TADABBUR AYAT KURSI (1) Konsep Ketuhanan

Konsep Ketuhanan

Mau tahu konsep kehidupan yang dahsyat? Kembali ke Al-Qur’an dan tadabburi Ayat Kursi. Di dalamnya mengandung kehidupan yang sangat luas bagi orang-orang menyandarkan hidupnya kepada Allah Yang Maha Hidup. Dia Maha Hidup dan Maha Mengetahui kebutuhan Hamba-Nya, Maha Hidup dan Maha Berkehendak atas keinginan hamba-Nya, serta Maha Hidup dan Maha Berkuasa atas kekuatan hamba-Nya yang sangat terbatas.

Inilah Konsep ketuhanan pada bagian pertama yang akan dibahas dalam Ayat Kursi. Beruntunglah orang-orang yang beriman dengan berpegang teguh pada agama Allah. Dan beruntunglah orang-orang yang hanya menyandarkan hidupnya kepada Allah Yang Maha Hidup, Maha Mengatur semua makhluk-Nya, tidak pernah tidur dan tidak pula mengantuk. Berikut ini tadabbur Ayat Kursi pada bagian pertama, Allahu Laa Ilaaha Illaa Huwa.

Pertama adalah pengenalan tentang Allah yaitu Lafadz Yang Memiliki Keagungan. Allah, Lafzul Jalalah, satu nama yang tidak boleh menggunakan nama ini selain Allah. Allah adalah al-Ma’bud Bihaqqin, yaitu satu-satunya yang berhak disembah dengan cara menghamba atau menyembah. Yang haq di sini berarti kebenaran menurut standar Allah, bukan standar kita. Penyembahan kepada Allah yaitu tunduk, patuh, dan menghinakan diri kepada-Nya. Itulah inti ibadah. Tambahan keterangannya adalah,  isti’badur-ruuh waikhdhaauha lisuuthatin ghaibiyyatin laa tuhiitu biha ‘ilman walaa tudraku haqiiqatuha. (Ketundukan jiwa dan kehinaannya di hadapan kekuasaan Yang Gaib di mana akal dan ilmu pengetahun tidak akan pernah bisa menyingkap dan mengetahui hakikat wujud-Nya).

Allah adalah satu nama yang disematkan kepada zat yang berhak untuk disembah satu-satu-Nya. Yaitu menyembah dengan hati yang tunduk, raga yang patuh, serta sikap-sikap yang menghinakan diri kepada zat dan penguasa Yang Gaib. Disinilah perbedaan mendasar antara keyakinan Islam dan keyakinan agama-agama lain yang sama-sama menyakini adanya kekuatan eksternal. Adanya energi luar dari dalam diri yang kita rasakan dan kita yakini kekuatannya. Tapi tidak boleh menyebut nama lain, misalnya energi dewa matahari atau lainnya. Itu tidak boleh. Nama yang pantas disebut adalah Allah karena Dia sendiri yang menamai diri-Nya dengan nama tersebut. Nama-nama lain Allah seperti Ar-Rahman, semuanya adalah puncak kebaikan (Husnaa). Seluruh Asma’ al-Husnaa menginduk pada Lafdzul Jalalah Allah.  Tidak boleh ada sesembahan lain, selain Allah SWT. Tidak boleh ada nama lain selain nama Dia.

Kedua, penekanan bahwa tidak ada tuhan kecuali Dia (Laa Ilaaha). Artinya, tidak ada ma’bud atau sembahan yang sebenarnya di alam wujud ini (Laa ma’buda bihaqqin fil wujuud siwaa Allah). Laa artinya tidak. Ilaah artinya sesembahan. Yaitu, tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah. Di sini tekanannya adalah lam nafyi (peniadaan). Berarti kita harus bersih hati, jiwa, dan diri dari pemikiran adanya kekuatan lain kecuali kekuatan milik Allah semata. Arti tidak ada di sini adalah tidak ada yang suci kecuali Allah, tidak ada yang punya kekuatan kecuali Allah, tidak ada yang bisa mengalahkan kehendak-Nya, dan tidak ada yang patut dipuji selain-Nya.

Ilaah berkaitan dengan penghambaan atau ibadah. Kepada Ilaah Ada penghinaan diri dan ada kepasrahan. Rabbun berkaitan dengan penciptaan, rezeki, sistem, aturan, dan lainnya. Rabbana dan Allahumma, sama-sama berarti berarti “Wahai Tuhan Kami”, namun penggunaannya dalam doa berbeda. Misalnya, kata Rabbanaa dalam doa Nabi Adam AS, saat ia diturunkan ke bumi karena melanggar aturan. Itu terjadi karena Adam dan Hawa tergelincir akibat godaan iblis yang menggodanya untuk memakan buah huldi. Namun Adam tidak menyalahkan iblis karena dia sudah tahu iblis memang pekerjaannya hanya menggoda dan menyesatkan manusia. Karenanya, Adam dan Hawa diturunkan ke bumi karena melanggar aturan. Lalu Adam bertaubat setelah menyadari kesalahannya. Adam berdoa, Rabbana dzalamnaa amfusanaa fain lam taghfirlana, lanakuunanna minal khaasiriin. Itulah aturan main di dalam surga, Adam dan Hawa mendekati  phon huldi tetapi dia malah memakannya.

Allahumma terkait dengan penghambaan, tunduk pantuh dan menghinakan diri, merasa lemah di hadapan Allah. Kalau kita berdoa dengan Allahumma, yaitu ada ketergantungan yang sangat tinggi yang hanya dipenuhi oleh Allah. Ada cinta, tawakkal, dan kepasrahan yang kita ekspresikan. Inilah bentuk penghambaan kepada Allah SWT, kita yang butuh Allah bukan Allah yang butuh kita. Ketika ruku dan sujud, ada ekspresi rasa cinta dan taat, serta pasrah yang berkecamuk.

Ruh kita membutuhkan Allah untuk ibadah. Firman Allah: “Tidaklah kuciptakan in dan manusia kecuali untuk menyembah kepada-Ku.” Maksudnya, bukan Allah yang meminta disembah tetapi menyembah Allah adalah kebutuhan manusia. Kapan kita merasakan itu? Yaitu ketika membaca Laa Ilaaha Illaa Huwa.  Misalnya, dalam shalat. Ketika takbir, yakini dalam hati bahwa hanya Allah Yang Maha Besar, tidak ada yang besar kecuali Dia. Dalam shalat, kita sedang berhadapan dengan Allah. Ada dialog antara hamba dan Allah. Ketika membaca Alhamdulillahi Rabbil Alamin, Allah membalas hamadaniii ‘abdii. Ketika dibaca Ar-rahmanir Rahim, Allah menjawab, majjadanii ‘abdii, dan seterusnya.

Ketiga, setelah kata peniadaan bahwa tidak ada tuhan (laa ilaaha), lalu disambung dengan penekanan, kecuali Dia yaitu Allah (Ilaa HuwaI). Yaitu, Allahu Laa Ilaaha Illaa Huwa (Allah, tidak ada tuhan selain Dia). Tidak ada yang berhak disembah selain Dia dalam segala hal. Dalam cinta, dalam takut, dalam harap, dalam pasrah, semuanya hanya kepada Allah. Anak kita, cucu-cucu, perlu diajarkan ilmu ini karena mereka juga menghadapi persoalan yang berat-berat. Saudara atau sahabat juga, yang masih bimbang dalam pikirannya, ajarkan banyak-banyak membaca Laa Ilaaha Ilallah. Kata illaa huwa atau illallah (kecuali Allah), adalah penetapan dan pemantapan. (bersambung)

Sebarkan Kebaikan!