TADABBUR AYAT KURSI (10) Memenuhi Hak Allah

Ayat Kursi fokus pada pembahasan keagungan Allah yang harus kita pahami dan hayati sehingga layak menjadi ayat agung di antara ayat-ayat lain. Tema Ayatul Kursi pada dasarnya bukan kursi melainkan ayat ini adalah Allah. Dzat, sifat, dan perbuatan Allah dijelaskan dalam sepuluh penggalan kalimat. Dalam ayat ini, Allah disebutkan sebanyak 17 kali.

Supaya gampang diterima oleh makhluk yang sering membandingkan dirinya dengan Allah. Coba lihat kanapa ada liberalisme? Kenapa ada hak asasi manusia? Alasannya, karena manusia ingin menjadikan dirinya sebagai ukuran dan segala sesuatu dalam ukuran itu adalah hak yang merujuk pada ukuran manusia. Itu liberalisme. Di ayat ini kita betul-betul dipahamkan mana hak asasi yang sesungguhnya?

Kita memulai pembahasan ini dengan pertanyaan siapa dulu yang memenuhi haknya? Allah dulu yang memenuhi hak manusia atau manusia dulu yang memenuhi hak Allah? Manusia selama ini apakah telah memenuhi hak Tuhannya? Bahkan kalau ditanya, tahukah apa hak Allah terhadap hamba-nya? Kebanyakan orang tidak sadar padahal setiap saat dia menghirup oksigen yang dibagi rata kepada manusia di mana pun berada. Matahari terus bersinar, tumbuh-tumbuhan terus menerus berbuah. Binatang pun dibiarkan hidup agar manusia memakan dagingnya dan meminum susunya, dan memanfaatkannya.

Allah sudah memenuhi hak kita semua tetapi pertanyaannya, apakah kita sudah penuhi hak-hak Allah? “Maa haqqullahi ‘alal ‘ibaad? Anta’buduhu walaa tusyrikuu bihi syaean.” Hak Allah dari hamba-Nya adalah untuk disembah dan tidak disekutukan dengan sesuatu apa pun. Selanjutnya, mulai dari orang paling pintar sampai orang yang paling bodoh, yang sering menjadikan manusia sebagai ukuran di ayat ini diajarkan bagaimana mengenal Allah oleh Allah.

Bahkan sampai tahapan-tahapannya, yaitu mengenal Allah, memuji, dan menyembahnya menurut Allah. Di antara cara mengenal Allah adalah  menyembah Tuhan Yang Maha Hidup, bukan menyembah tuhan yang mati atau menyembah tuhan yang butuh kehidupan. Allah tidak mati dan tidak butuh kehidupan dari siapa pun. Sebab Allah sendiri yang menciptakan kehidupan itu. Yang namanya hidup yaitu semua komponen hidup. Bukan sebagaimana yang diketahui dari ilmu biologi bahwa definisi hidup adalah tumbuh dan berkembang. Definisi ini sangat umum dan sangat sempit. Kehidupan Allah  memenuhi semua unsur kehidupan yang ada pada zat-Nya, yakni Maha Melihat, Mendengar, Mengetahui, bahkan setiap betikan hati diketahui oleh Allah SWT. Allah Maha Berkuasa, Berkehendak, Mengawasi, Melindungi, Memberikan,  dan sifat-sifat-Nya yang tak terbatas.

Kalau kita merenungi, apakah tuhan-tuhan yang disembah orang-orang kafir itu memenuhi sifat-sifat yang dimiliki oleh Allah atau tidak? Tidak mungkin, karena ada tuhan yang mereka sembah tetapi dibuat dulu. Atau hewan yang mereka sembah. Misalnya menyembah sapi. Sapi bisa mendengar, bisa melihat dan berjalan. Tetapi sapi tidak bisa berbuat apa-apa, bahkan untuk dirinya sendiri pun. Walau sudah dianggap tuhan lalu didewa-dewakan, tetapi saja binatang. Sapi tetap saja butuh kehidupan agar tidak mati. Tapi kalau disembelih, sapi apa yang bisa menolak. Sapi punya telinga, tetapi dipanggil pun tak bisa mendengar apalagi mengerti.

Sebagai kesimpulan, inilah kategori-kategori keagungan Allah dalam Ayat Kursi. Al-Hayyu adalah kategori pemberi kehidupan. Lalu Al-Qayyuum adalah kategori kekuasaan. Laa ta’khudzuhi sinatun walaa naum adalah kategori kekuatan. Lahu maafissamaawati wamaa fil ardhi adalah kategori kepemilikan. Memiliki sekaligus menguasai. Man dzalladzi yasyafau indahu illa bi-idznihi adalah kategori pertolongan mutlak.

Selanjutnya, Ya’lamu maa baina aidihim wamaa khalfahum walaa yuhiituuna biasyaein illaa bimaa syaa-a. Ini adalah kategori pengetahuan.  Ada orang yang berilmu tetapi tidak tahu karena ilmu sesungguhnya adalah alamat untuk mengetahui yang tidak diketahui. Wasi’a kursiyyuhus-samaawaati wama fil ardhi, adalah kategori kebesaran dan keagungan Allah. Walaa yauduhu hifdzuhuma adalah kategori konsistensi. Allah tidak pernah istirahat, tidak lelah, dan tidak pernah berhenti mengurusi makhluk-Nya. Wahuwal ‘Aliyyul Azhiim adalah kategori ketinggian yang tidak pernah tersentuh dan tidak akan pernah tercapai oleh manusia. (Selesai)

Sebarkan Kebaikan!