapi ketika turun hujan, kita tidak mampu menghalaunya. Kehidupan Allah adalah Maha Kuasa dan hambanya tidak memiliki kekuasaan. Kehidupan dan pengetahuan Allah sungguh sangat luas sekali.

Fitrah manusia itu terlahir muslim. Barulah dia kafir setelah dikafirkan oleh orangtuanya. Maka jadilah ia Nasrani, Majusi, Yahudi, atau lainnya. Ketika hamba mengerti bahwa Allah Maha Hidup itu, Masyaa Allah. Betapa ruginya orang-orang yang menyembah berhala yang jelas-jelas mati. Yakinlah Allah mengetahui semuanya, Allah Maha berkehendak atas diri kita. Kalau sudah tahu Allah Maha Bekehendak pada diri kita, bergantunglah kepada-Nya atas semua kehidupan kita.

Cara bergantung dan meyakini Allah SWT, buang semua energi negatif yang ada dalam diri. Lalu serahkan kepada Allah Yang Maha Hidup. Ditimpa musibah, bersabar karena Allah. Diberi jabatan, bersikap amanahlah karena Allah, diberi cobaan tawakkal kepada-Nya. Kalau diberi nikmat kesehatan, bersyukur dan manfaatkan untuk ibadah serta memberi manfaat kepada yang lain. Inilah konsep hidup dalam Ayat Kursi terkait dengan Al-Hayyu.

Yang paling penting dalam hidup ini adalah bagaimana mendapatkan percikan Asma Allah Al-Hayyu. Sehingga kita hidup dengan ilmu Allah, hidup bersama kehendak Allah, dan hidup bersama kuasa Allah. Inilah kehidupan yang hidup bagi manusia. Jalanilah hidup dengan mendekat kepada Al-Hayyu. Bersandar dan bertawakkallah kepada-Nya karena Dia tidak pernah mati selamanya. Buat apa mencari kehidupan kepada yang jelas-jelas mati. Mengabdi selama hidupnya kepada orang padahal bukan dia yang memberikan kehidupan. Dalam hal jabatan, harta, karir, pertolongan, jangan sampai kita mengemis kepada orang lain. Mintalah kepada Allah yang Maha Kaya.

Kemudian Al-Qayyuum. Allah terus menerus mengurusi makhluk dan ciptaan-Nya. Allah tidak meminta rezekimu tetapi Dia Yang Maha Pemberi rezeki. Makanya, dalam syariat qurban, Allah tidak meminta daging dan darah dari hewan qurban, yang Allah minta adalah taqwanya. Betapa ruginya orang yang menyembah tuhannya tetapi dia harus menyiapkan sesajian. Kalau makan, ini buat kami dan ini buat sesembahannya supaya bisa makan juga.

Dari Qatadah, maksud terus menerus mengurus makhluk-Nya adalah yang dapat mengurus segala sesuatu di bumi dan di langit. Alam jagad ini  sudah diurus oleh Allah SWT. Namun kita yang kadang-kadang tidak yakin kepada Allah. Atau yakin tetapi setengah-setengah, beriman tetapi percaya kekuatan-kekuatan lain selain dari Allah. Karenanya, jika dilanda sebuah masalah atau kegelisahan, sangat rawan tergelincir ke jalan yang batil. Misalnya, soal jodoh, belum punya anak, jabatan, rezeki, bisnis, dan lainnya, lebih cenderung mendekati setan dengan segala godaannya dibandingkan pasrah dan mendekat kepada Allah. Padahal Allah mengurusi segala-galanya.

Betapa nikmatnya hidup ini jika kita yakin kepada Allah Al-Qayyuum. Ayah atau ibu yang tidak pintar mengurus anak dan tidak bisa mengelola rumah tangga, pasti akan diberikan pengetahuan kalau paham dan yakin kepada Al-Qayyuum. Tinggal ikut aturan Allah SWT dan tawakkal kepada-Nya, Allah yang akan mengurus semuanya.

Betapa tenangnya kita di dunia ini setelah mengetahui Allah yang terus menerus mengurus makhluk-Nya. Allah mengurusi semua kebutuhannya. Ada yang baru bangun tidur, membaca Alhamdulillah alladzi ahyaanaa bakda maa amaatanaa wailahin nusyuur. Begitu dia bangun, Allah kasih keberkahan sebagai percikan atas doanya saat dia terbangun.

Ada yang berangkat pada pagi hari keluar rumah mencari nafkah lalu berdoa, Allah pasti membuka pintu rezeki baginya seperti burung pergi di pagi hari dengan perut lapar, pulang sore hari dengan perut kenyang. Ada yang butuh pertolongan lalu meminta kepada Allah, pasti Allah mudahkan jalannya. Ada yang mau berangkat tetapi keluarganya sakit, minta lagi kepada Allah agar disembuhkan. Mintalah maka Allah akan mengabulkan. Allah tidak pernah berhenti mengurus makhluk-Nya. Tidak lalai, tidak lelah, tidak terlena, tidak tidur, dan tidak mengantuk.

Lalu, apa yang membuat kita enggan meminta dan berharap kepada-Nya? Jangan mengandalkan diri bahwa kita mampu mendatangkan rezeki dengan usaha sendiri. Jangan anggap rezeki datang karena kita bekerja keras. Sungguh Allah Yang Maha Memberikan rezeki, Dia pula yang menahannya.   Begitu banyak orang sekarang ini rajin mengaji tetapi tidak yakin-yakin kepada Allah. Orang seperti ini juga biasanya tidak henti-hentinya menyalahkan orang lain. Padahal berbagai masalah datang melilit dan menimpanya karena pada dasarnya, urusannya dengan Allah tidak pernah selesai.

Menyembah Allah tetapi berbuat syirik juga. Percaya dengan jimat dan mantra-mantra dukun, percaya paranormal, tunduk pada perbintangan dan suara burung, hari baik, dan lainnya. Bagi seorang yang sudah sempurna keimanannya, orang lain mau berbuat apa saja kepada dirinya, tidak ada masalah. Karena dia tawakkal dan menyerahkan segalanya kepada Allah Azza wa Jalla. (bersambung)

Sebarkan Kebaikan!